[2] Tafakkur, sekitarmu

Banyaknya aktivitas membuat kita kadang tak peduli sekitar, sedikitnya kegiatan mengarah pada pembuangan kesempatan, potensi dan umur. Tapi dengan normalnya hari, bisa membuat kita juga lupa bahwa alam sekitar bergerak dengan sinergi yang manis, teduh dan taat pada pencipta alam semesta. Sudah beberapa bulan ini mengendarai sepeda motor, di sebuah persimpangan lampu merah memaksaku menghentikan laju. Angin mendayu, sebuah bangunan tertinggi di Kota Kaohsiung menatapku pedih, mungkin ia sedikit bergumam, “hey kau, liat aku, liat sekitarmu kami semua bergerak sepertimu, bertafakurlah!”.

Suasana mendung dan angin yang masih mendayu-dayu menepuk punggungku, hidup itu fana…sementara…, maka gunakanlah untuk melihat sekitarmu, merasakan ritme dan bersyukur dengan segala pencapaian, bukan hanya pencapaianmu tapi keluargamu, saudaramu, bahkan teman-temanmu yang mungkin kini menembus ekspektasi dirinya dulu, mereka bertumbuh. Mungkin semestinya beginilah kita melihat alam, bukan terpojok oleh gadget di kendaraan, moda umum sambil memberikan ruang jari untuk menari di atas layar sentuh.

Mungkin semestinya kita perlu sebentar melihat gerak sesama, melihat dunia bertumbuh dan merenovasi sekitarnya. Dari sanalah kita menemukan para pencari ide bercokol, mewujudkannya menjadi kesempatan, memberdayakan orang-orang sekitar. Demand, opportunity dan challenge hadir dari kekhawatiran dan keinginan berbuat sesuatu yang baru, cari…renung…wujudkan!

Wallahua’lam

[K]

12. September 2014 by Mr.K
Categories: Kontemplasi | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *