[SQ] Berkelebatnya Khilaf

Hari ini sungguh indah bagi kaum muslimin, karena Jum’at adalah hari terbaik dengan pakaian terbaik dan suguhan terbaik pula. Selepas membaca sedikit tentang tafsir Surah Al-Adiyat sepanjang perjalanan menuju masjid, aku harus segera bergegas untuk mencari shaf terbaik. Aku menyadari satu hal bahwa instrospeksi diri secara berkala seperti yang disampaikan Umar ibnul Khattab adalah sangat tepat adanya.

Allah ketika kita mengadakan instrospeksi(muhasabah) berkala, sebenarnya telah menyampaikan kisi-kisi muhasabah itu sendiri. Apa yang harus dimuhasabahi?, dimana kelalaian yang umum bagi manusia kerdil seperti kita?, apa yang membuat kita ingkar?. Seketika selepas shalat Jum’at kali ini aku seolah diaduk rasa, rasa akan kesalahan pada Rabb yang kadang lalai menunaikan ibadah pada-Nya. Rasa sering lalai untuk mengingat atau jangan-jangan aku terkadang ingkar akan nikmat-Nya sedari kesehatan jasad hingga ruh. Selepas Tahyat akhir dan ditutup dengan Salam, tangan ini seolah bergerak dan mendekati tangan saudara muslim di kanan dan kiri, kudapati Muslim dari Gambia begitupula dari Taiwan. Tak hanya itu, seorang lagi dengan wajah teduh sembari menggenggam erat tanganku,

Mai aina ente?

Alhamdulillah aku tak kagok, karena pernah sekelebat belajar pengantar bahasa Arab dulu, langsung jawabku ^^,

Indonesia…

Ana, Oman… begitu jawabnya.

Aku terhenyak lagi, bahwa apalagi yang kurang tentang kebersamaan dalam iman?, namun iman itu harus senantiasa dibangun agar tegar akarnya. Hamka berujar, belumlah disebut iman, kalau ketika ujian itu hadir ia tidak mampu melewatinya dengan Iman yang sudah ada pada dirinya. Kini patut bertanya lagi, apakah aku termasuk mereka yang ingkar seperti tegasnya pernyataan di pertengahan hingga akhir surah Al-Adiyat.

إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ [١٠٠:٦
Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,

وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ [١٠٠:٧
Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ [١٠٠:٨
Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.

أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ [١٠٠:٩
Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,

وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ [١٠٠:١٠
Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada,

إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ [١٠٠:١١
sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.

Aku tutup dengan tadzkirah dari Sayyid Quthb di tafsir Fi Zilalil Quran-nya di penghujung tafsir surah ini,

Sesungguhnya, manusia tanpa iman adalah hina dan kecil. Hina keinginannya dan rendah cita-citanya. Meski bagaimanapun besarnya hasrat dan cita-citanya serta tingginya sasaran yang hendak  dicapainya, toh ia akan menukik pula ke lumpur bumi, terikat dengan batas usia, dan terpenjara di dalam penjara dirinya sendiri.

Alam yang berasal dari Allah  yang abadi. Dengan iman, dunia akan berkesinambungan  dengan akhirat tanpa berkesudahan.

Wallahua’lam

[K-SQ]

07. December 2012 by Mr.K
Categories: commons story, Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *