[TRPe] Beranjak Sore

Waktu itu hari sudah beranjak sore kala pak Parman mengayuh sepeda ontelnya. Sore itu ia berjanji tak terlambat lagi membawakan pesanan bubur hangat pada salah seorang konsumen, pelanggannya yang sudah lama menikmati evolusi bubur hangat pak Parman. Ya, sudah 15 tahun lamanya ia berdagang bubur sore untuk warga kampungnya. Sepulang mengajar di SD Negeri 12 tempat ia dulu juga mengenyam pendidikan, ia bergegas mengambil 15 hingga 20 porsi bubur hangat yang ditaburi seledri, ayam suwir dan bawang goreng. Istrinya yang pendiam, sekira pukul 15.30 sudah siap sedia di depan pintu rumah menunggu suaminya yang akan mengambil bubur2 itu. Memang kadang pak Parman terlambat tiba di rumah karena harus menyiapkan pelajaran keesokan harinya, namun istrinya selalu siap sedia, disiplin dan menunggu dengan rindu di depan rumah, selalu, pukul 15.30.
Kalau sudah dirasa terlambat pak Parman langsung sigap memberikan tas cokelat pada istrinya dan mengambil bungkusan bubur di tangan kiri istrinya.

Hari-hari terus ternikmati oleh rutinitas, ini bukan hanya tentang konsistensi berdagang ala pak Parman, bukan pula hanya tentang istrinya yang siap sedia tapi lebih dari pada itu, ada EVOLUSI bubur ayam hangat itu pasca 15 tahun mereka mengais rejeki. Evolusi rasa, kelembutan racikan menandakan adanya keinginan memuaskan pelanggan, ketulusan dalam meraciknya lalu berimbas pada keuntungan yang sekali lagi hanyalah IMBAS.

Benar kiranya, kita hanya bekerja dan berusaha serta memoles kinerja itu makin baik dari satu unit waktu ke unit waktu berikutnya. Selepasnya biarlah sang penggenggam nyawa yang memutuskan perlukah kita mendapatkan seluruh balasan upaya itu atau perlahan namun pasti.

Wallahua’lam
[K]

16. December 2013 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *