TRP-Sepertiga dan Keserasian

Bergidik bulu romaku kala tengah malam buta itu kudapati mereka. Seorang kakek tua dengan Radio butut yang ia sematkan di pinggangnya. Terdengar lagu lawas di channel lawas khusus mendendangkan lagu romantisme 60-an. Di sebelahnya, seseorang nenek tua dengan raut yang sama, tengah asyik membersihkan gelas-gelas plastik, disusun rapih di plastik hitam agar nanti kala masuk ke pihak oplosan tak sulit lagi dan mudah melihat berapa kilo capaian mereka hari itu. Si kakek tua, masih dengan sigap menyaring sampah demi sampah di pembuangan umum sekolah itu, terkadang ia perlu berjinjit melihat lagi apakah ada gelas, kotak atau bahan-bahan sisa dan yang bisa dijual serta didaur ulang. Si nenek tak kalah sigap, ia rapihkan semua, lalu aku terduduk, sengaja dalam gelap kala ia perlahan mengeluarkan sajadah kusut dari dalam tas reot yang warna benangnya sudah pudar sepudar rembulan yang ditutupi awan mendung di malam syahdu itu. Seraya merapihkan dua sajadah kusut itu, si kakek tua bergegas mengambil wudhu di keran terdekat, ia basuh perlahan semua tubuhnya, ia kucek matanya sesaat dan menubrukkan air tiga kali ke mukanya. Raut wajahnya yang tak kencang lagi, menyisakan satu bukti, ada ketegaran yang tak biasa kala kulihat dari jauh, ia mulai melempar senyum pada kekasihnya, pertanda shalat di sepertiga malam itu akan dimulai.

Sujud demi sujud terlaksana, surah-surah sedang hingga pendek terbacakan, ruku’ demi ruku’ di jalanan dekat pembuangan umum itu seakan menyinari malam itu, kala Rabb turun ke arasy terdekat, mencari hambanya yang menyinari malam, di sepertiga, seperdua atau lebih sedikit. Pelan, sedikit berbisik terdengar alunan do’a terstruktur, pelan namun tertata, perlahan nenek tua disampingnya mulai dengan sigap meng-aminkan doa demi doa yang tersampaikan. Rintihan, air mata mulai tumpah, nenek mulai mendekat, ia mengusap perlahan punggung sang kakek yang perlahan menghela nafas yang dalam. Kucoba mendekat dalam keheningan malam itu, kucuri dengar permintaannya sebelum mengusap kedua tangan ke mukanya,

Rabb, waktu kami, kau yang tau..Rabb nanti siapapun yang kau panggil terlebih dahulu, sematkan keteguhan bagi kami lalu jika Kau berkenan, pertemukan kami di jannah-Mu sembari meneguk air kafur berwarna putih dan sedap harumnya atau kami berkunjung ke Salsabil, mata air surga-Mu.

Keduanya mengusap perlahan kedua tangan ke muka dengan ucapan amin yang bersahaja, serasi dan saling mengisi.

Aku mulai menjauh, agar tiada kemesraan yang terusik, namun aku mulai terusik dengan keadaan bahwa hidupku belumlah sesempurna mereka, sang penikmat sepertiga malam, hingga tercipta keserasian yang absolut dan saling melengkapi.

إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا [٧٦:٥
Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur,   

عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا [٧٦:٦
(yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.

Wallahua’lam
[K-TRP(Tulisan Rutin Pagi)]

02. May 2012 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *