TRP-Cover

Keduanya ibarat pembungkus dalam keseharian, dalam gelap atau terang dalam ketergesaan atau kesyahduan. Dalam keseharian ada saja dinamikanya, kadang kosong kadang penuh namun kadang pula fluktuatif. Terlalu lama dalam kekosongan aktivitas akan memberatkan memulai lagi suatu yang menyibukkan. Sepertinya ada keengganan atau mungkin kebutuhan untuk rehat di kedai kopi, sejenak tuk menyegarkan.

Syukur dan sabar ibarat pembungkus keseharian, tinggal memilih apakah keduanya yang membungkus hari-hari atau memilih kebalikannya dalam menutup hari yang kian sebentar saja. Kufur atau ketidaksabarankah yang kita ambil sebagai teman?, kalau begitu bagaimana dengan nikmat yang tidak terbatas dari Rabb dan kesabaran-Nya dalam fluktuatifnya iman kita. Kadang bermaksiat, kadang bertobat lalu melakukan lagi, sudikah kiranya kita merenung sesabar apa Rabb dalam melihat kondisi fluktuatif iman hamba-Nya?, sulitkah Ia membinasakan kita?, tidak pembaca.

Syukur dan sabar ibarat teman dekat, kala bersama seolah merindu kadang pula bercengkerama menebar senyum yang tiada pernah putus,

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ [٥٥:١٣
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Kita simak untaian Zero Nasyid,

“Yang benar terkadang samar, yang salah tak pernah sadar…”

Semoga saya dan pembaca termasuk yang sadar ketika salah, walaupun yang benar ada baiknya disamarkan agar tidak tinggi hati.

Wallahua’lam

[K-TRP(Tulisan Rutin Pagi)]

15. December 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *