TRP-Bump

Terkadang perlu tubrukan agar bisa mendeteksi konflik dan imbas, kadang perlu tubrukan agar bisa menilai kemungkinan apakah berdampak sistemik atau temporal karena pengalaman menyelesaikan konflik berujung pada kemapanan berpikir, positioning dan ketepatan aksi.

Hidup tidak selamanya mulus, bahkan iman seseorang belumlah dinilai baik jika belum hadir padanya ujian dan latihan. Oleh karenanya pasca perang Badr, Rasulullah mengingatkan pada ahlul badr yang nama dan perlakuan senantiasa berbeda setelahnya, dengan peringatan bahwa peperangan melawan hawa nafsu lebih besar dari ghazwah badar. Begitupula bagaimana penyesalan para sahabat yang terlambat berpartisipasi dalam dakwah, setelahnya ada Suhaib, Umar bin khattab dan Ka’ab bin malik yang mengakselerasi peran setelah keterlambatan di beberapa tempat. Umar pasca ketertinggalan keislamannya dibandingkan assabiqunal awwalun (yang mula-mula masuk Islam), terus mengejar kemapanan berislam hingga pada akhirnya terkejar, kala ia bergantian dengan sahabat ansharnya untuk ikut taklim Rasulullah saw. di masjid Nabi lalu pergantian itu membuahkan hikmah, bahwa keduanya harus saling bergantian mendengar dan mengajarkan ilmu yang didapat secara bergantian, hasilnya jelas,

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an”

Umar memiliki kemapanan kualitas keimanan yang setara dengan sahabat yang mula-mula masuk Islam, karena ia belajar lalu mengajar teman ansharnya, begitu pula sebaliknya.

Kadang tubrukan-tubrukan dalam hidup memapankan cara berpikir, ada yang melawan arus kenormalan ada pula yang mengambil posisi tidak populer ada pula yang tenang namun solutif, semua buah dari tubrukan-tubrukan masa lalu. Oleh karenanya, pembaca bisa melihat pada kondisi yang sama ada yang tenang ada pula yang gelisah, karena tubrukan sebelumnya yang berbeda lalu cara berpikir menghadapi masalah menjadi imbasnya. Dengan adanya tubrukan kita lalu memahami bahwa tubrukan setelahnya tak boleh identik, masalah harus more advance , masalah harus diperbaharui karena mereka yang senantiasa jatuh ke lubang tubrukan, masalah dan polemik yang sama, berarti tidak mempelajari dan menyelesaikan masalah sebelumnya. Jadi kalau begitu apa bedanya dengan keledai senantiasa jatuh di lubang yang sama?

Tubrukan setelahnya menjadi warna, menjadi kebutuhan dalam kemapanan berpikir, karena apa perlunya hidup jika tidak solutif  dan apa perlunya hidup jika hidup senantiasa tenang, statis dan tanpa interupsi, interference atau bahkan hasutan. Karena tubrukan selalu berbuah manis, tergantung treatment apa yang kita pilih untuk menghadapinya.

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ [٣٩:٢٧
Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.

Wallahua’lam

[K-TRP(Tulisan Rutin Pagi)]

30. December 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story, Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *