Berat yang nantinya Meringankan

Tubuh seakan berat, sakit kepala seolah hendak berlama-lama…

Gontai bukan alasan, kenapa harus menangis kalau tegar masih memungkinkan…

Nikmatnya lelah kalau ada hasilnya, tapi bukanlah kegagalan kalau ia belum juga kesampaian. Hidup adalah seni, seni memahami setiap kejadian, kegiatan dan realisasi cita-cita. Selama masih berpegang dan menggigit erat-erat pada kebenaran, semua kejadian adalah penting, tidak kebetulan dan memiliki hikmah. Baru saja menyampaikan sebuah materi berjudul “Masa Depan Milik Islam”, memberikanku sebuah ingat yang kadang tersapu ombak kesibukan fana, lagi mengaburkan. Kadang kita lupa bahwa sudah berada di jalur yang benar, The way of life, yaitu Islam. Begitupula kadang kita lengah bahwa untuk membersihkan jalur itu, mesti ada kesungguhan amal, keterikatan hati pada Rabb dan kelanggengan usaha. Berapa banyak orang meminta tanpa ada upaya maksimal, berapa banyak orang bergelimang harta namun lupa bersyukur dan merenung akan nikmat yang diberikan oleh-Nya.

Beberapa tetes air mata keluar tanpa izin, tahlil terus menggerakkan lidah, lisan malu-malu mengucap… hening walau ayat demi ayat di shalat tarawih masih berjalan. Aku sampai pada keheningan terbatas, perenungan berujung hasil, BAHWA setiap kejadian walau berulang, bisa jadi adalah pengingat agar terus ingat, bukan ingat kala sulit tapi ingat pula kala senang. Nafas ringan dan berat telah tercatat di lauh mahfuz, kabar gembira telah tergores abadi di kalam-Nya, khusus untuk yang bertakwa. Kini, siasat berujung ketahanan, mensiasati hari-hari Ramadhan yang tersisa, mampukah batin menguat, mampukan fisik memampukan semangat tak padam?.

Rabb, cintaMu untuk para shalih dan shalihah, Rabb izinkan kami satu diantaranya walau angin godaan kadang memaksa kami terjerembab malu.

Wallahua’lam

[K]

09. July 2014 by Mr.K
Categories: Uncategorized | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *