Me on Magz

This page has aim to put all my writing collection that have been published. Please be informed, it’s not about science publication but most of them are all about the best faith ever, Islam.

Anshar dan logika umum hari ini (Majalah SALAM, Taiwan Ed.Mei 2011)

Siapa anshar?, mereka adalah kaum yang rela berkorban. Anshar adalah kaum yang rela berbagi harta dengan kaum yang terusir dari negaranya demi eksistensi iman. Anshar adalah kaum yang menerima dengan cinta akan kedatangan tamunya, kaum muhajirin. Anshar adalah kaum yang rela membagi hartanya dengan kaum yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Anshar adalah kaum yang rela membagi istri-istrinya kepada kaum muhajirin yang hijrah. Anshar adalah kaum yang berdiri paling depan untuk membantu kaum muhajirin serta Anshar adalah kaum yang berada pada baris paling belakang saat pembagian ghanimah(harta rampasan perang), itulah Anshar. Siapa anshar?, apa yang mereka lakukan sungguh tidak memasuki logika umum, mereka ibarat penyambut tamu yang tidak jelas darimana dan keturunannya, anshar adalah penyambut tamu para muhajirin yang harus rela meninggalkan jabatan dan tahta di lembah bakkah (makkah), kenapa anshar menerima dengan cinta kaum muhajirin yang secara kasat mata tak ada prospek kerjasama yang menguntungkan dilihat dari sisi dunianya?.

Muhajirin?, siapa muhajirin?, mereka adalah segerombolan kaum yang berisi Bilal berketurunan negro (habsyi), ada Abu bakar yang asli Arab serta disana ada sahabat-sahabat lain yang mentereng di jazirah Arab namun ketika hijrah mereka menanggalkan kemewahan dan status kemuliaan dunianya. Kenapa muhajirin diterima?

Pembaca yang budiman, semuanya terlihat tidak masuk akal dan ia sulit diterima dengan logika umum yang ketat dan salah aturan hari ini. Ketika standar kemuliaan bukan lagi seperti yang ALLAH SWT sampaikan,

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar dan yang beriman kepada ALLAH (Ali Imran : 110)

Adakah yang sulit menelaah ayat diatas?, ketika kita sudah salah menginterpretasi kualitas, padahal umat terbaik adalah ketika iman menjadi patokannya bukan lainnya. Begitulah keyakinan Anshar, suatu kaum yang mulia. Kaum yang tidak tergolong asabiah itu (fanatik akan kesukuan dan kekabilahan), namun ia adalah kaum yang berlandaskan keimanan dan paham betul dengan firman ALLAH:

Hanya saja orang-orang beriman itu adalah bersaudara seluruhnya.

Ya ALLAH, indah sekali kalam-Mu dan sungguh mulia kaum Anshar yang berada dalam naunganMu dan iman yang mumpuni lagi teguh itu. Saudaraku, begitulah kehidupan dengan iman, ada keteguhan yang sangat dalam menegakkan aqidah, ada kemampuan yang luar biasa dalam membedakan yang mana hak dan mana yang batil. Lalu, ada keteguhan dalam melaksanakan perintah Rabb dan instruksi Rasul-Nya secara utuh tanpa keraguan, layaknya Abdullah bin ubay yang merelakan kembali ayahnya masuk ke Madinah pasca instruksi Rasulullah SAW, layaknya Ali dengan keridhaannya menerima instruksi menggantikan Rasulullah di ranjangnya ketika detik-detik hijrah lalu apa kita lupa akan kisah ketundukan Khalid bin Walid sang saifullah yang diturunkan sebagai pimpinan perang tuk mencegah taklid buta atas instruksi amirul mukminin, Umar bin Khattab R.a. Semuanya bergerak pada skup pemikiran yang sama, semuanya bergerak untuk kepentingan iman bukan kepentingan temporal yang melenakan seperti kaum kafir yang diberikan keindahan dunia untuk sementara waktu, mereka mencoba melakukan makar namun makar ALLAH SWT lebih digdaya darinya.

Saudaraku, begitulah generasi awal memainkan peran, begitulah Abu bakar dari bangsa arab, Bilal dari keturunan negro, Suhaib dari bangsa Romawi dan Salman al farisi dari Persia, semuanya berbeda dari kesukuannya namun mereka satu dalam akidah dan iman, mereka dan para generasi-generasi awal yang senantiasa mengutamakan iman dari yang lainnya, serta menjemput kemuliaan yang dijanjikan oleh Rabb sekalian alam,

Mereka itulah orang-orang yang ALLAH telah tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun puas terhadap limpahan rahmatNya. Mereka itulah golongan ALLAH. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan ALLAH itulah golongan yang beruntung.

(Al mujadilah : 22)

Sehingga terkadang logika kita sudah diselimuti kesalahan interpretasi, padahal semuanya adalah logika islam yang tiada salah dan kelirunya.

Kepada para saudaraku, aku adalah saudaramu dan begitu pula kau adalah saudaraku, salam cinta untuk mereka yang teguh dalam imannya tanpa kaku memperlihatkan identitas mulianya. Rabb sampaikan salam kami pada kaum Anshar dan Muhajirin, sampaikan salam kami pada generasi terbaikmu..

Semoga ALLAH SWT mengizinkan kita senantiasa berada dalam barisan iman dan mengambil hikmah pengorbanan dan ketakwaan seperti Anshar.

Wallahua’lam

K

 

  • Pesan untuk pemuda bagian 1 (Majalah SALAM, Taiwan Ed.Juni 2011)

Sebuah kekuatan yang didambakan untuk muncul hari ini adalah kekuatan iman, kekuatan yang bisa mengalahkan kekuatan dan persekongkolan untuk menghancurkan umat dari segala aspek kehidupan. Kekuatan itu haruslah suatu kekuatan yang konsisten yang menyegarkan kembali kebiasaan umat dan yang membangun kembali perilaku umat serta yang membuat para pelaku makar kehidupan, mundur perlahan karena iman yang menghujam di setiap insan yang hidup, di setiap insan yang berislam seutuhnya. Sehingga untuk membangkitkan kembali shahwah islamiyah, kita membutuhkan pemuda yang dekat dengan Tuhannya, melebihi kedekatan pada selainnya.

Pembaca yang insyaALLAH senantiasa dirahmati ALLAH, hari ini kita melihat banyak pemuda yang waktunya terbuang sia-sia, hari ini juga kita mudah menyaksikan kebiasaan pemuda yang terlalu jauh menyimpang dari agamanya, serta hari ini juga kita secara kasat mata bisa melihat suatu keadaan dimana redupnya iman dalam relung jiwa para pemuda. Ada apa dengan pemuda?, apa yang pemuda lakukan di hari-harinya yang sepatutnya menjadi hari-hari yang efektif dan berdaya guna?. Sekali lagi kita patut bertanya ada apa dengan pemuda hari ini?

Pemuda memiliki tempat khusus dalam islam karena pemuda menjadi patokan jaya atau tidaknya peradaban kedepan. Sehingga kita bisa dengan mudah menentukan jaya atau tidaknya suatu bangsa, dari kondisi pemuda di Negara tersebut, untuk apa hari-harinya dihabiskan, maksiat atau senantiasa dekat dengan Tuhannya?. Karena fase pemuda adalah fase satu-satunya yang berada pada fase kuat dan ia adalah fase yang diapit oleh 2 fase lemah, seperti yang ALLAH SWT firmankan,

Jadi keberadaan pemuda yang beriman adalah suatu keniscayaan untuk kembali merasakan keindahan berislam dan merasakan kembali kejayaan islam di segenap aspek kehidupan layaknya islam ketika jayanya di abad pertengahan. Di abad pertengahan islam menguasai hampir seluruh dunia, Afrika, Asia bahkan Eropa. Untuk itulah kita perlu membahas peran pemuda di zaman modern ini dan melihat kebelakang sejenak, bagaimana generasi awal memainkan peran ketika mudanya. Islam sangat menitikberatkan masa remaja atau muda, selain ayat diatas ALLAH secara khusus akan mempertanyakan masa muda di hari Kiamat, yaitu ketika timbangan ditegakkan, dan buku catatan amal perbuatan selama hidup dibagi-bagikan, sedangkan Tuhan seru sekalian alam berdiri untuk melakukan perhitungan. Kala itu ada 4 pertanyaan pokok yang disampaikan kepada umat manusia. Dua diantara keempat pertanyaan tersebut terkait dengan kehidupan dan usia seseorang; secara umum, dan khususnya masa remaja. Dalam sebuah hadits disebutkan,

Tidaklah akan bergeser kaki seorang hamba di Hari Kiamat kelak sampai ditanya empat hal; tentang usianya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa dipergunakan, tentang harta dari mana di dapat dan untuk apa dinafkahkan; dan tentang ilmu untuk apa diamalkan (HR.Al-Baihaqi)

Jadi pemuda memiliki porsi khusus hingga hari perhitungan kelak, jadi tidak ada alasan lagi, para pemuda haruslah yang paling efektif lakunya dan paling produktif dalam mewujudkan satu lingkungan yang baik. Islam dalam generasi awal memiliki banyak pemuda yang menonjol, mereka adalah pemuda yang saleh dan diandalkan dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW di masa mudanya adalah seorang yang dijuluki al-amin, sebuah gelar yang spesial di hati masyarakat jazirah arab ketika itu, Muhammad muda adalah Muhammad yang sangat dipercaya, yang berada pada kafilah dagang yang sukses dan penggembala kambing yang bersinar dibanding lainnya. Muhammad muda adalah Muhammad yang tangguh walaupun di masa mudanya ia sudah ditinggal wafat ayah, ibu dan kakeknya yang senantiasa menyayanginya. Di suatu masa, di era jahiliyah, Muhammad muda pun adalah pemuda yang mendapat kepercayaan para kabilah-kabilah atau suku-suku yang berdiam di jazirah arab untuk menyelesaikan masalah yang tidak berujung.

Ketika itu, usia Rasulullah SAW sekitar 35 tahun, belum memasuki masa kenabian, kaum quraisy memutuskan untuk melakukan pemugaran ka’bah, hal itu dilakukan karena dinding-dinding yang ada saat itu hanya setinggi manusia dan tidak ada atapnya. Masing-masing kabilah bekerja sesuai pembagian tugas yang telah ditetapkan. Setelah dinding-dinding itu cukup tinggi, sampailah pada tahap peletakan kembali Hajar Aswad di pojoknya. Perdebatan pun merebak di antara mereka. Masing-masing kabilah ingin mendapat kehormatan mengangkat Hajar Aswad dan meletakkan pada tempatnya semula. Salah seorang yang tertua usianya di antara orang Quraisy mengajukan solusi, tunjuklah seorang penengah dari orang pertama yang memasuki gerbang masjid (dalam bahasa arab, masjid adalah tempat bersujud) pada hari ini. Mereka setuju dengan usulan orang tua itu.

Ternyata, orang yang pertama kali masuk ke masjid adalah Muhammad yang baru saja kembali ke Makkah. Melihat kehadirannya, mereka serentak dan spontan mengakui bahwa Muhammad adalah orang yang tepat untuk tugas itu. Kedatangannya disambut dengan ekspresi kepuasan. “Dialah al-Amin,” kata beberapa orang. “Kita rela menerima putusannya,” kata yang lainnya, “dia adalah Muhammad.” Ketika duduk persoalannya telah jelas, beliau berkata, “Berikanlah kepadaku selembar selimut.” Setelah mereka memberikannya, beliau membentangkan selimut itu di tanah. Lalu beliau mengambil dan meletakkan Hajar Aswad di tengah kain itu. “Silakan masing-masing kabilah memegang ujung selimut itu,” katanya. Kemudian, mereka secara serentak mengangkat batu itu. Setibanya di tempat penyimpanan Hajar Aswad, Muhammad mengambil batu itu, lalu meletakkannya di pojok. Pemugaran Ka’bah pun dilanjutkan hingga selesai.

Sehingga pemuda, haruslah memberikan solusi dan memiliki visi untuk mempersatukan, layaknya Rasulullah SAW yang sebelum kenabiannya sudah menjadi kepercayaan jazirah arab.

Para pembaca, di akhir tulisan kali ini marilah kita sejenak merenungi syair Abu Atahiyyah:

“Sesungguhnya masa muda

Kekosongan (menganggur)

Dan kemewahan (harta kekayaan) sangatlah merusak sesesorang”

Kemewahan dimaksud adalah ketersediaan harta dan materi, sehingga apa saja yang diinginkan bisa dipenuhi.

Kekosongan dimaksud adalah kekosongan waktu dan kekosongan jiwa dari dukacita kehidupan(menganggur).

Karena itu, kekosongan pemuda harus diisi. Jangan membiarkan waktu kosong. Isilah waktu luang dengan berbuat kebajikan, olahraga, hal yang bersifat mendidik, spiritual maupun keagamaan. Kita harus mampu mematrikan cita-cita dan keinginan yang sangat mulia dalam kehidupan.

Pemuda islam, bangkitlah!

Wallahua’lam

[K]

 

  • Pesan untuk pemuda bagian 2 (Tamat) (Majalah SALAM, Taiwan Ed.Juli 2011)

Di bagian kedua tulisan berjudul pesan untuk pemuda ini, kita akan melihat bagaimana seorang sahabat bernama Abdullah bin Abbas yang di masa mudanya sangat cemerlang. Namun sebelum kita memasuki kisah indah dan inspiratif Abdullah bin Abbas, ada 2 buah syi’ir Arab yang sangat baik untuk direnungkan oleh kita, para pemuda. Bait syi’ir pertama diucapkan oleh Thorfah bin Al ‘Abd, salah seorang penyair di zaman jahiliyyah:

إِذَا الْقَوْمُ قَالُوْا مَنْ فَتَى؟ خِلْت   أَنَّنِيْ عُنِيْتُ فَلَمْ أَكْسَلْ وَلَمْ أَتَبَلَّدِ

Bila orang bertanya : “Siapa pemuda? Saya membayangkan akulah yang dimaksud, karenanya, saya tidak bermalas-malas dan tidak membodohi diri.

قَدْ رَشَّحُوْكَ لأَمْرٍ لَوْ فَطِنْتَ لَهُ   فَارْبَأْ بِنَفْسِكَ أَنْ تَكُوْنَ مَعَ الْهَمَلِ

Orang-orang telah mencalonkan kamu untuk suatu urusan, kalau saja kamu tahu. Maka jagalah dirimu jangan sampai engkau termasuk orang-orang yang lalai.

Dari syi’ir indah diatas tentang pemuda, bolehlah kita mengambil 3 hikmah penting bahwa pemuda adalah mereka yang tidak bermalas-malasan, senantiasa mencari ilmu dan melaksanakan setiap amanah yang diembankan dengan penuh semangat dan terpercaya. Untuk melengkapi semangat pemuda hari ini, mari kita simak kisah seorang sahabat Rasulullah SAW yang juga sepupu beliau, Abdullah bin Abbas.

Ada kesamaan antara Abdullah bin Abbas dengan Abdullah bin Zubair. Keduanya berjumpa dan berinteraksi dengan Rasulullah saat keduanya masih kanak-kanak. Saat Rasulullah wafat, Abdullah bin Abbas belum beranjak dewasa. Namun, dialah orangnya yang sejak kecil telah menerima kerangka kedewasaan dan prinsip hidup dari Rasulullah SAW, di mana beliau sendiri memberikan perhatian khusus kepada Abdullah bin Abbas: mendidiknya dan mengajarkan hikmah kepadanya. Ia adalah putra Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Abbas adalah paman Rasulullah SAW.

Ia dijuluki “Habr” (Ulama umat ini) karena akal pikirannya yang cemerlang, hatinya yang bersih dan pengetahuannya yang luas. Sejak kecil, Abdullah bin Abbas telah mengetahui jalan hidupnya, dan semakin bertambah setelah Rasulullah mengelus pundaknya dan berdoa,

Ya ALLAH, ajarkan kepadanya ilmu agama dan takwil.

Meskipun saat Rasulullah wafat ia baru berusia 13 tahun, tapi sejak kecil ia selalu hadir dalam majelis ta’lim beliau. Ia tidak mau masa kecilnya berlalu sia-sia. Setelah Rasulullah wafat ia sangat gigih mempelajari Islam dari para sahabat, terutama yang belum sempat ia pelajari dari Rasulullah. Di benaknya sudah tertanam tanda tanya besar, sehingga ia mendengar ada seseorang yang mengetahui suatu hikmah atau menghafal suatu hadits, ia segera mendatangi orang itu dan belajar darinya.

Otaknya yang cemerlang dan selalu haus mendorongnya untuk meneliti setiap yang didengar. Ia tidak hanya menghimpun pengetahuan, tetapi juga meneliti sumber-sumbernya. Ia pernah menceritakan pengalamannya, “Aku pernah bertanya kepada tiga puluh orang sahabat Rasul SAW mengenai satu masalah.”

Ia juga pernah menggambarkan kegigihannya mencari ilmu, “Setelah Rasulullah wafat, aku berkata kepada seorang pemuda Anshar, ‘Marilah kita bertanya kepada para sahabat Rasulullah, selagi jumlah mereka saat ini masih sangat banyak.”

Pemuda itu menjawab, “Kamu ini aneh sekali, Abdullah. Apakah kamu kira orang-orang akan membutuhkanmu, sementara di antara mereka masih terdapat para sahabat?”

Pemuda itu pun pergi, sementara aku tetap bertanya kepada para sahabat.

Aku pernah mendengar bahwa seorang sahabat memiliki satu hadits. Maka kudatangi rumahnya. Saat itu, ia sedang tidur siang. Ku-bentangkan kainku di depan pintunya untuk duduk. Aku terus menunggu hingga tubuhku penuh debu yang diterbangkan angin. Ketika ia sudah bangun lalu keluar rumah dan mendapatiku, ia berkata “Hai sepupu Rasulullah, apa yang membuatmu datang ke rumahku? Andai saja kau utus orang memberitahuku, aku akan datang ke rumahmu.”

Aku berkata, ”Tidak! Engkau yang lebih pantas didatangi. Aku ingin belajar hadits darimu.”

Begitulah. Pemuda kita ini tidak berhenti bertanya lalu mencermati dan mengkaji jawaban yang didapat dengan otak yang brilian.

Dari hari ke hari pengetahuan dan ilmunya berkembang pesat, hingga dalam usianya yang masih muda, ia telah memiliki sikap bijak, kehati-hatian dan kebersihan pikiran para orang tua. Sampai-sampai khalifah Umar bin Khaththab selalu melibatkannya dalam memecahkan setiap masalah besar. Ia menjulukinya “Pemuda yang sudah tua”.

Seorang muslim penduduk Bashrah melukiskannya pula sebagai berikut. Saat itu, pada masa pemerintahan Khalifah Ali, Abdullah bin Abbas menjadi gubernur disana,

“Ia mengambil 3 perkara dan meninggalkan 3 perkara.

  1. Mengambil hati saat berbicara.
  2. Mengambil pendengarannya saat orang lain bicara.
  3. Mengambil yang paling mudah jika terjadi maslah.

Lalu ia

  1. Meninggalkan perdebatan tanpa ujung.
  2. Meninggalkan berteman dengan orang-orang tercela.
  3. Meninggalkan hal-hal yang semestinya dijauhi.”

Dari kisah diatas, kita bisa mengambil pelajaran yang sangat banyak bagaimana seharusnya karakter seorang pemuda islam, mereka haruslah brilian , menjauhi yang tidak baik dan gigih mencari ilmu serta memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Para pembaca,

Mari kita renungkan sejenak, siapkah kita menjadi pemuda ideal Islam?

Pemuda Islam, bangkitlah!

Referensi: Rijal Hawlar-Rasul (60 Sirah Sahabat Rasulullah saw.) oleh Khalid Muhammad.

Wallahua’lam

[K]

 

  • Fase Memberi (Majalah SALAM, Taiwan Ed.September 2011)

Ramadhan yang mulia sudah hampir usai, Syawal sudah menunggu di depan mata namun apakah kita sudah siap meninggalkan bulan yang suci ini, apa yang sudah kita ambil darinya?. Ramadhan adalah bulan yang ditunggu dan kita sudah sedari bulan Ra’jab dan Sya’ban meminta kepada ALLAH SWT agar dipertemukan di bulan mulia ini. Beberapa yang menjadi daya tarik Ramadhan adalah malam lailatul qadr, pelipatgandaan amal dan penyucian harta melalui zakat fitrah. Pada tulisan ini, penulis akan menyinggung bagaimana keikhlasan melalui amal yang disempitkan lagi pembahasannya bagaimana kita bisa menyisihkan harta kita bagi yang membutuhkan. Kalau kita berbicara tentang kesungguhan dan pengorbanan dalam sedekah dan finansial, kita tidak akan terlepas dari satu nama sahabat Rasulullah SAW, Thalhah bin Ubaidillah. Ia adalah yang disebutkan memiliki sikap reflektif dan siap berkorban (Tadhiyah) demi suksesnya program-program dakwah di masa awal. Dan Ia adalah salah satu sahabat yang langsung berebut untuk berinfak ketika turun surat Ali Imran: 92,

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Q.s. Ali Imran: 92).

Mari kita simak selengkapnya sahabat yang mulia ini,

ALLAH berfirman,

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada ALLAH. Di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janji mereka).” (Al-Ahzab:23)

Setelah membaca firman ALLAH ini, Rasulullah menatap wajah para sahabatnya. Sambil menunjuk Thalhah, beliau bersabda, “Barangsiapa yang suka melihat seorang laki-laki yang masih berjalan di muka bumi, padahal ia telah memberikan nyawanya, hendaklah ia melihat Thalhah.

Tiada kabar gembira yang paling didambakan dan dirindukan oleh sahabat Rasul, melebihi kabar gembira yang disampaikan Rasulullah untuk Thalhah. Ia merasa tentram karena telah mengetahui akhir hayatnya. Ia akan mati sebagai satu dari mereka yang menepati janji mereka kepada ALLAH. Bagaimana sebenarnya kehidupan Thalhah sehingga sudah mendapat kabar gembira akan masuk surga?

Dalam perjalanan bisnisnya ke kota Bushra, Thalhah bertemu seorang pendeta jujur yang memberitahunya bahwa nabi yang akan lahir di Mekah, yang dikabarkan oleh orang-orang shalih dan para nabi sebelumnya, sudah saatnya lahir. Thalhah juga dinasehati agar tidak ketinggalan kereta itu, karena kereta itu membawa petunjuk, rahmat dan kebebasan.

Setibanya di Mekah, setelah berbulan-bulan waktu dihabiskannya di Bushra dan dalam perjalanan, ia menangkap bisik-bisik penduduk tentang Muhammad “Al-Amin”; tentang wahyu yang datang kepadanya; dan tentang agama Islam yang diperuntukkan bagi bangsa Arab, khususnya, seluruh manusia, umumnya.

Orang yang pertama kali ditanyakan Thalhah ialah Abu Bakar. Ternyata, Abu Bakar baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya, dan sekarang sudah bergabung dengan barisan Muhammad saw. Thalhah bergumam kepada dirinya sendiri, “Muhammad saw. Dan Abu Bakar? Demi Tuhan, kedua orang ini tidak mungkin berhimpun dalam kesesatan. Muhammad saw. sudah berusia 40 tahun. Selama itu, Kami belum pernah mendapatinya berbohong. Apakah mungkin sekarang ia berbohong atas nama ALLAH, dan mengatakan bahwa ALLAH telah mengutusnya dan mengirimkan wahyu kepadanya? Sungguh tidak mungkin!”

Thalhah mempercepat langkahnya menuju rumah Abu Bakar. Ia hanya sebentar berbicara dengan Abu Bakar, karena keinginannya untuk bertemu Rasulullah saw. dan berbaiat kepadanya lebih cepat daripada detak jantungnya sendiri. Ditemani Abu Bakar ia pergi menemui Rasulullah saw. lalu menyatakan keislamannya dan bergabung dalam barisan yang penuh berkah ini.

Begitulah Thalhah termasuk orang-orang yang masuk pertama kali dalam pelukan Islam. Di seluruh medan tempur, Thalhah selalu berada di barisan terdepan mencari keridhaan ALLAH dan membela bendera Rasul-Nya. Thalhah hidup di tengah-tengah masyarakat muslim. Beribadah dan berjihad bersama mereka untuk menegakkan agama baru yang mengentaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Setelah memenuhi kewajiban Tuhannya, ia terjun ke dunia bisnisnya. Ia pebisnis sukses. Bahkan, Ia termasuk dalam jajaran orang-orang kaya raya. Semua harta kekayaan dipergunakan untuk kepentingan Islam yang ia perjuangkan bersama Rasulullah. Ia berikan hartanya untuk kepentingan Islam tanpa batas. Dan ALLAH menambah kekayaannya juga tanpa batas.

Rasulullah saw. memberinya gelar “Thalhah si baik hati”, “Thalhah si Pemurah”, dan “Thalhah si Dermawan”, sebagai pujian atas kedermawanannya yang tidak terhingga.

Setiap kali ia mendermakan hartanya, ternyata ALLAH yang maha pemurah menggantinya berlipat ganda. Istrinya, Su’da binti Auf, menceritakan, “Suatu hari, aku melihatnya bersedih. Aku bertanya kepadanya, ‘Ada apa denganmu?’ Ia menjawab, ‘Harta yang ada padaku begitu banyak hingga membuatku sedih dan pusing.’

Aku berkata, ‘Tidak usah bersedih. Bagikan saja.’

Ia memanggil masyarakat sekitar. Semua hartanya dibagikan kepada mereka hingga tidak tersisa sedikit pun.”

Satu ketika, ia menjual tanahnya dengan harta yang tinggi. Melihat hartanya yang menumpuk, ia menangis dan berkata, “Sesungguhnya, jika harta ini sampai bermalam di rumah seseorang dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi, maka ia benar-benar berburuk sangka kepada ALLAH.”

Ia memanggil beberapa rekannya. Malam itu juga, bersama mereka ia berkeliling kota Madinah membagikan hartanya hingga tidak tersisa sedikit pun.

Jabir bin Abdullah menggambarkan kepemurahan Thalhah, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang memberikan hartanya tanpa hitungan tanpa diminta lebih dahulu, selain Thalhah bin Ubaidillah.”

Thalhah sangat baik kepada keluarga dan kerabatnya. Semua kebutuhan mereka ia cukupi, meskipun jumlah mereka sangat banyak. Ada yang mengatakan, “Ia tidak membiarkan seorang pun dari bani Taim tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Menikahkan anak-anak muda mereka, mencukupi kebutuhan mereka yang tidak mampu, dan melunasi hutang mereka.”

Sa’id bin Zaid berkata, “Aku selalu bersama Thalhah di saat bepergian dan di saat mukim(tinggal di suatu tempat). Aku tidak pernah melihat orang yang begitu pemurah memberikan harta, pakaian, dan makanan, selain dia.”

Semoga orang-orang kaya di zaman ini bisa senantiasa meneladani kemurahan hati sahabat Rasulullah saw. ini, agar yang kaya memahami pahitnya penderitaan saudaranya yang miskin.

Selamat menunaikan ibadah puasa di hari-hari terakhir menuju Syawal dan semoga kita termasuk orang-orang yang menang.

Referensi: Rijal Hawlar-Rasul (60 Sirah Sahabat Rasulullah saw.) oleh Khalid Muhammad.

Wallahua’lam

[K]

 

  • Pemuda dan bangsa (Majalah SALAM, Taiwan Ed.Oktober 2011)

Islam selalu terkait dengan pemuda-pemuda hebat di dalamnya. Mereka (pemuda Islam) selalu cinta akan negeri dan tempat tinggalnya dan memperlihatkan kecintaannya bukan dengan bualan dan kritis tanpa ada implementasi atau tauladan. Namun dalam sejarah Islam kita melihat pemuda Islam selalu identik dengan kerja keras dan semangat bukan tidur-tidur panjang dan bermalas-malasan. Pemuda Islam dapat diwakilkan dengan 4 sifat; mereka memiliki iman, ikhlas, selalu semangat dan bekerja keras. Itulah 4 sifat yang mewakili pemuda Islam dalam menunjukkan kecintaannya kepada bangsa dan agamanya.

Iman

Pemuda Islam adalah yang dapat membedakan yang mana yang baik dan yang buruk. Keimanan mereka adalah pembeda mereka, mereka yang senantiasa membuka Al-Quran dan mentadabburinya, lalu mereka juga senantiasa senang dalam menuntut ilmu dan memperluas wawasan agar senantiasa mengetahui keburukan atau manfaat suatu tindakan. Mereka selalu merasa dalam pengawasan yang Maha Melihat dan mereka senantiasa memahami akan konsekuensi (akibat) positif ketika berbuat kebajikan dan mengerti konsekuensi negatif jika berbuat maksiat dan segala yang tidak disukai oleh ALLAH SWT.

Tersebutlah dalam sebuah riwayat, ketika Rasulullah SAW sedang menyeleksi para sahabatnya yang akan diutus untuk melaksanakan sebuah ekspedisi untuk mempertahankan Islam dan negara. Kala itu Rasulullah SAW menanyakan satu per satu para pasukan muslimin, sudah berapa jauh tingkat hafalan Al-Quran mereka. Sahabat pertama menyampaikan bahwa ia telah hafal surah ini dan itu, begitu pula dengan sahabat lainnya. Pada kesempatan berikutnya, sampailah pada seorang pemuda belia dan pertanyaan yang sama diberikan oleh Rasulullah SAW kepadanya, Sudah sejauh mana hafalanmu?

Lalu pemuda ini menjawab,

Aku sudah menghafal surah ini dan surah itu serta surah Al-Baqarah.

Rasulullah SAW sedikit kaget dan bertanya lagi kepada pemuda itu,

Kau sudah menghafal surah Al-Baqarah?

Ya, wahai Rasulullah. (Jawab pemuda itu)

Baiklah kau berangkat ke ekspedisi kali ini dan kaulah yang memimpinnya. (Jawab Rasulullah SAW)

Dari kisah di atas kita mengambil pelajaran (I’tibar) bahwa kualitas pemuda Islam bukanlah diukur serutin apa ia minum arak, secakap apa ia berjudi dan sejauh mana kualitas maksiatnya. Namun Rasulullah SAW menanyakan kualitas hafalan Al-Quran dan frekuensinya berinteraksi dengan Al-Quran. Dimana setelah kedekatan kita dengan Al-Quran dan mentadabburi-nya akan meningkatkan kualitas keimanan kita. Beginilah cara Islam mendidik pemuda.

 Ikhlas

Kalau iman sudah menghujam deras ke dalam jiwa pemuda, yang dibutuhkan setelahnya adalah keikhlasan. Para pemuda Islam harus ikhlas dalam melaksanakan segala kebajikannya, mereka bukanlah pemuda yang pamrih dan mengharapkan sanjungan dan pujian manusia, tapi pemuda Islam adalah mereka yang selalu mengharap dan berlabuh pada satu tujuan yang hakiki, yaitu Ridha ALLAH SWT. Ikhlas inilah yang menjadi batu pijakan awal sebuah niat, bahwa kalau niat salah dan tidak ikhlas akan salah pula perjalanan perjuangan para pemuda Islam untuk berbuat yang terbaik bagi negaranya.

Iman dan Ikhlas akan menghasilkan sebuah kekuatan yang luar biasa, yang pandai memilah yang mana yang baik dan buruk serta cakap dalam kerja-kerja kebaikan dan maslahat umat. Kalau tak ada keikhlasan dapat dipastikan setiap kerja pemuda akan berat bahkan mereka tidak akan bertahan lama dalam jalan-jalan pengorbanan yang seharusnya dimiliki pemuda Islam.  Dalam masa kejayaan Islam, terdapat seorang pemuda yang dijuluki “ulamat umat ini”, dia adalah pemuda yang senang ilmu, suka membaca dan gemar menghadiri majelis-majelis ilmu. Dan ia bukanlah pemuda yang gemar menghabiskan waktu dengan hal-hal yang berujung murka ALLAH SWT, seperti menghabiskan waktu di tempat-tempat maksiat dan menghindari majelis-majelis ilmu serta ajakan pada kebaikan. Pemuda itu bernama Abdullah bin Abbas, dalam sejarah Islam sedari usia 16 tahun dia telah menjadi penasihat para pengganti Rasulullah SAW sekaliber Umar bin Khattab RA, Ustman bin Affan RA dan Ali bin Abi Thalib. Siapa kiranya pemuda ini, hingga mendapat kepercayaan begitu tinggi?

Abdullah bin Abbas sejak kecil telah mengikuti majelis ilmu yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Karena kedekatannya dengan Rasulullah SAW (keponakan Rasul, anak dari Abbas bin Abdul Muthalib), ia banyak mendapatkan ilmu Islam langsung dari Rasulullah SAW. Karena kedekatan dan rajinnya ia dalam menuntut ilmu, ia mendapatkan posisi yang mulia di mata masyarakat Islam kala itu walaupun usianya masih sangat belia.

Suatu hari ia mendengar seorang sahabat memiliki satu hadist yang belum pernah ia dengar, lalu ia dengan cepat bergegas ke rumah sahabat tersebut di siang hari yang panas dan terik. Hanya untuk satu hadist saja, Abdullah bin Abbas sampai-sampai mengorbankan waktu istirahat siangnya dan tak menunda hingga sore tiba. Setibanya di rumah sahabat tersebut, ia mendapati sahabat Rasulullah SAW itu sedang tidur, namun karena keikhlasannya dalam menuntut ilmu ia tidak serta merta membangunkan pemilik rumah, namun menunggu hingga sahabat tersebut bangun dari istirahatnya.

Selepas tidur siang, sahabat tersebut terkejut,

Wahai keponakan Rasulullah SAW (Abdullah bin Abbas), kenapa engkau repot-repot datang ke rumahku?, Engkau lebih berhak aku datangi daripada kau mendatangiku.

Abdullah bin Abbas RA menjawab,

Engkau lebih berhak dikunjungi karena kau memiliki hadist (ilmu) yang belum aku ketahui.

Beginilah cara pandang pemuda Islam, ketika Iman sudah mengakar dan Ikhlas menjadi batang-batang yang kokoh dan menjulang ke langit, jarak menuntut ilmu dan menuju kebaikan yang harus melewati ujian yang berat tidaklah menjadi halangan yang berarti.

Semangat dan Kerja Keras

Dalam langkah-langkah panjang berbuat kebaikan pasti ada kemunduran dan kelemahan. Ibarat perjalanan darat menggunakan unta di padang pasir yang tandus hingga ribuan kilometer, membutuhkan semangat panjang dan kerja keras yang berlanjut serta dilengkapi dengan perbekalan yang cukup. Inilah pengibaratan perjuangan para pemuda Islam dan menunjukkan kecintaannya kepada bangsa. Adakalanya pemuda diliputi dengan kegundahan, godaan maksiat atau bahkan berhenti dari jalan kebaikan dan setelahnya menjadi ahli maksiat. Godaan-godaan dunia bagi pemuda selalu saja lebih menyeramkan daripada generasi-generasi sebelum(anak-anak) dan sesudahnya(masa tua). Oleh karena itu, para pemuda Islam harus pula memahami akan hakikat kehidupan dunia yang sementara ini.

Dalam sebuah hadist,

Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya (HR.Bukhari)

Yang memiliki makna sangat dalam akan hakikat siapa yang akan menjadi terbaik dalam hidup ini, mereka yang senantiasa dekat dengan sumber aturan hidup (Al-Quran) akan menjadi manusia terbaik dan menjadi teladan bagi sekelilingnya. Inilah yang didambakan dari pemuda Islam setelah generasi-generasi mulia terdahulu di masa Rasulullah SAW. Mereka memiliki semangat dan kerja keras dalam kebaikan dan cepat dalam memaknai manfaat atau keburukan sebuah tindakan. Pemuda Islam yang telah memiliki Iman, Ikhlas, semangat dan kerja keras inilah yang selalu didamba kehadirannya. Ketika pemuda Islam zaman modern ini sudah menerapkan 4 sifat ini semoga kecintaannya kepada agama dan bangsa mencerminkan kisah-kisah terbaik yang telah terjadi di masa-masa lampau. Semoga pemuda Islam kembali pada posisinya yang terbaik, menjadi pengawal kebaikan dimanapun mereka berada.

Wallahua’lam

[K]