Revealing Secret(3)

Gaswat, lagi banyak rahasia yang perlu diungkap. Begini resiko seorang infiltrator 😀

Dari kejauhan, samar-samar lagi terdengar…what???

Ok daripada-daripada (instead-instead), kita langsung menuju cerita yang perlu digores untuk kenang-kenangan suatu saat nanti. Tersebutlah dalam satu kisah, perjalanan “mengejar kereta”. Tapi disini jarang delayed yang berjam-jam dikarenakan listrik mati atau ada rel kereta yang amblas. Jadi kalau sudah bertajuk mengejar kereta, yang notabene diinterpretasikan pada probabilitas yang menuju “kepastian” tidak dapat kereta yang diinginkan itu, maka akhir cerita akan tragis. Tinggal satu kereta, tidak sampai ke tujuan, hmm mikir…ting tong…tanya bis, ada gak…ting tong…hmm…mikir…ok ambil ntuh kereta, yang penting naik dulu, dompet mau nangis nantinya urusan belakangan :D. Kereta malam yang syahdu, kereta lokal yang biasa ramai, sekarang sepi, tapi untung ada penumpang lain. Sehingga aku tidak terkesan memesan satu gerbong tengah malam itu, ibarat pemimpin di sebuah negara yang mau mudik lebaran.

1 jam…tuk…tuk…ngantukkkk…

2 jam…tuk…tuk, oh sudah sampai destinasi akhir, seorang penumpang masih tidur di kursi, sepertinya hilang kesadaran alias sudah terbuai mimpi, sisanya bangun dan keluar gerbong dengan availabilitas sekira 65%. Kalau disenggol sedikit, akan sedikit oleng…hmmm….

Oke, tiba pada ketidakpastian yang sudah diperkirakan, kagak ada kendaraan umum yang bisa digunakan. Sudah tengah malam, kota senyap. Kota yang baru pertama kali kusinggahi, tidak aneh, yang pasti ini masih di pulau Formosa. Terpaksa jurus zhongwen kukeluarkan dengan pertanyaan klasik dan estimasi dompet yang pada intinya apakah naik taksi dari sini ke kampus tercinta mahal adanya?.

Aku diminta tuk menunggu sekitar 40 menit, akan ada taksi yang langsung dari kota besar itu yang menjemputku. Aneh dan kagum melihat pak penjaga stasiun kereta daerah itu, secara kita stranger namun diserve, dikasih tempat duduk di ruang tunggu dan lainnya. Lalu ketika pak supir hadir, harga cukup acceptable menuju kampus tercinta. Namun malang tak dapat ditampik, selepas freeway dan tinggal belok kanan menuju kampus, pak sopir kebingungan terpaksa labelku kala itu sebagai stranger terkuak, dikarenakan dua kata “you bian” (sebelah kanan/belok kanan). Wadohhhh, akhirnya bahasa zhongwen bermain dengan arbitrary mode: setengah ingin, dan fakta murah tarif taksi terkuak, karena mereka menganggapku the stranger man alias manusia antah barantah dan bukan orang lokal plus alibi yang dibuat kubuat berulang-ulang, xuesheng meiyou hen duo qian laaaaa (pelajar kagak punya duit banyak). Curhat dimulai,

Tarif tadi saya kasih karena saya kira kamu stranger

Jadi bisa gak nambah dikit…

Mau isi minyak

jadi berapa neh, … atau ….? (Aku memancing harga)

cincailah….

Oke, mengingat sudah tengah malam dan jarak yang sebenarnya lebih dari harga tersebut, so dompet sedikit enggan mengeluarkan helai biru dengan beberapa lembar kembalian merah setelahnya.

Temans, apa rahasia yang terungkap?

Semakin kita dianggap stranger disini, semakin kita dilayani layaknya orang yang memang perlu bantuan.

Seketika aku melakukan komparasi by experience yang berlokasi di sebuah ibukota sebuah negara di Asia Tenggara, apakah stranger dimanfaatkan atau dibantu dengan sangat di tengah malam tanpa arah itu? [Tergantung nanya ke siapa…hehehe]

Sebuah cerita saja, tak ada kecenderungan justifikasi dan komparasi mendalam, yang pasti kekurangan di negara Asia Tenggara itu suatu saat harus dibersihkan dan menunjukkan cita rasa ketimurannya lagi 😀

*Setelah menutup dompet dan tertunduk lesu, seolah ada yang menepuk pundak dari belakang, siapa gerangan?, ooh ternyata dia slogan baruku “sundukuna ada aja”. Aku tersenyum sejenak.

[K-Aktor cerita “gak jelas” ini disamarkan]

18. May 2011 by Mr.K
Categories: Lelucon statis | Tags: , | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *