TRP-Miniatur Peradaban [Repost]

Tulisan lama, October 29, 2008 – Sekaligus awal mula penulis membuka lembar-lembar Sirah secara perlahan dengan semangat yang fluktuatif.

Dunia bergejolak, bumi sedikit bergetar karena ia disisihkan dan tak dibersihkan lalu manusia dengan polosnya membuang “aqua gelas” kosong sembarangan tanpa ada rasa salah, kemana sampah itu terbawa dan siklus 5 tahunan akan terus menjadi siklus…banjir..

Menilik ke belakang dan melihat bayang samar-samar yang terjadi di masa depan, ku berpikir bagaimana jika setiap keluarga membuat satu Pattern, dimana itu akan memberikan satu fundamental sikap / behaviour seluruh anggota keluarga di dalamnya , untuk memiliki sikap yang sama di dalam melihat satu kasus dan bagaimana menerima alur hidup. Seorang ayah memberikan contoh bagaimana “merespon” sapaan kerabatnya dengan sopan  dan senyum, lalu bagaimana si ibu memberikan menuntun sang anak memakai kain sarung, ketika ia sudah mulai shalat, lalu bagaimana ketika sang ayah mengontrol “marahnya” dan mengkonversikannya dengan keramahan kepada anak-anaknya terhadap apa yang salah dari mereka, walaupun harus menghela napas sejenak untuk itu. Lalu bagaimana sang ibu di kala anaknya masih kecil untuk mensikapi keadaan, baik senang maupun susah, lalu memfiltrasi “polusi” zaman melalui televisi dan sikap “unpollite” pada sesama. Ohh, indah ketika ada satu Pattern yang menjadikan manusia berakhlak dan saling memahami.

Entah sampai kapan bumi kan terus berputar di porosnya, tak seperti manusia yang sering bosan pada rutinitas statisnya, apalagi rutinitas itu baik…Entah seperti apa pola “pencekikan” moral ini berasal, padahal ribuan tahun lalu, ketika deklarasi “akhlak” dan peradaban itu muncul, tumbuh satu komunitas ideal yang mencerminkan prinsip ketaatan pada “sang khalik” , dan imbasnya adalah kerukunan serta penguasaan dunia dengan arif dan bijaksana. Bagaimana seorang umar ibn khattab menaklukkan palestina, tanpa menggusur rumah peribadatan lainnya dan menghormati mereka dan entah bagaimana “ketaatan” bisa mengalahkan siksaan dan cercaan ketika nubuwah masih berjalan 10 tahun dan pasca wafatnya abu thalib sebagai “tembok besar” islam.

Satu Pattern / pola yang sebenarnya ada dan ideal, telah terkubur seiring zaman, dan ketika ayat-ayat qauliyah yang dibungkus rapi dan terstruktur dalam qalam al-quran, telah berlapis debu dan tak pernah dibuka lagi lalu buku-buku tebal “sirah” / biografi Rasulullah yang sangat mahsyur dan menakjubkan, tak pernah habis stoknya di toko-toko buku besar di bumi ini…oh, Pattern itu ada, namun kita seperti tak melihatnya…sekali lagi zaman menutupnya dengan “syair-syair” lagu yang enak didengar dan dihafal, hingga balita pun tak sulit untuk menyanyikannya..

Semoga saja pola – pola ideal ini akan kembali, dimulai dari komunitas terkecil bernama keluarga, lalu akan membentuk suatu “Miniatur peradaban” , dan dunia akan menyambut miniatur itu, ketika ia semakin banyak dan kebaikan menjadi satu kebiasaan..

Ups..ini tulisan ke “205”…Serius Mode : ON.

Sekaligus menjadi TRP esok hari ^^.

# Typos is remain preserved as I did 4 years ago.

 

Wallahua’lam

[K-TRP(Tulisan Rutin Pagi)]

23. May 2012 by Mr.K
Categories: Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *