TRP-Endless path

Bergabung bersama jalan-jalan kebaikan sejatinya merugi. Merugi karena ada waktu yang perlu dialokasikan bersamanya, alokasi waktu tidak untuk hidup secara privat namun harus ada pula jatah untuk hidup secara sosial atau kalau perlu membentuk skup sosial itu. Perlu waktu lebih, perlu ketahanan lebih dan perlu kecakapan lebih namun kerugian-kerugian secara waktu itu seakan hilang seiring dengan kenikmatan di dalamnya. Adakah nabi yang minta resign ketika risalah diembankan kepadanya?, adakan Harun menolak ketika Musa A.S memintanya kepada Tuhan untuk dijadikan wazir (penasihat)? atau adakah Umar Al-Farouq meninggalkan Abu bakr R.A di masa transisi yang begitu pelik ketika ditinggalkan Rasul, padahal ia diminta sebagai wazir yang menata tatanan hukum bersanding dengan Ustman dan Zaid bin Tsabit di sisi kesekretarian sebuah kedaulatan yang sedang tumbuh?

Kenapa mereka terus merangsek maju dengan kerugian-kerugian yang didapat oleh tubuh dan porsi waktunya?. Tak ada penjelasan yang lebih mengagumkan daripada Qalam-Nya,  ketika menceritakan perjalanan Saleh A.S, Luth A.S dan Syu’aib A.S yang dipadu bersama di surah Asy-Syu’ara 143-183. Semua dari mereka menyampaikan risalah, semua sama dalam mengajak kebaikan dan pada kenyataannya mereka mendapat ujian yang sama pula, sebuah ujian yang datang dari umatnya sendiri yang sibuk dengan eksistensi jahiliyah, kami ikut agama nenek moyang kami… Begitu kata mereka pada nabinya. Namun apakah para anbiya mundur setelah first attempt (percobaan pertama) dan pergi meninggalkannya dan meminta ALLAH SWT mengazab umatnya?, tidak wahai pembaca. Dalam penyampaian, ada second attempt, third attempt atau kalau perlu n attempt, agar hidayah itu muncul pada waktunya layaknya Rasulullah SAW menolak tawaran malaikat untuk menghimpit Thaif karena kekafirannya, namun Rasul berharap Semoga anak-anak mereka nantinya menjadi Islam. Dan perjalanan syi’ar ini akhirnya tercatat dalam sejarah ketika Thaif bersama Mekkah adalah 2 wilayah yang sangat bisa diandalkan dalam ekspansi Islam di masa Abu Bakr R.A.

Pada akhirnya ada keunikan di jalan para anbiya ini yang berulang guna mempertegas kerugian di jalan ini, bahwa mereka kehilangan sunduk, kehilangan harta kehilangan apa yang mereka cintai. Namun apakah lalu mereka mundur ke belakang. Tidak wahai pembaca, 3 statement Saleh A.S, Luth A.S dan Syu’aib A.S diabadikan dalam Al-Quran, Asy-Syu’ara’ 145, 164 dan 180. Kesemuanya sama, sama-sama rugi secara harfiah namun ada kerinduan dan ganjaran yang selalu mereka rindukan, bukan dari insan bukan dari sesamanya namun dari Rabb mereka,

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ [٢٦:١٦٤]
Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam.
Apakah diperlukan berbalik badan setelah ini, dan pergi teratur dalam dinamika n attempts-nya atau sebuah akselerasi agar nyawa tidak mendahului rencana?
Wallahua’lam
[K-TRP(Tulisan Rutin Pagi)]


22. September 2011 by Mr.K
Categories: Kontemplasi | Tags: , , , | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *