TRP-Dignity

Kalau jalan ini penuh dengan cinta dan iman yang diibaratkan sebagai buhul tali yang kokoh. Dalam perjalanan pasti ada saja duka, ada intimidasi atau bahkan pengucilan serta kehilangan martabat di lingkungan sosialnya. Ketika Islam ini belumlah sempurna benar, Rabb berkehendak lain. Sebagai pengawal din yang sedang berkembang ini, ALLAH SWT memanggil satu per satu kekasih nabiNya. Khadijah yang cantik jelita, kaya raya dan menjadi istri yang baik bagi Muhammad, pada akhirnya ALLAH SWT memanggilnya begitu cepat dan sangat membebani syiar Islam setelahnya. Sebagai salah satu lumbung dana perjalanan syiar Islam dan meng-cover segala keperluannya, serta sebagai penyejuk di rumah kala syi’ar ini dihina, diejek bahkan disiksa layaknya Sumayyah, Yasinr dan Ammar. Khadijah menjadi pilar awal yang sangat dibutuhkan, namun ALLAH SWT berkehendak lain, dan kalau ini sudah diputuskan tak ada satu jiwa pun yang hidup yang mampu mengubahnya, dengan kun ALLAH SWT bisa membalikkan dunia atau membinasakan umat yang lalai dan ingkar terhadap nabiNya.

Kalau Khadijah penopang dana, kasih sayang dan tempat berdiskusi dalam peliknya jalan syi’ar Islam ini, Abu thalib adalah pelindung secara formal untuk melindungi Muhammad SAW dalam melaksanakan tugas syi’ar agar lebih luas, menyentuh tiap kabilah tanpa ada kemungkinan diserang atau bahkan disiksa. Karena ada tradisi arab yang jika seseorang telah dijamin oleh seorang pemuka kabilah dan terpandang, Ia tidaklah boleh disiksa, dizalimi dan jenis-jenisnya, hingga perlindungan itu ditarik oleh yang melindungi. Sama halnya ketika Abu Bakr meminta Dughunnah menarik perlindungan untuknya, seketika itu pula Abu Bakr ikut terancam keselamatannya. Inilah Amul Huzni wahai pembaca, ketika Rasulullah SAW secara simultan kehilangan penopang dakwah ini, Khadijah dan Abu Thalib.

Lantas apakah martabat dan Islam perlu pupus hingga di sini?

Inilah ujian yang sangat berat, namun seberat apapun tidak terbersit sedikit pun oleh Rasulullah SAW untuk memberhentikan syia’ar ketauhidan ini. Beliau pergi ke Thaif untuk mencari lahan baru dakwah dan berharap seluruh penduduk Tsaqif di sana beriman, namun harapan tinggal harapan, Tsaqif kala itu menolak sejadi-jadinya agama tauhid ini yang terus memuja kuil berhala yang sangat terkenal di zamannya. Tak sampai di situ, Rasul pulang dari Thaif bukan dengan pelepasan kenegaraan dan tetek bengek protokoler itu, namun beliau diusir dan dilempari batu bahkan oleh para budak dan anak-anak Thaif. Usaikah hingga di sini?

Tidak, wahai pembaca yang baik. Kalau saja Rasul meng-usaikannya lalu ALLAH SWT mengazab kaum yang ingkar layaknya kaum Nuh, Syu’aib, Hud dan Saleh A.S., mungkin hari ini kita tidak bisa merasakan kesejukan yang spesial dalam dinul islam ini, ketika jiwa sepenuhnya disandarkan kepada yang ghaib, bukan mencari pamrih bukan pula riya’ atau status sosial yang menjadi buah bibir antar manusia. Namun jiwa hanya disandarkan ke satu Zat yang maha segalanya, pengatur alam raya, ALLAH SWT. Tak ada ma’rifat (kenal) kalau belum ada mahabbah (cinta), begitulah Rasul dengan cintanya yang tak pernah goyah kepada ALLAH SWT terus berjalan dalam kerumitan jalan kebenaran, apakah Rasul marah dengan tak adanya support yang sesuai dari ummat untuk membantunya?. Tidak, kalaulah Islam ini hanya ia yang menganutnya, Rasul pun akan tetap berjalan hingga tugas dakwah diselesaikan oleh ALLAH SWT untuknya. Ini pulalah yang menginspirasi Abu bakr yang mulia pula, ketika kebijakan taktisnya memutuskan sebuah penumpasan dan pembersihan kaum yang tak mau membayar zakat dan kebijakan perluasan kedaulatan, Kalau aku hanya sendiri, aku tetap berjuang.

Amul Huzni, tahun kesedihan bukanlah akhir jalan indah ini. Karena ketika kesabaran sudah diuji sejadi-jadinya dengan iman dan ketulusan hanya padaNya, ALLAH SWT pasti menolong dan memudahkan jalan-jalan setelahnya. Sejarah mencatat, sepulang dari Thaif dan gundah gulana, Muhammad SAW bertemu dengan Hathim salah satu pemuka kabilah, dan ia pun memberikan perlindungan kepada Muhammad SAW untuk tetap hidup bebas dan nyaman di Makkah kala itu. Sejurus kemudian, agenda syi’ar terus berlanjut bahkan terus gemilang dan menguasai dunia hingga 10 abad setelahnya.

Sebuah kesabaran pasca ujian, jika disikapi dengan iman yang tetap kokoh niscaya kemudahan hanya tinggal menunggu waktu, seperti imam Al-Qardhawi berpesan: Jika masalah masuk ke satu lubang, niscaya 2 kemudahan mengikutinya.

Martabat(dignity) Islam ini haruslah terus begini, mulia dan mengusung kedamaian.

Wallahua’lam

[K-TRP (Tulisan Rutin Pagi)]

 

23. September 2011 by Mr.K
Categories: Kontemplasi | Tags: , | 2 comments

Comments (2)

  1. tulisan yg bagus,
    ngena banget ke saya yg ingat ujian-ujian yg saya hadapi setahun yang lalu..

    bait ini,

    Sebuah kesabaran pasca ujian, jika disikapi dengan iman yang tetap kokoh niscaya kemudahan hanya tinggal menunggu waktu, seperti imam Al-Qardhawi berpesan: Jika masalah masuk ke satu lubang, niscaya 2 kemudahan mengikutinya.

    saya copast ya?
    oia, ini kunjungan balik.
    hm..TRP-nya sdh rutin sjak kapan? dikirmkan ke situs islami indo/luar tak? seperti akan lebih luas manfaatnya (hanya saran)
    senang bisa berkunjung kesini :-)

  2. Selamat datang, ya silakan di copast kalau bermanfaat. TRP masih berjalan beberapa hari, mudah-mudah terus berlanjut. Perihal kirim ke situs lain belum terpikir dan masih ingin berada di kamar sempit(blog) ini untuk beberapa saat ke depan :D.

    Terima kasih sudah berkunjung balik.

Leave a Reply

Required fields are marked *