Kapan bangkit itu tiba?

Berbicara tentang shahwah islamiyah, kebangkitan islam ia adalah niscaya. Namun kapan ia hadir kembali?, bagi sebagian orang, shahwah islamiyah dianggap sebagai sesuatu yang ditunggu namun sebagian lagi ada pula yang senantiasa ingin menjemputnya lalu mempercepat kebangkitan islam itu tiba. Agar nantinya islam kembali ke tempat semula yang mulia, dimana semua hak manusia terpenuhi dimana relung-relung jiwa terpenuhi dengan asupan ruhiyah yang mumpuni hingga menghadirkan/mengeksistensikan interaksi tiap insan kepada Tuhannya, dimanapun ia berada. Kapan shahwah islamiyah hadir kembali?, jemput atau tunggu?

Setiap kemenangan dalam sejarah, setiap kemuliaan yang diangkat dalam sejarah kita melihat ada hal sama, dimana ada pertolongan Rabb di tiap jalan akhirnya, ada campur tangan ALLAH dalam tiap kemenangan dan nantinya itu berbuah pada suatu keyakinan yang terus teguh bagi hambanya. Namun kembali kita bertanya, kapan pertolongan ALLAH itu datang?, kapan?

Mari kita buka beberapa lembar sejarah akan hal ini,

Musa AS bersama bani israil ketika dikejar oleh pasukan musuh, tentara Fir’aun dengan senjata lengkap, umat nabi Musa As terlihat panik sejadi-jadinya, bagaimana tidak mereka harus lari dari pasukan besar yang jikalau mereka tertangkap, mungkin setelahnya hanya tinggal nama. Mereka mengadu pada Nabinya, wahai Musa kita pastilah akan tertangkap/terkejar, namun Musa As berujar tenang, Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Sehingga laut terbelah oleh pertolonganNya.

Di gua ketika bersembunyi saat hijrah, Abu Bakr Ash Shiddiq cukup tegang, pasukan musuh sudah mulai menyapu-nyapu wilayah sekitar, namun ada ketenangan yang luar biasa dalam diri Rasulullah, kita tidak sedang berdua karena ALLAH bersama kita. Sehingga pasukan musuh tak mampu menemukan target, karena ada pertolongan dari ALLAH, rabb sekalian alam.

Ketika Gubernur Yaman bersama pasukan besarnya memasuki lembah bakkah (Makkah) berniat menghancurkan Ka’bah, Abrahah namanya, Abdul Muthalib tak kuasa menahannya, hanya menyerahkan sepenuhnya kepada ALLAH pemilik sekalian alam, dan yang terjadi adalah makar manusia tidak pernah sebanding dengan makar ALLAH. Sehingga mereka diserang oleh burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Dari kesemuanya ada kesamaan ketika pertolongan ALLAH itu datang bukan ketika kita sedang duduk santai, namun pertolongan dan mukjizat ALLAH itu hadir ketika usaha sudah mencapai titik klimaks, ketika tidak ada lagi yang bisa dilakukan lalu menyerahkan seutuhnya kepada yang maha perkasa. Sehingga ketika ada yang bertanya kapan Shahwah islamiyah itu kembali?, semoga kita berupaya sekuat tenaga untuk mengembalikannya dengan tekad di dada, dengan perbaikan aqidah secara internal dan eksternal. Terus bergerak dalam kebaikan untuk menjemput ridha dan pertolonganNya kelak.

Ketika upaya sedang dalam titik klimaksnya, Salim Maula Abu Hudzaifah mengutip firmanNya,

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ [٣:١٤٦]
Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.
Wallahua’lam
[K]

29. April 2011 by Mr.K
Categories: Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *