[1] Kadang Kita Lupa

Tahun ajaran baru akan segera dimulai, tidak ada mata kuliah, hanya penelitian. Waktu kadang sering mengajak kita untuk mempelajari peluang, padahal di depan mata masih banyak hal yang belum dituntaskan. Manusia, khususnya aku, kadang lupa bahwa di dekat sini penuh akan tantangan, perlu kecepatan dan kesadaran bahwa memang itu adalah tantangan yang dicari. Seiring dengan kemajuan dunia, kesemrawutan lingkungan, variasi ideologi dan komplikasi pemikiran, akan ada satu tempat kita selalu berlabuh, hanya pada-Nya. Entah berapa sering manusia, khususnya aku, mengeluh dan menyalahkan eksistensi dunia saat ini, tapi sudah sejauh mana kita mendedikasikan pemikiran untuk memperbaikinya?. Banyak yang bertingkah dengan suara namun miskin realisasi, adapula yang terus merealisasikan namun miskin peta jalan demi tercapainya keberlanjutan.

Kadang kita lupa punya Rabb yang menggenggam segala keadaan, baik hati setiap insan atau yang jauh lebih besar lagi. Karenanya IA menuntun kita untuk selalu berdoa, jangan gelisah, jangan sedih dan sebuah letupan semangat di kalamnya, “bukanlah mukmin kalau takut dan bersedih hati”. Manusia kini dibantu oleh banyak motivator yang menerjemahkan kalam-Nya, namun ada cara yang lebih menusuk dan membekas daripada itu, ketika mempelajari satu demi satu pemberian-Nya terhadap diri kita. Kala kita membuka lagi Al-Quran dan kita kaitkan dengan kondisi hari ini, akan ada sebuah cahaya yang keluar terang dan membekas, bahwa kita hanya butuh satu dalam setiap momen, baik bahagia dan duka, yaitu momen kebersahajaan, sebuah momen yang mengambil sisi positif setiap keadaan dan di saat yang sama tidak membanding-bandingkan apa yang kita raih dengan orang lain.

Teringat para sahabat yang shalih, irinya pada amal bukan harta, pangkat dan jabatan. Teringat para tabi’in, pengorbanannya di ranah sains bukan untuk kredit manusia, tapi keridhaan pemilik alam. Kini manusia, khususnya aku, perlu meresapi detik-detik dunia. Bisa jadi waktu itu tak lama lagi, bisa jadi waktunya masih sangat panjang, yang terpenting adalah siap di segala kondisi, ingat pada-Nya, selalu…

Wallahua’lam

[K]

10. September 2014 by Mr.K
Categories: Kontemplasi | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *