[SQ] Azzam itu…

Menguatkan azzam yang lemah memerlukan konsistensi. Berat kiranya melaksanakan yang bukan menjadi kesukaan kita, hobi atau sesuatu yang membuat kita senang. Tapi apakah semua yang membuat kita senang adalah sesuatu yang paling baik menurut perspektif akhirat kita?, apakah kesenangan berlebih dan menjurus bermegah-megahan tetap menjadi sesuatu yang nikmat pada akhir perjalanan?. Lagi, Sayyid Quthb menjelaskan secara sederhana bagaimana seharusnya kita melihat sesuatu yang berlebihan itu, apakah terus bermegah atau menginstrospeksi diri?, lagi menurut sebuah pedoman abadi, kalam Rabb, Al-quran al-kariim.

Surah At-takaatsur menjelaskan sesuatu yang singkat namun penuh kekuatan,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ [١٠٢:١
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ [١٠٢:٢
sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Ayat pertama Allah swt. langsung memberikan pernyataan tegas bahwa bermegahan telah melalaikan kita. Berapa banyak manusia yang dulu terbatas namun ketika diberikan keberlimpahan, mata hatinya tertutup, resapan qalbu akan saling tolong-menolong sirna seketika, ketika saudaranya mengalami kesulitan menjadi sulitlah ia, karena takut dimintai pertolongan. Di dalam fii dzilalil qur’an, Sayyid Quthb menyampaikan begini:

Wahai orang-orang yang tertidur dan terlena!, Wahai orang-orang yang lalai dan bermegah-megahan dengan harta, anak-anak, dan kekayaan duniawi yang akan kamu tinggalkan!, wahai orang-orang yang tertipu oleh sesuatu hingga melalaikan apa yang bakal dihadapi nanti! Wahai orang-orang yang akan meninggalkan apa yang dikumpulkannya banyak-banyak dan dibangga-banggakannya untuk menuju lubang yang sangat sempit yang di sana tidak ada lagi berbanyak-banyakan harta dan bermegah-megahan kekayaan dan segala hak milik! Sadarlah dan perhatikanlah! Sesungguhnya, “kamu dilalaikan oleh sikap bermegah-megahan sehingga kamu masuk ke dalam kubur“.

Apakah pelajaran surah ini hanya untuk mereka yang banyak harta?, sudikah kita menilik lebih dalam agar nanti kalau memang Rabb memberikan sebuah anugerah berupa kekayaan harta, keturunan yang menyejukkan, sanak kerabat yang menenangkan kita tak lupa daratan, kita tak lupa kulit seperti kacang sedap dimakan ketika direbus di kala dingin mulai menggigit ^^.
Haruskah pelajaran tentang sesuatu yang belum menimpa kita, kita lewatkan begitu saja?, kalau ya akhirnya kita lupa akan i’tibar Yusuf yang diuji dengan “kegantengannya”, Nuh yang diuji dengan keluarganya yang rata-rata tak beriman, Yunus yang diuji umat yang tak taat padanya hingga ia harus mengharapkan pertaubatan di perut ikan besar, Ayyub yang harus diuji kesabarannya hingga mendapatkan kesabaran di atas kesabaran yang normal atau bagaimana dengan Rasul yang mulia kala ia harus diusir dari Thaif dan setelahnya mendapatkan segala kemuliaan kala Fathu Makkah menunjukkan kebenaran risalahnya?, apakah Rasul kita bermegah-megahan kala itu?, tidak duhai sahabat simak surah indah ini kala rombongan sedikit lagi masuk ke Baitullah,

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا [١١٠:٢
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا [١١٠:٣
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

Adakah pesan Rabb untuk bermegah-megahan kala kemenangan itu sudah sangat dekat?, kala manusia-manusia penyembah berhala tak sanggup lagi mengatakan sesuatu apalagi melakukan perlawanan. Begitulah pelajaran-pelajaran yang lalu, pelajaran-pelajaran yang didapat oleh manusia lainnya menjadi penyegar Azzam, azzam yang kadang ia rapuh namun ia bisa diperkuat!, karena tujuan kaum muslimin abadi, karena mereka meyakini akan ada hari besar, hari berhimpun, hari perhitungan kelak.

Wallahua’lam

[K-SQ]

25. December 2012 by Mr.K
Categories: commons story | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *