KF#22-Siratan Qolbu

Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

(Al-An’am: 125)

Sahabat apa kiranya kenikmatan yang melebihi sebuah petunjuk. Jika sahabat berada di tengah kekalutan di padang gersang yang tiada petunjuk di sekelilingnya atau bayangkan kita tengah terkepung dalam kobaran api yang membuat kita tak tau arah keluar, kiranya bagaimana keriangan kita jika ada sebuah petunjuk yang mengarahkan kita untuk keluar dari masa sulit itu?. Kalau sahabat memperhatikan kala naik pesawat, para pramugara/i setiap kali akan menjelaskan prosedur bagaimana penyelamatan dilakukan. Kalau lampu di dalam pesawat padam kala proses evakuasi, maka para penumpang dianjurkan untuk mengarah ke jalur sesuai petunjuk lampu yang akan menyala di sepanjang lorong pesawat. Jadi bagaimana kiranya kalau hidayah itu tak ada, apakah kita masih bisa mengenyam ketenangan?, mungkin ada kenikmatan sesaat, namun hidayah yang dibimbing oleh cinta-Nya akan terasa abadi, indah dalam senang walaupun dalam duka-lara dunia.

Para sahabat kala mereka mendengar wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Rasul-Nya melalui malaikat Jibril, akan menyimak dengan seksama. Jika wahyu itu menggambarkan kesalahan seseorang, maka para sahabat merasakan bahwa ayat itu diturunkan untuk mereka. Kadang kala ayat yang berkenaan dengan azab neraka yang turun, mereka merasakan dengan sungguh-sungguh seolah merekalah yang akan di-azab. Kalau kita renungkan, kadang inilah sebuah upaya yang akan terus menghidupkan hati. Kala kita tilawah dan mentadaburi dustur ilahi, sudah sepatutnya kita merenungi dengan khusyuk akan tiap maknanya, akan ganjaran yang Rabb sediakan, akan i’tibar yang meliputi sirah para anbiya atau mungkin pesan hikmah seorang Lukman untuk anaknya.

Sehingga, agaknya patut terus menghidupkan hati, dengan mentadaburi al-qur’an seolah kitalah yang tengah menjadi subjeknya. Kala Rabb menjelaskan tentang hidayah dan pembiaran, kala Rabb menceritakan tentang bagaimana pengibaratan mereka yang dibiarkan sesat oleh Allah layaknya mendaki ke langit, mungkin di sana ada kita, yang sering lalai ini.

Wallahua’lam

#Dalam suasana persiapan di lembar-lembar pertama kehidupan baru di pesisir ^^

27. September 2012 by Mr.K
Categories: commons story, Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *