Was destined as hero

Membaca cara hidup orang besar selalu berakhir dengan inspirasi akan hidup yang jika dipahami dengan sebenar-benarnya paham akan berujung pada kenikmatan dan berfokus pada kebaikan serta meruntuhkan hal-hal kecil yang sering menjadi besar, ibarat api yang disulut atau bahkan disiram dengan minyak tanah yang berlebihan. Perjalanan orang besar dilingkupi dengan lelah, namun ada yang aneh, mereka dalam tidur terakhirnya ketika ajal mulai naik ke tenggorokan, fisik mereka ibarat tidur. Sepertinya hidup mereka ibarat assignment yang ajal adalah tanda putusnya assignment itu dan mereka berhasil menjalankannya. Sehingga mereka ibarat sedang tidur, nyaman dan damai hingga mahsyar harus dihidupkan dan yaumut taghabun (hari berhimpun) menjadi niscaya.

Rasulullah SAW

Hidupnya adalah berkah bagi umat, umat yang berada pada titik jemu antara 2 imperium, satu ahli kitab dengan mistik luar biasa (Roma) dan satunya adalah majusi sang penyembah api. Di semenanjung arab hiduplah mereka yang masih paganis dan sibuk membuat gandum untuk dijadikan tuhan, ya tuhan yang jika lapar dimakan juga. Umat seakan berada pada kejahiliyahan yang statis, perang antar kabilah, gender equality ibarat satu keajaiban, mulia karena kaya dan uang bisa membayar segalanya termasuk mengutus budak untuk mempertahankan negara untuk mewakilinya di medan laga. Umat berada pada garis paganis dan terpecah karena desentralisasi dan kehormatan kabilah yang mudah terkotak dan disulut api permusuhan seperti Aus dan Khazraj yang tak kunjung reda kala itu.

Ketika cahaya itu muncul dengan terang benderang, ketika ruh kudus (Jibril) mengajarkan secara berangsur qalamullah dan pada saatnya Muhammad Rasulullah SAW haruslah menyebarkan benih-benih kebaikan pada kaum yang sudah terlanjur keras dan menikmati kejahiliyahannya kecuali beberapa yang tetap teguh dengan ajaran Ismail AS. Menyebarkan kebaikan bukan menjadi kesenangan kala itu, ia bertaruh nyawa, gengsi kabilah, kehormatan suku dan kekayaan yang terancam. Muhammad disebut gila, dilempar batu, kotoran namun ketika pengaruh makin terasa itu semua berubah menjadi tawaran dunia, harta dan wanita. Begitulah perjalanan, di kala susah, dihantam badai pengucilan namun ketika mulai kuat ditawari dengan surga dunia yang melenakan mata dan nafsu. Namun keteguhan iman sudah menghujam, Matahari dan bulan di kedua tangan tak sanggup mengubah azzam dakwah rasulullah. Seketika itu pula ALLAH SWT menguji dan menggembleng nabinya dengan serentetan musibah, amul huzni, kehilangan pelindung hingga dikejar para budak Thaif yang menolak tauhid. Kebaikan tidak pernah mudah dalam penyebarannya, dibutuhkan azzam dan konsistensi. Ketika itu semua  telah menumpuk dan memenuhi pikiran disitulah klimaks jalan kebaikan itu terjadi. Rasulullah SAW setahap demi setahap melakukan kebijakan politis, kerjasama suaka ke Ethiopia lalu dilanjutkan dengan ekspedisi dan hijrah ke Yastrib, oasis yang subur dan indah. Klimaks dan penggemblengan kesulitan tadi membawa pada kecerahan madinah dan ketaatan anshar begitupun selanjutnya semua berakhir dengan manis ketika Islam jaya dan kebaikan menyebar ke Afrika, Eropa bahkan Asia. Sekira 10 abad, sudah cukup membuktikan imperium itu telah berjalan yang diawali klimaks kenikmatan dalam jalan kebaikan yang dilakoni Nabi Muhammad SAW.

Haekal berpesan imperium itu pada saatnya akan tua, ia akan runtuh dan digantikan.

Semua kedaulatan besar (imperium) akan jatuh karena kesalahan dan kelemahannya seiring waktu, namun tidak berarti imperium mulia itu akan hilang, ia akan kembali karena ia menjadi rahmat bagi sekalian alam. Pada saatnya ia akan kembali ke posisinya sedia kala dengan cara yang berbeda.

Yusuf Qardhawi: “Kalau dulu Konstantinopel kita taklukkan dengan pedang, insyaAllah Roma akan takluk dengan lisan dan pena kaum muslimin”

Wallahua’lam

[K]

 

20. September 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story, Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *