Trustworthy

Sebuah kepercayaan akan terus terbina ketika kepercayaan itu tidak disalahgunakan atau terjadi disfungsi terhadapnya. Kadang ada kepercayaan yang secara umum memang tidak boleh tersebar ke skup yang lebih luas, kadang ada kepercayaan perihal amanah dalam tampuk kepemimpinan, kadang ada pula kepercayaan yang berbentuk penjagaan rahasia, kadang ada kepercayaan yang hadir karena interaksi yang menyamankan. Sebuah trust tak bisa dipandang sebagai suatu yang typical/common, terkadang kepercayaan butuh penyimpanan dan treatment (perlakuan) khusus terhadapnya. Banyak orang yang kehilangan kepercayaan kepada orang kepercayaannya karena ada yang terbongkar, ada suatu hal confidential yang tercecerkan, terkadang ada pula amanah tampuk kepemimpinan yang disalahgunakan yang artinya tidak memenuhi aspirasi masyarakat atau skup lebih kecil yang dipimpinnya. Ketika trust sudah hancur, sulit sekali membangunnya kecuali penjelasan yang valid dan memang benar adanya.

Perihal penjagaan rahasia dan trust building ini, penulis kali ini ingin menyampaikan beberapa kisah tematik yang memang diharapkan menjadi kekhususan tema, akan sebuah kepercayaan:

Penjagaan Rahasia

Siapa yang tak kenal Abu Bakr Ash Shiddiq, Ash Shiddiq didapatnya setelah keimanannya yang sangat kokoh dalam bentuk ujian dan pertanyaan umat, apakah beliau percaya Isra’ dan Mi’raj, ketegasan jawaban dan imannya terpancar,

Apakah hal ini kalian dengar langsung dari Rasul?, kalau iya aku percaya.

Tegas tak ragu dan loyo ditengah badai ujian. Jadi satu hal wajar Rasul di saat ajal sudah menjadi tanda fisik beliau menyampaikan, kalaulah aku bisa membawa sahabat senantiasa di sampingku, aku akan membawa Abu Bakr. Masih ingat siapa yang menemani beliau di gua Tsur?.Abu Bakr membayar sebuah kepecayaan yang tidak mungkin bisa disandingkan dengan posisi lain, sehingga Rasul senantiasa berinteraksi dengannya terutama dalam hal yang memiliki tingkat rahasia super tinggi. Ini terjadi ketika Kaum Kuffar yang melanggar perjanjian Hudaybiyah, ketika sekelompok muslim diserang yang jelas-jelas melanggar perjanjian damai. Rasul sudah tak bisa mentolerirnya namun keputusan untuk “break up” perjanjian ini tidak disebarkan ke seluruh sahabat, hanya mereka yang dipercaya dan sangat tinggi kepercayaannya, dialah Abu Bakr, hingga hampir mencapai pembebasan makkah (Fathu makkah) yang bersejarah itu tak banyak yang tau bahwa pasukan berpuluh ribu itu akan menuju ke Makkah untuk membukanya dan melenyapkan berhala di dalam Ka’bah. Sebuah kepercayaan akan berlanjut jika kepercayaan itu terjaga dan terus terjaga. Masih ingat syukur kita yang senantiasa kepada ALLAH karena aib kita yang terus dijagaNYA tidak terbuka di khalayak?, pernahkah kita sadar bahwa mungkin aib kita sudah sebanyak buih di lautan namun Rabb menjaganya, masihkah Mat’surat dan zikir sore membahasi lidah kaum muslimin?, ALLAH SWT lah yang menjaga rahasia setiap insan, sebuah aib yang dipercaya akan meruntuhkan posisi dan ketokohan, ingatkah insan?

Kepercayaan dalam amanah memimpin

Perihal memimpin ini bukanlah satu hal yang mudah,

kullukum raa’in wakullukum mas’ulun ‘ala ra’iyyatih

Setiap jiwa adalah pemimpin namun dalam skup khusus ini penulis hanya ingin menilik rekam jejak para sahabat, ketia ajal Rasul kian dekat, Rasul mengutus Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan menuju Syria yang memiliki hubungan baik dengan penguasa dunia kala itu, Byzantium Romawi dibawah Heraklius. Namun ada selentingan bahwa pasukan tidak percaya dengan kapabilitas pemuda ingusan seumuran Usamah dan lagi dalam kontingen kali ini ada Umar bin Khattab seorang sahabat senior, kuat lagi taat. Kenapa?, Rasul telah menyerahkan trust-nya kepada pemuda ini,

Kalau kalian meragukan Usamah sama saja kalian meragukan ayahnya sebagai pemimpin perang (Zaid bin Harits)

Sederhana namun menancap, siapa yang tak kenal kegigihan Zaid bin Haritsah di perang Mu’tah yang mensyahidkannya bersama 2 sahabat masyhur sekaliber Ja’far dan Abdullah bin Rawahah?, Usamah memiliki ketangkasan dan memiliki jiwa kepemimpinan yang luar bisa, ia sekali lagi diberikan trust dan ia tidak menghancurkannya hingga ia berangkat pasca Rasul wafat, kontingen/pasukan menuju Syria yang sungguh mendebarkan sungguh fenomenal dalam perjalanan sejarahnya.

Trust karena memang nyaman

Pembaca yang baik, ada sebuah rahasia kenapa orang mudah menyampaikan rahasianya kepada sahabatnya, sepengetahuan penulis itu karena rahasianya terus terjaga, lebih banyak mendengar dan tidak menginterupsi kala sahabat sedang menyampaikan rahasia peliknya atau suatu hal yang perlu dijaga serta sahabat kita merasa nyaman dibuatnya. Trust yang memang hadir dengan sendirinya.

Pembaca yang baik, dalam sebuah kitab tertulis kapan kita akan menang, ketika Manhaj jelas, menjadi muslim sejati dan memiliki pemimpin tegas dan terpercaya. Untuk yang terakhir ini, kita mungkin sangat mendambakannya, seperti ungkapan cinta sahabat pada Rasulnya senantiasa,

Wahai Rasulullah yang lebih aku cintai dari ayah dan ibuku…

Sederhana namun tegas, cinta membuat trust tak mungkin sirna.

Wallahua’lam.

[K-Sedang kembali berupaya memanjangkan tulisan, versi STP sudah mulai membosankan dan tidak mengena]

08. August 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story, Kontemplasi | Tags: , | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *