[TRPe] Untuk…

Heningnya rasa kita yang punya, gumpalan harap kita pula yang punya. Sebagian hamba kini bertubi-tubi meluapkan rasa dengan kata, namun tak jarang hening namun rasa itu hadir dari tetesan air mata yang kian hari kian kering. Banyak cara mengungkap rasa, sehingga ia tak mungkin identik. Ada seorang insan diam-diam memberi makan yang papa dan serba terbatas. Ada hamba yang bertarung dengan pena walau hingga kini belumlah usai. Sebagian lagi berkoar di jalanan menuntut keadilan, karena adil itu kini tengah diperjualbelikan bagi si kaya, itu lebih mungkin. Begitulah rasa, apakah ia bisa ditahan oleh wujud kepura-puraan atau ia akan terus bertahan dengan ketulusan. Kini, saat ini, sebenarnya rasa apa yang perlu dipupuk agar kebaikan itu menjamur, ketulusan itu mengakar?. Kalau langkah-langkah kaki untuk kepentingan semu, kalau air mata kini untuk bahan gurauan semata, apakah rasa itu sudah menjadi bagian dari sensitivitas hidup?. Rasa, ya sebuah rasa yang haruslah hakiki dan konsisten, rasa apa itu?. Dari sebuah hadits shahih kudapati sebuah pesan, pesan ini tentang rasa,

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah saw bersabda : Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.

Pantas bagi mereka yang memiliki rasa “cinta dan tulus” memampukan diri tuk membantu. Pantas saja para alim selalu bertarung dengan tamak dan kikir. Pantas saja para pencari ilmu memikul “rasa” ini dengan segenap beban dan kepenatan. Pantas saja kalau “rasa” itu dinisbatkan pada-Nya. Aku, si dhaif ini, selalu merasa dan memimpikan akan ada satu masa para alim memimpin, para alim mengolah entitas rakyat. Karena apa?, karena definisi “rasa” bagi mereka adalah satu hal yang berbeda. Cinta dan ketulusan itu memampukan yang terbatas ingin berbuat lebih, dari situlah mereka mendapatkan kepuasan. Yang mana, kepuasan “rasa” ini tiada tergantikan oleh gemerlap selainnya.

Wallahua’lam

[K]

06. February 2014 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *