[TRPe] Merekahlah, selalu…

Merekah(gambaralam_com)Merekahlah senyum itu selalu tanpa henti setiap waktu…
Merekahlah sunggingan senyum itu, selalu tanpa pamrih, selamanya…
Merekahlah bunga-bunga hati, menjadi sejuk bila mendekat…

Kalau lelah memuncak apakah harus ada gerutu dan wajah yang terlipat. Kalau tengah dilanda bahagia yang tak disangka apakah perlu sunggingan senyum tiada henti, malah nanti bisa dikira sudah tak waras. Sehingga pada hakikatnya senyum itu boleh, namun sewajarnya, lurus niatnya bukan macam-macam. Suatu waktu aku didekati oleh seorang kakak kelas, ia sunggingkan senyum di lantai 2 masjid yang sebenarnya terpaksa dipanggil masjid dikarenakan belum ada bangunan permanen kala itu.

Senyumnya khas, senyum ingin berkenalan sesama saudara, saudara yang pada akhirnya akan dijemput, wafat dan tiada jasad yang berbekas hanyalah amal yang tersisa, itupun kalau imbasnya mengharum pasca wafat. Senyum itu terlempar selepas aku dan salah satu temanku, Alfinur menunaikan shalat dhuha. Pagi itu ia dekati kami yang tengah mencari jati diri. Perkenalan itu singkat, singkat sekali hingga hari-hari berjalan dan kami sadari ia adalah seorang aktivis. Apakah seorang aktivis haruslah sangar, militan yang direpresentasikan dengan perkataan yang meledak-ledak?. Bagiku kakak kelas ini telah menunjukkan karakteristik aktivis yang sepatutnya, senyum, salam dan sapa kala bertemu. Lalu?, lalu tetap seperti itu, layaknya menemukan saudara baru di tengah gurun gersang, kering dan buta. Ya bukankah kalau kita tersesat di gurun nan luas, akhirnya berujung pada kebutaan?, kebutaan tanpa arah padahal mata secara fungsional masih bisa melihat. Jadi pada tulisan gakJel ini ^^, aku hanya ingin memperjelas sebuah pelajaran yang tersirat; senyum dan tentukan arah hidup kita, arah yang menjadi bekal di kehidupan berikutnya!.

Wallahua’lam

[K]

07. January 2014 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *