[TRPe] Di antara ilalang…

Ilalang(farm7_static_flickr_com)Bertumbuhlah di antara ilalang yang semakin hari semakin tumbuh, semrawut, seragam pula warnanya…

Bertumbuhlah di antara ilalang, di antara kesemrawutan norma, kekacauan kekinian…

Bertumbuhlah di antara ilalang, kian hari kian tinggi mengalahkan rentannya kekuatan ilalang yang kian tinggi dan diterpa angin kencang…

Bertumbuhlah di antara ilalang, berkembang dengan warna baru, warna yang identik…

Berapa banyak ahli hikmah hidup dalam terpa sebelum mampu menghasilkan buah-buah pikir yang menohok, tajam dan berisi. Berapa banyak para ulama yang menjadi kharismatik karena penyampainnya yang teduh, bertenaga namun tidak memojokkan subjek tertentu. Begitupula, berapa ratus santri yang nantinya berubah menjadi tenaga-tenaga tanpa pamrih menerobos daerah yang belum terwarnai Islam, hening namun berimbas.

Aku me-recall lagi tentang syukur, yang mungkin kini tengah tumbuh di semrawutnya ilalang dunia. Syukurku satu bahwa aku sadar dengan bergejolaknya keadaan dan menuntutku untuk terus sadar dan ihsan. Bukankah kesadaran fisik bisa jadi tidak melibatkan Allah swt dalam tiap keadaan?, mungkin fisik sadar sesadar-sadarnya tapi belum tentu kehadiran-Nya, disertakan. Bagiku inipun bukanlah sesuatu yang mudah, karena siapa aku?. Kalau aku adalah seorang masyaikh, ulama besar atau panutan umat, mungkin saja itu terjadi TAPI aku hanyalah insan dhaif yang seperti bertumbuh di ilalang, kadang terlempar juga bersama ilalang yang makin meninggi itu. Tapi serta-merta jatuh, aku kan coba bangkit lagi, jatuh…bangkit lagi, terus seperti itu.

Sepanjang pekan ini aku mendapatkan berbagai hikmah hidup, dari keharusanku meningkatkan kualitas keilmuan namun pada saat yang concurrent membutuhkan tenaga ekstra untuk menyeimbangkannya dengan hole yang menganga di aspek ruhiyah. Hikmah ini akan coba kuolah menjadi langkah-langkah kecil menuju perbaikan tuk fase yang kesekian kalinya. Aku merasakan ada yang bertumbuh dalam jiwa, ada skala yang berbeda dalam masa, begitupula ada tantangan yang constraint jika dibandingkan dengan fase-fase hidup yang lalu. Kini aku sempatkan raga menyatu dengan jiwa, memadu lagi sendi-sendi yang mungkin tengah beku. Ya sendi-sendi buah pelajaran hidup yang sepatutnya menjadi bahan bakar di fase ini.

Aku si dhaif ini… membutuhkan warna ibarat pupuk bagi bunga cantik di antara ilalang yang kian hari kian tumbuh. Aku si dhaif ini membutuhkan pasokan ibarat air yang memberikan tenaga untuk bertindak. Aku si dhaif ini pada akhirnya membutuhkan penopang jiwa, sebuah taqarrub, seni mendekatkan diri pada Rabb semesta alam.

Selanjutnya, semoga imbas-imbas fase pelajaran ini berdampak pada segala hal; keluarga, studi hingga bekal hakikat bertumbuh di fase selanjutnya.

Wallahua’lam

[K]

08. January 2014 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *