TRP-Similarity

Percaya atau tidak, dalam hidup ada beberapa hal yang memiliki perilaku yang sama. Dalam treatment (perlakuan) kesehariannya bisa dilakukan pendekatan solusi yang identik. Ketika kita sedang mengerjakan tugas A atau katakanlah hobi A, adakalanya tugas/hobi B dapat dilakukan strategi yang sama untuk mempercepat implementasi dan hasil yang memuaskan. Pembaca yang baik, salah satunya adalah korelasi membaca biografi orang hebat dan membaca jurnal ilmiah. Membaca biografi yang setebal bantal itu sangatlah membosankan, di awal biasanya kita akan disuguhi satu pendekatan umum, penjelasan umum tentang sejarah itu bermula. Contoh kasus biografi super menarik Abu Bakr Ash-Shiddiq yang ditulis oleh Muhammad Husein Haekal. Di awal buku kita disuguhi analisis berbagai biografer, biografer A menulis ini, biografer B berpendapat ini dan seterusnya. Ibarat makanan dengan pendekatan prasmanan, kita disuguhi banyak pilihan yang membingungkan. Namun pembaca, disinilah titik tantangan membaca biografi orang besar, karena ia terlalu besar sehingga kehidupannya diteliti mendalam dan adakalanya itu memunculkan perbedaan pendapat. Terus membaca dan terus membaca, kita akan disuguhi content sebenarnya dari biografi tersebut, bagaimana Abu Bakr Ash-Shiddiq mengatur administrasi, bagaimana ia menentukan wazir (penasihat) dan bagaimana keputusannya kala harus mengutus seluruh alumnus perang badar ketika hendak menumpas Musailamah di Yamamah. Serta tak ketinggalan pesan-pesannya yang fenomenal akan keteguhan,

aku tidak akan mungkin menyarungkan pedang ALLAH yang sudah terhunus

Pesan itu muncul ketika banyak masukan agar Khalid bin Walid diganti sebagai panglima utama ekspedisi Yamamah dan perang lainnya, namun keteguhan pesan di atas sudah cukup menjawab pendirian dan sikap apa yang akan diambil oleh Khalifah Rasul pertama itu. Pada mulanya memang disuguhi kerumitan referensi dan analisis, karena pembaca ingin diantar terlebih dahulu ke cara/metode si penulis agar terbiasa.

Lantas apa korelasinya dengan membaca jurnal ilmiah?

Aha, jurnal ilmiah menyisakan tantangan yang hampir sama, ada keengganan membacanya ketika sudah melihat persamaan-persamaan matematika yang semrawut itu, namun itulah underlying theory (teori dasar) yang pada hakekatnya memang rumit dan butuh waktu ekstra untuk mengulang-ulang seperti halnya prolog dari sebuah biografi tebal. Semakin sabar dan terus melaju, semakin dekat kita sampai pada main idea dari penulis jurnal yang mana ketika kita sudah mendapat intuisi itu, baru kita akan merasakan dan menunduk takzim akan idenya yang cemerlang dan state-of-the-art itu.

Pendekatan 2 sisi hidup adakalanya bisa disatukan dalam pendekatan yang identik. Sama halnya ketika mempelajari lawan bicara, pendekatan diam ketika berdiskusi dengan orang yang suka berdebat akan kurang lebih sama dengan pendekatan diam ketika berbicara dengan tokoh dalam masyarakat. Jangan menimpal, tak perlu interupsi, karena pada akhirnya jika sudah selesai bicara, tukang debat akan lupa apa yang ia bicarakan tadi sehingga impelementasi akan kurang cepat dan realistis. Serta diam kala berbicara dengan tokoh karena mereka sudah bergerak di skup ide, bukan implementasi lapangan, yang pada akhirnya mereka-mereka yang berada di tataran teknis pulalah yang mengerjakan. Sehingga diam selalu sering menjadi solusi dalam interaksi, dan sesekali menghentak dengan pemikiran cemerlang jika diberikan kesempatan berbicara.

Wallahua’lam

[K-TRP(Tulisan Rutin Pagi)]

26. September 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story, Kontemplasi | Tags: , | 2 comments

Comments (2)

  1. saya mulai menikmati TRP-nya,
    keep posting ^^b

  2. hehe..InsyaALLAH ^^b (ikutan emoticonnya)

Leave a Reply

Required fields are marked *