TRP-Middleware

Dalam dunia teknologi informasi, ada yang namanya middleware, dia adalah perangkat di tengah yang menghubungkan perangkat lainnya. Kadang ia bisa menjadi pemantau dan pengalih beban antar 2 perangkat, yang nantinya ada semacam keseimbangan yang tercipta. Middleware tak terlihat secara kasat oleh user dan hasil akhir, namun ia mengendalikan semua.

Dalam kehidupan, jika sahabat ingin tidak “inheren” dalam amanah, ada baiknya senang berbagi. Ya karena ketika jiwa sudah terlanjur dalam kenikmatan menanggung beban yang banyak lalu meng-cover semua, akan muncul sebuah rasa, bahwa kita sajalah yang mampu melaksanakannya. Kadang melepas sebuah amanah kecil saja menjadi berat, karena kita terlanjur antipati dan menikmati menjadi pemimpin. Namun pembaca, cobalah mensinergikan lalu melihat beban diri lalu lakukan koordinasi reguler yang berbuah pada penyeimbangan dan penyaluran saran serta tindakan-tindakan nyata yang lebih tangguh dan cepat. Bagi mereka yang memimpin sepatutnya lebih sering menginisiasi dan memantau yang telah berjalan, kadang sesekali perlu men-take over namun kalau senantiasa men-take over ada sebuah gejala berat yang menerkam kemudian hari, bernama kegagalan regenerasi.

Mungkin pembaca tak percaya, namun dampak sistemik penanggungan beban yang tidak merata akan berbuah kekacauan atau kelancaran yang berbuah kendala sistemik setelahnya. Oleh karenanya, kakek Yamamoto pernah berujar,

Don’t let chief  commander to the front line…

Agar ada keseimbangan gerak seperti shalat jama’ah yang rapih sedap dipandang, terserah muda atau tuanya ia dalam perjalanan berkelompok, tawarkan dan berikan ia kepercayaan agar makin matang dan kesemuanya bisa membuahkan hasil manis setelahnya. Oleh karenanya Zaid bin Tsabit perlu menyetor hafalan qur’annya ke Rasulullah agar tidak hilang al-qur’an itu sebelum dituliskan dan oleh karenanya pula Rasul dalam waktu tertentu perlu diperiksa hafalannya oleh Jibril as. Lalu kau lihat bagaimana Abu bakr sebelum wafatnya memastikan siapa yang akan menggantikannya, begitu pula bagaimana kriteria pemimpin di medan laga yang bergejolak.

Pembaca yang baik,

Kesemua langkah gerak akan semakin ringan kalau bersama, namun ketika semakin ringan bukan berarti langkah kita hanya sampai di sini. Ya setelahnya perlu ada yang dikreasikan lagi, perlu penciptaan ladang baru, perlu tantangan baru, perlu target muamalah baru dan perlu target akademis baru. Terkadang bosan kan?, namun itulah jalan dunia ini. Selepasnya ada keindahan yang penulis yakin bahwa penulis tidak akan pernah sampai pada tahap kegemilangan seperti ini,

Kala itu sudah 10 tahun Umar bin Khattab memimpin, daulah semakin luas, negara Islam semakin bermanfaat dan menyejukkan. Setelahnya Umar mulai merasa bosan, ia sudah mulai rindu bertemu Tuhannya.

Langkah kita tidak pernah bisa menandingi para generasi awal, namun inspirasi mereka selalu menyalakan api jiwa yang terkadang terbawa angin atau hampir redup..ya sebuah semangat yang penuh dengan instabilitas kan?

Wallahua’lam

[K-TRP (Tulisan Rutin Pagi)]

06. January 2012 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *