TRP-Menahan Diri

Masih dalam episode dimabuk asmara…

Muncul suara-suara sumbang di belakang, ehm..ehm…uhuk…uhuk…suit…suit..

Terkesan batuk yang dipaksa, makanya minum obat dulu sebelum baca ^^.

Oke kita masuk ke babak serius ya,

Dimabuk asmara oleh sirah khalifah kedua yang sudah sampai di chapter follow-up pembukaan mada’in yang berpindah kuasa dari Yazdigird penguasa Persia ke seorang sahabat yang mayshur bernama Sa’ad bin Abi Waqqash. Kalau di TRP yang lalu kita telah membahas bagaimana sulitnya membagi ghanimah dikarenakan banyaknya hasil ghanimah pasca ghazwah kadisiah lalu merangsek maju menguasai istana-istana megah kisra di Mada’in. Selepasnya, Sa’ad mengirim surat kepada Amirul Mukminin tentang tentara Yazdigird yang mulai berkumpul kembali di kawasan Jalula, mereka mencoba membangkitkan lagi semangat agar bisa menaklukkan kaum muslimin yang sudah memasuki ibukota mereka di Mada’in yang indah dan luas itu. Kini mereka dipimpin oleh Mehran, singkat cerita, Amirul mukminin memerintahkan Sa’d untuk mengutus Hisyam bin Utbah sebagai panglima dan disertai para pejuang tangguh dibawah komando sahabat pemberani bernama Qa’qa bin Amr. Selepasnya Jalula dengan pertempuran yang sangat sengit dan seperti biasa, pasukan kaum muslimin memiliki jumlah tentara yang jauh lebih kecil namun aqidah dan tauhid yang menghujam di dada membuat mereka kembali diberkahi ALLAH swt dan memenangkan pertempuran kala itu.

Ada yang menarik pasca kekalahan pasukan persia di Jalulah, kala itu, Yazdigird yang merupakan kisra (kaisar) Persia, melarikan diri ke daerah Ray (dekat kota Teheran saat ini). Jalula dan Ray hanya tinggal maju saja, yang mana hanya dipisahkan oleh gunung. Namun kala Sa’d kembali melaporkan hasil kemenangan pasukannya pada Amirul mukminin, kita kembali melihat visi yang kuat sebagai pemimpin dari Umar bin Khattab r.a, dalam suratnya berisi:

Ingin sekali saya kiranya di antara Sawad dengan gunung itu ada penyekat, mereka tidak dapat mencapai kita dan kita pun tidak dapat mencapai mereka. Buat kita cukup daerah pedesaan Sawad it. Saya lebih mengutamakan keselamatan pasukan Muslimin daripada rampasan perang.

Indah sekali kan sahabat?, surat yang sangat santun dari penggenggam semenanjung arabia kala itu, teratur, visioner dan teguh. Apa makna dari surat Umar kepada Sa’d ini?, mari kita simak sirah yang penulis nukil dari sirah Umar oleh Husein Haikal,

Semua yang dikatakan Umar tepat sekali. Ketepatan pilihannya bukan karena mengutamakan keselamatan kaum muslimin saja, tetapi lebih dari itu, pasukan muslimin belum lagi dapat mengamankan seluruh Irak dan memberikan kehidupan yang lebih tenteram dan stabil.

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa pembukaan wilayah oleh kaum Muslimin bukanlah sebuah prestis  dan kepuasan sesaat lalu merampas dan menghinakan penduduk sekitar, sekali lagi tidak wahai pembaca. Oleh karenanya Islam datang dengan Rahmat dan selalu mengirimkan 3 opsi dalam pembukaan wilayah, berislam atau membayar jizyah atau perang. Ya selalu begitu. Dan seperti yang kita dapati kali ini, bahwa visi pemimpin dalam membentuk peradaban diperlukan dan kita lihat sebuah teladan yang sangat luar biasa dari Amirul mukminin dalam visinya yang gemilang.

Oleh karenanya, dalam muamalah diperlukan kesantunan, pemimpin yang capable, tidak gegabah dan tangguh.

Wallahua’lam

[K-TRP(Tulisan Rutin Pagi)]

26. March 2012 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, Kontemplasi | Tags: | 2 comments

Comments (2)

  1. Pas nih kak, di jakarta mw momen pilgub :d
    ini masuk dakwatuna kah?

  2. Gak masuk, ini serial TRP aja, moga2 ada cagub yang baca ini…hehe. Ada satu dari TRP yang masih pending, semoga published nantinya di dakwatuna.

Leave a Reply

Required fields are marked *