TRP-Kisah Burung Perkutut Itu

Angin sumringah pagi itu, kala induk perkutut bersiap keluar sangkar di pohon legendaris dekat taman sekolah. Induk perkutut setiap pagi mencari makan untuk anaknya yang masih kecil dan seekor lagi sedang mengalami masa pubertas anak remaja. Hah??, mungkin sebagian pembaca mulai ngangak (kalau bahasa betawinya ^^), ya perkutut juga mengenyam masa-masa muda kan?

Si kakak perkutut yang sudah remaja itu, kala ayah dan ibunya keluar sangkar tiap pagi selalu saja nekat melatih kepakan sayapnya, apakah sudah mulai kuat atau masih saja lemah dan tak mampu terbang. Kadang, dari dahan teratas dimana sangkar mereka berada, ia coba melompat dan mengarah ke dahan ketiga dari atas, ia kepakkan sayapnya lalu gagal dan ia coba lagi, terus begitu hingga mendekati waktu dhuha, kala sinar pagi mulai naik sepenggalah. Setiap pagi, si kakak perkutut selalu begitu dan kedua adik kecilnya selalu menyemangati si kakak untuk terus berlatih lalu memanggil kakaknya jika waktu antara latihan dan kepulangan orang tua mereka sudah mulai mendekat. Pekan demi pekan, dengan konsistensi yang apik, sayap si kakak perkutut mulai kokoh dan ia mampu terbang turun ke dahan demi dahan pohon legendaris itu lalu ia mampu mengepakkan lagi sayapnya dan naik bukan dengan melompat kecil dahan demi dahan namun mulai terbang layaknya si ayah dan ibunya.

Suatu pagi, kala libur nasional negeri antah barantah itu tiba, induk perkutut tak keluar rumah, mereka memang sengaja menyetok pakan untuk 2 hari berturut-turut. Kala makan siang tiba, si kakak perkutut ingin memberi kejutan pada ayah bundanya, ia mulai mengepakkan sayap dan mulai terbang tinggi yang membuat ayah bundanya jantungan, deg-degan dan cenat-cenut (apakah di dunia perkutut ada obat oskadon pancen oye dari Ki Manteb yang merebak iklannya di awal tahun 2000-an itu ? 😀 ). Lalu kakak perkutut dengan mulus mendarat dan kembali ke sangkarnya dengan gagah dan perkasa. Kini ayah bunda perkutut begitu kagum akan progress anaknya yang berada pasa masa-masa muda itu, aha…masih ingat apa kata bang haji?, masa muda masa yang berapi-api kan? @@

Lalu awal pekan kala libur nasional usai, yang mana para penikmat perburuan burung di sekitar pohon legendaris dan sudah termakan usia itu tak ada lagi, induk kembali mencari pakan seperti biasa. Kini si kakak perkutut mengadakan kuliah umum bagi kedua adiknya yang masih imut-imut itu, ini qabasat (quotation) dari si kakak perkutut;

Duhai adikku yang masih kecil, nanti akan ada masa kalian harus terbang, menikmati angkasa lalu melihat segala cipta dari Rabb sekalian alam. Nanti akan ada masa kalian harus terbang membantu bunda dan ayah untuk mencari pakan, apa kalian selalu mau untuk disuapi?, tidak kan?. Nanti akan ada masa kalian harus terbang untuk bermuamalah, mengenal akan luasnya dunia dan interaksinya yang penuh i’tibar. Satu hal yang ingin kakak tegaskan,

Terbang di awalnya kala kalian mencoba untuk mengepakkan sayap sejadi-jadinya, bukanlah masalah kecakapan yang datang pada waktunya, namun ia adalah masalah keberanian apakah kalian berani melompat dari sangkar kita yang tinggi lalu sekuat tenaga mengepakkan sayap hingga tak terjatuh ke dasar. Jadi ini masalah keberanian melompat, bukan menunggu hingga kemapanan itu terlihat dari usia kalian. Kakak hanya berpesan, beranilah melompat karena itu sama halnya dengan ikhtiar manusia-manusia di luar sana, lalu hasil kita serahkan pada yang menentukan hasil, Rabb, Allah swt sang pemilik langit dan bumi.

Wallahua’lam

[K-TRP(Tulisan Rutin Pagi)]

27. March 2012 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, Kontemplasi | Tags: | 2 comments

Comments (2)

  1. Saya malah keingetan scene awal the legend of guardians: the owls of ga’hoole
    hehhe ^^v

  2. Absolutely, inspirasinya dari situ..hehe.

Leave a Reply

Required fields are marked *