TRP-Constraint

Hadir kuliah pagi itu ibarat persiapan perang, tak bisa menguras tenaga di malam harinya, ronda, begadang atau semacamnya kecuali memang kebagian tugas hirosah (jaga malam). Ibarat sebuah perang yang membutuhkan sesuatu yang prima, musuh akan menghadang di pagi buta. Analogikan musuh itu adalah slide demi slide di kelas pagi, jika kekurangan tidur pada malam harinya, musuh(slide) itu tak bisa dengan cekatan dan fokus menaklukkan/memahaminya. Sehingga pada akhirnya untuk mencegat musuh di pagi hari membutuhkan istirahat cukup di malam hari sebelumnya agar siap siaga di pagi hari tanpa letih lesu, terkantuk dan pura-pura paham di kelas, menganggukkan kepala padahal bel paruh waktu baru berbunyi. Penulis merasakan beberapa kali kejadian yang menyusahkan ini, sebuah equation matematika sedang menari-nari di slide professor bersamaan dengan 0-1-0-1 nya mata, seakan ia On-Off-On-Off dan sangat menyulitkan. Pada akhirnya, penulis ingin menyertakan satu tulisan yang dulu pernah tertulis yang pada kesempatan ini ingin di re-write guna mengkorelasikan dengan kondisi penulis hari ini.

Siti Aisyah Ra pernah menyampaikan 3 tokoh utama kaum Anshar, Sa’ad bin Muadz, Usaid bin Hudhair dan yang terakhir adalah Abbad bin Bisyir. Kita akan menengok sejenak tentang salah satu dari mereka, Abbad bin Bisyir. Seperti yang kita ketahui, Anshar adalah inti dari dakwah masa awal, Anshar adalah kaum yang ikhlas dan senantiasa dalam naungan Rasululullah pasca hijrah, keutamaan Anshar sungguh tak bisa dihitung. Siapa Abbad?

Hari ini ingin kuceritakan satu kisah tentangnya yang membuat hati ingin bertemu orang-orang seperti ini setelahnya,

Selepas perang Dzatur Riqa’, para pasukan muslimin menginap di perjalanan dan membangun tenda di satu wilayah. Hirosah ketika itu diamanahi kepada Ammar bin Yasir dan Abbad sendiri, hirosah adalah tugas menjaga, tugas yang sederhana, tetap terlelap di waktu malam, namun sebenarnya ada amanah dalam tugas sederhana ini, yaitu memastikan tenda dan kaum muslimin yang beristirahat tetap aman. Abbad melihat Ammar kelelahan selepas perang, ia pun menganjurkan Ammar untuk istirahat terlebih dahulu, dan nantinya hirosah bisa dilakukan bergantian.

Sepanjang hirosah, Abbad berpikir “kenapa aku tidak melakukan Qiyamullail saja sembari mengisi hirosah”. Lalu ia pun bangun dan beribadah pada Tuhannya dengan khusyuk dan syahdu. Tak lama dalam keheningan itu, panah musuh mengenainya, ternyata ada penyusup yang masih menguntit pasukan, namun yang membingungkan, Abbad tetap hening dalam Qiyamullail, lalu panah kedua pun mengenainya. Tapi…Abbad tetap khusyuk dengan shalatnya, ada apa?. Tak lama, sebelum tasyahud akhirnya ia membangungkan Ammar yang mendapati rekannya sudah terluka. Setelah terjaganya Ammar dan suara yang mengusik, para pasukan musuh di malam gelap itu kabur untuk menghindari pertarungan yang bisa ditimbulkan. Ammar, sama seperti kita mungkin heran, kenapa?, kenapa Abbad tidak langsung membatalkan shalatnya dan membangunkan Ammar untuk sigap menghadang musuh?

Ammar bertanya, “Mengapa aku tidak dibangunkan ketika kamu dipanah untuk yang pertama kali tadi?”

Abbad menjawab,

Ketika aku shalat tadi, aku membaca beberapa ayat Al-Quran yang sangat mengharukan di hatiku sehingga aku tidak ingin memutuskannya. Demi Allah, kalau tidaklah akan menyia-nyiakan pos penjagaan yang ditugaskan Rasul kepada kita menjaganya, sungguh aku lebih suka mati daripada memutuskan bacaan ayat-ayat yang sedang kubaca itu.”

Begitulah Abbad bin Bisyir dengan kecintaannya yang sangat kepada Rabb dan rasul-Nya.

Bagaimana dengan aku dan kau?, pernahkah kita meresapi kalamullah yang utuh hingga zaman berakhir itu, karena ia telah dijamin kemurniannya hingga bumi mengalami usia akhirnya.

Wallahua’lam

[K-TRP(Tulisan Rutin Pagi)]

25. October 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *