TRP-Apa salah Kita?

Hujan tak kunjung reda, bumi formosa dibasahi oleh nikmat tiada tara.

Panas terik seakan tiada, kini mendung berganti, hingga sayyidul ayyam menyambut hari ini.

Pikiranku melayang ke bulan Agustus 1947, kala perjanjian Gandhi dan Muhammad Ali Jinnah mendeklarasikan persamaan. Namun takdir berkata lain, kala Gandhi harus tiada dan kebebasan beragama, hak dan kesetaraan lainnya berubah total. Pikiranku melayang ke bulan Agustus 1947, kala Punjab memerah, kala Kashmir belum juga damai kala Hiderabad masih diliputi kegundahan tingkat tinggi. 7 juta lainnya selamat dan berhasil mengungsi menuju Pakistan, namun apakah adil kiranya, mereka yang 40 juta harus ditindas dan dilucuti di tanah sendiri?, adilkah sahabat?

Pikiranku melayang menuju 1995, masih di hujan rintik pasca subuh yang gelap dan sedikit mengguncang suasana hati. Masih ingat sahabatku, kala Srebrenica memerah dengan 7000 muslimin yang tiada bersalah harus syahid?. Apakah kita sejahat itu, hingga konspirasi ini seakan tiada akhir. Kini Ratko Mladik sedang diadili di dunia internasional, kini Srebrenica seakan meminta tanggung jawab para penjahat, kini syahid dan syahidah yang sedari dulu nyaman, mungkin sekarang riang gembira. Beginilah akhir para diktator, beginilah akhir para penjahat perang, beginilah akhir dari konspirasi yang pasti ada akhirnya.

Pikiranku masih melayang, kini menuju shabra shatilla dan terbang pula menuju jalur gaza, diam sebentar di Suriah lalu berangkat lagi ke Kabul. Apakah kiranya kita mengancam, apakah kiranya terlalu jahat hingga harus diendapkan, dikurangi, hingga genosida menjadi solusi?. Sejahat itukah kita sahabat?

Aku tersadar, akan lembar-lembar sirah dahulu. Aku tersadar kala Ja’far bin Abu thalib, kala Ustman dan istri tercinta, kala sahabat lainnya yang mahsyur di semenanjung arabia, harus angkat kaki, kala Habasyah (Ethiopia) menerima dengan cinta. Aku tersadar bahwa kepelikan ini memang sunnatullah, bahwa ALLAH swt menguji mereka yang mengaku beriman. Bahwa Rabb ingin kita semakin dekat, kala dada sudah mulai sesak, kala amarah sudah tiada bisa dibendung. Kini, sahabat, kini, hanya kesabaran diatas kesabaran dalam penindasan. Kini, hanya butuh kepekaan hati, kala kita berada di belahan dunia yang damai, kini kita hanya butuh saling rasa, saling peka, itu saja kan?

Jangan tanyakan lagi tentang Hasan yang abi-nya syahid di Jalur gaza, jangan… jangan tanyakan lagi para tahanan yang kini harus mogok makan di penahanan Israel. Jangan, jangan tanyakan lagi…kita hanya butuh kepekaan, kepekaan dalam renung, kepekaan dalam doa.

Lalu, aku tutup dengan keindahan paragraf dari seorang syaikh, agar kita merenung. Salahkah kita?

Hanya sistem Islam sajalah, dan bukan segala sistem lain yang dikenal dunia, yang memperlakukan golongan minoriti dengan perlakuan yang manusiawi. Berdaulatnya sistem Islam di seluruh dunia sajalah yang akan dapat menghilangkan pemikiran perkauman yang amat dibenci itu. Kalau kita menuntut agar sistem ini diberi kesempatan untuk berdiri sekurang-kurangnya di bahagian Dunia Islam saja,  maka apa yang kita tuntut adalah agar seluruh umat manusia dapat hidup dalam suatu masa yang terang-benderang, suatu masa yang penuh kemuliaan, dalam bentuk yang pantas untuk dunia manusia.

Pikiranku kembali melayang, di masa Umar bin Khattab, kala Persia takluk di Mada’in dan Kufah serta Basrah mulai membangun. Kala itu, para masyarakat hidup tenteram, kala itu Zimmi (kaum yang tidak berislam namun bersedia membayar jizyah) hidup aman dan makmur dengan tanah olahannya.

Hujan terus turun, tiada tanda akan berhenti…

Wallahua’lam

[K-TRP(Tulisan Rutin Pagi)]

17. May 2012 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *