TRP-2 sifat

Aku sedikit geram dengan waktu, beberapa ayat dalam qalam-Nya membuatku merasa bersalah atas ketidak-proporsionalan waktu belakangan ini. Dunia mengkonsumsi jam-jamku terlalu banyak, hingga beberapa buku tertunda, hingga pelajaran dari alam sedikit terhambat, hingga porsi wawasan seakan menjadi sempit dan berakhir pada ke-erroran interval hidup. Kalau ada satu tombol restart yang menyegarkan node-node kebiasaan dan keberpihakan jiwa akan tawazun, akan kutekan tombol itu sekarang juga. Tapi apakah kegeraman dengan waktu membuat kita menjadi keras akan tazkirah yang masuk?, apakah uzur membuat persepsi temporal menjadi melekat?, atau aku mulai menutup satu slot keberpihakan terhadap input, hingga prinsip keep foolish and hungry ala Jobs itu telah lama hilang. Kadang setelah rentang waktu tertentu, kita cenderung keras akan input yang masuk, cenderung sulit menerima perbaikan yang tulus dan pada akhirnya berujung pada fluktuatifnya jiwa terhadap impulse perbaikan tatanan sosial yang lebih besar.

Hari ini kita coba telaah sifat kepemimpinan ala Umar al-farouq, kala usia kekhalifahan Abu bakar yang hanya 2 tahun lebih sedikit menuntut seorang Umar menjadi pengganti yang paling pas, ideal dan acceptable. Kalau khalayak melihat sesuatu sebagai keganjilan dan tidak populis, kadang analisa tajam seorang pemimpin berkata lain. Siapa sangka kebijakan besar pertama yang diambil adalah pemutusan kontrak kerja Khalid bin Walid sebagai komandan perang digantikan Abu ubaidah bin al jarrah, ketika perang masih menggila?, ketika pasukan masih membutuhkan pemimpin ahli taktik dan meneduhkan pasukan dengan ketangkasannya?. Namun itulah keputusan Umar, agar pasukan tidak terlena, agar tiada pengkultusan pasukan muslimin bahwa bila Saifullah sang pedang ALLAH memimpin, kita pasti menang. Apa yang kita dapat?, bahwa urgensi aqidah lebih pantas menjadi pertimbangan utama daripada rentetan kemenangan. Lalu pembaca, percaya atau tidak, satu hal yang tidak kalah penting adalah tentang persatuan kaum atas nama ketauhidan. Coba pembaca bayangkan, ada seorang RT yang dicintai rakyat, merubah regulasi dan memperbaiki banyak hal dengan strategi jitu dan meneduhkan, namun tiba-tiba keluar surat pemberhentian dirinya. Percaya atau tidak, jiwa RT itu yang pertama terluka, namun lagi, karena kesatuan sahabat dan generasi awal kala itu bukan lagi tentang muhajirin dan anshar, bukan lagi tentang si kaya dan si miskin, sehingga lahir ketaatan yang luar biasa dan menerima apa yang diputuskan oleh pemimpinnya, karena satu hal yang mereka yakini bahwa setiap keputusan pemimpinnya selalu berpihak pada rakyatnya.

Sehingga kita lihat dalam sirah sahabiyah, tiada pembangkangan Khalid kala diberhentikan, ia menerima dengan lapang dada. Sungguh kolaborasi indah antara kapabilitas pemimpin dan ketaatan bermula dari aqidah yang terbina.

Sifat lainnya akan gaya kepemimpinan Umar adalah memantau secara detail sub-sub pemimpin dibawahnya, dengan bijak, penuh taujih membara dan analisa keadaan seolah-olah ia berada bersama para gubernurnya di wilayah yang makin meluas kala itu. Sifat ini membawa ketenangan kala terjadi kegentingan serta memberikan kita pelajaran tentang koordinasi dan pemisahan fokus antar pemimpin utama dan pemimpin di wilayah itu. Hal ini terekam jelas kala Sa’d bin abi waqqash terus berbalas surat kala penaklukan persia di Mada’in.

Dapat disimpulkan bahwa pemimpin butuh, analisa tajam walau terkesan ganjil di awalnya, ia harus tau kondisi entitas yang dipimpin, terus memantau dan memberikan taujih membara serta bijak dalam setiap keadaan. Pada akhirnya, akan tumbuh ketaatan, kala masyarakatnya berujar teguh,

Kita tidak pernah mendapati pemimpin kita ini lebih sibuk memikirkan dirinya daripada memikirkan kita…

Tsiqoh itu lahir dari yang tampak, dari tadhiyah yang melekat dan implementatif.

Wallahua’lam

[K-TRP(Tulisan Rutin Pagi)]

09. May 2012 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *