Tanya seorang Bapak

Terang tak ada yang suka dengan keterbatasan yang dimiliki, kala orang lain membutuhkan bantuan namun di saat yang sama kita tak mampu memberikan setitik bantuan pun, tidak sedikit pun. Begitulah kekurangan yang dimiliki manusia, kala ingin membantu namun boleh jadi pada masa itu kita tak mampu. Hari ini kala sedikit tergesa menuju kereta bawah tanah ada seorang kakek bertanya,

Qing wen yi xia.. (Boleh tanya sedikit)

Lalu karena tergesa aku di awal mula tak terlalu memperhatikan, namun kala sekali lagi beliau bertanya, kudekatkan muka dan bertanya,

Shenme? (Apa?)

Namun ia urung bertanya karena ia memastikan lagi,

Ni bu shi zhong guo ren ma? (Anda bukan orang Taiwan ya?)

Lalu kujawab,

Bu Shi… (bukan), sambil mengarahkan jemari ke infomation center.

Lalu ia tak bertanya lagi, tubuhnya sedikit lemas namun aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku masih terus memikirkannya, ku menoleh ke belakang ketika ia ingin bertanya lagi kepada yang lain namun ada seorang bapak yang acuh tak membantu. Namun ketika aku menoleh sekali lagi, ada orang yang tengah membantunya untuk mendengar, ya untuk mendengar pertanyaan si bapak/kakek tadi. Boleh jadi, kita tak mampu membantu namun dengan memahami pertanyaannya telah membuat hati ini terpuaskan untuk mendengar keluhan sesama, kesulitan sesama atau bahkan kekhawatiran sesama. Kadang kemampuan seorang individu tak mampu menyelesaikan sesuatu. Maka kita membutuhkan banyak orang yang bergerak bersama, untuk sekedar kebaikan yang secuil. Untuk apa bergerak bersama dalam kebaikan?, bukankah dunia aman-aman saja, untuk apa memikirkan orang hah?

Sederhana saja, apakah sebuah meja yang berat mampu diangkat oleh seorang saja?, atau apakah sebuah mobil mogok dapat dengan sigap berjalan lagi tanpa bantuan montir?, apakah salah kalau ada secuil manusia bergerak bersama dalam berpikir dan berupaya mengatasi problematika umat?, apakah salah duhai sahabat?

Kalau tidak, dukunglah mereka, kalau tak suka label mereka dukunglah ketulusan hati mereka, jangan mengumpat dan suka berdebat. Karena sekuat apapun kalian berdebat, mereka tak akan menggubrismu, karena mereka berfokus pada langkah dan mereka yakin yang di Arasy sana tak suka melihat mereka berdebat sengit walaupun itu untuk kebaikan.

Sesal ini sedikit terobati kala tak mampu membantu si bapak tadi, sedikit menyesal karena ke-dhaifan namun semoga ada ladang lain, ladang gersang yang mungkin perlu diberi benih-benih ketulusan. Untuk belajar mengerti akan sesama, untuk secuil amal yang mungkin tak seberapa.

Wallahua’lam.

29. March 2013 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *