[SQ] Sayang Sekali Abu Lahab

Fase jahriyah kerasulan dimulai dengan ayat Allah yang tegas,

Fasda’ bima tu’mar…

Tegas dan lantang hingga Rasul Allah tak ambil tempo untuk mengajak seluruh keluarganya berkumpul dalam sebuah hajatan besar memperkenalkan Islam di kalangan keluarga. Beratkah?, sungguh berat duhai sahabat, kala keluarga suka menyembah patung tak bernyawa, kala keluarga masih asyik melantunkan syair untuk Latta, Uzza dan Manat, kala keluarga masih asing bahkan benci dengan namanya “ketauhidan”, tuhan yang satu tanpa perantara. Begitulah beratnya Rasul dalam fase ini. Di pertemuan pertama Abu Lahab mampu memecah konsentrasi para tetamu mulai dari Bani Hasyim dan Abdu Manaf. Selanjutnya, Rasul tak patah arang lalu ia undang sekali lagi para pembesar kedua bani itu untuk menjelaskan Islam dan bahwa ia adalah utusan Allah.

Gayung bersambut duhai sahabat, kala Abu Thalib menjamin dakwah bisa disampaikan dengan damai walau lagi-lagi Abu Lahab terbakar api amarah. Tak berhenti di situ, jaminan dakwah dengan aman tenteram dilanjutkan Sang Nabi dengan berorasi di atas bukit Shafa, dengan lantang dan gemuruh suara yang yakin, seyakin-yakinnya akan aqidah nan murni,

Rasulullah saw langsung keluar menuju bukit Shafa, lalu berteriak,

“Ya Shabaahaah!” (Panggilan untuk mengumpulkan orang di pagi hari). Mereka bertanya-tanya, “Siapa yang berteriak ini?” Mereka menjawab, “Muhammad.” Mereka pun segera berkumpul kepadanya. Nabi memanggil (lagi), “Wahai Bani Fulan, wahai Bani Fulan, wahai Bani Abdi Manaaf, wahai Bani Abdul Muththalib!” Maka berkumpullah orang-orang (dari kabilah-kabilah yang disebut tadi) kepadanya.” Nabi saw bersabda (setelah mereka berkumpul) lagi, “Bagaimana pendapat kalian, seandainya aku memberitahukan kepada kalian bahwasanya seekor kuda akan keluar di puncak bukit ini, apa kalian akan membenarkanku?” Mereka menjawab, “Kami belum pernah melihatmu berbohong.” Nabi saw lalu bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan di antara siksa yang pedih.” Abu Lahab pun langsung menyahutnya, “Tabban laka (binasalah kamu)! Apa hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?!” Kemudian dia bangkit dan pergi, lalu turunlah surat ini, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab” dan sungguh ia benar-benar binasa. (HR Bukhari, no. 4589 dan Muslim, no. 307, dan lafazh hadits ini milik Muslim)

Wallahua’alam

[K-SQ]

14. January 2013 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *