Safari guo nian 2011 (part 3-Tamat)

Menyambung apa yang perlu disambung, menjalin apa yang perlu terjalin.

Ketika Sabtu dini hari kami tiba di Taipei dengan tenaga yang cukup terpulihkan dan Sabtu pagi MTYT menunggu di Taipei dan kelompok yasinan di Hualien, sebuah perjalanan yang kembali unik dan berkesan terutama ucapan pak Seger yang menampar hatiku yang lemah dalam konsistensi.

Hari ini cukup santai, pagi hari kami tak perlu tergesa-gesa dan tidak melanjutkan istirahat ba’da subuh seperti hari-hari sebelumnya. Tujuan kami pagi ini adalah MTYT yang notabene masih berlokasi di Taipei, tepatnya masjid kecil, perjalanan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sehingga kami memiliki spare waktu untuk beristirahat ba’da subuh dan diskusi-diskusi ringan berbobot bersama ustadz. Pukul 11am menjelang dhuhur kami bergegas ke masjid kecil karena idealnya ba’da dhuhur acara akan dimulai. Masih terlihat sedikit jama’ah yang hadir namun tuan rumah mengatakan jama’ah akan mulai berdatangan ba’da dhuhur. Ustadz dan pak Zul mulai mendokumentasikan beberapa snapshot serta percakapan ringan bersama imam masjid sebelum pengajian dimulai. Pengajian kali ini berjalan mulus tidak ada time error seperti beberapa pelaksanaan sebelumnya dan sambutan hangat jama’ah serta ada pula jama’ah dari negeri jiran, yang merupakan mahasiswi di salah satu universitas di Taipei ini, tapi bukan Siti Nurhaliza ya, cuma sama negaranya :D. Kali ini ustadz membahas tema ringan yang memiliki stimulus yang berbobot, sehingga Pak Yusuf (Ario) sedikit kewalahan menampung pertanyaan jama’ah pasca materi. Lalu seperti biasa pien tang (nasi kotak) mulai streaming mode : ON (alias mengalir ke seluruh yang hadir) dan acara pun ditutup dengan antusiasme yang tinggi dari jama’ah MTYT.

[simage=88,200,n,center,]

Bersama imam masjid

[simage=89,200,n,center,]

Ba’da ashar kami harus segera berangkat ke Hualien, perjalanan kali ini cukup jauuuhhh sekira 3 jam-an namun tiket sudah ditangan karena belajar dari prominent cases beberapa hari sebelumnya, Pak zul sudah terlebih dahulu membeli tiket kereta tze-chiang untuk 3 passengers, dengan kata lain aku akan ikut kesana…hehe (jalan-jalan*whistling). Namun karena kendala teknis yang terjadi di detik-detik akhir antara apakah pak Zul atau pak Yusuf yang ikut kali ini mendampingi ustadz dan asistennya, alhasil MRT dan Kereta terlanjur berangkat dengan 2 passengers saja, karena ternyata pak Yusuf tidak muncul batang hidungnya hingga kereta akan berangkat, sehingga pak Zul melepas kami berdua menuju Hualien, seharusnya aku sedikit panik kala itu,

Apa???, hualien?, daerah antah barantah mana lagi tuh?,mana zhongwen pas-pasan dan ngepas (namun entah kenapa worst case itu tidak terjadi, aku juga heran dengan ketenanganku waktu itu), memang ada gunanya juga terkadang mendengar bang haji berujar Santaiii.

Dengan klarifikasi sederhana aku mengkonfirmasi pak petugas stasiun sambil menunjukkan tiket dan berujar,

zhe ke zhe bian, dui ma? (tiket ini sebelah sini kan naiknya?).

dui.. (betulll, sembari kami diarahkan ke pemberhentian qi hao(nomor 7 , sebagai no.gerbong kami)).

Alhasil pasca delay 3 menit, kami menaiki kereta tepat pukul 17.13 dan duduk santai selama 3 jam-an menuju Hualien dimana pak Seger dan Pak Tris menunggu bersama rekan TKI lainnya. Sepanjang perjalanan, terowongan demi terowongan dilewati  dan sepertinya jalur ini agak horor dengan kolaborasi angin yang cukup kuat yang sedikit menggoyangkan kereta namun untung saja matahari telah berganti tempat dengan malam dan heningnya bulan hingga perjalanan ke Hualien cukup nyaman dengan sesekali sinyal handphone hilang tak karuan ketika memasuki tunnel-tunnel itu. Tepat pukul 20 lebih sedikit kami tiba di Hualien dengan stasiun yang cukup unik yang ternyata keunikan ini dalam wujud promosi tempat wisata bernama Taroko dan kalau bahasanya pak Tris itu adalah penjaranya sun go kong…hehehe. Lalu dari rare station kami sudah ditunggu oleh pak Seger dan temannya lalu tanpa ambil tempo menggunakan taksi menuju Toko Indo Mbak Yani. Malam cukup dingin kala itu namun para saudara-saudari yang sudah menunggu kehadiran ustadz kala itu memecah dinginnya angin karena sambutan hangat dan makan malam yang mengagetkan asumsi perutku sebelumnya. Beberapa makanan lalu dihidangkan dari Udang besar, kari dan yang terpenting adalah sambal terasi yang langka di formosa ini, kalau ada pak bondan maknyusss dah pokoknya.

Pengajian dimulai hampir pukul 9pm di lantai 2 mushola toko mbak Yani dan 4 syarat kebahagian dunia akhirat pun kembali ustadz sampaikan dalam memperkuat ruhiyah para jamaah kali ini. Antusiasme dan kolaborasi klepon dan dodol serta beberapa hidangan lainnya membuat pengajian berjalan santai namun mengena. Serta mereka menceritakan kisah-kisah selama bekerja di Taiwan dari harus menyentuh hewan peliharaan majikan (anjing) dan harus makan nasi kotak yang diragukan kehalalannya dan fakta mencengangkan dari pak Seger bahwa hampir semua makanan yang dijual pasti mengandung bahan-bahan yang tidak halal terutama arak untuk melunakkan daging dan lainnya. Fiuhhhh…

Ternyata eh ternyata pukul 23 kami menyelesaikan pengajian dan kereta menuju Taipei akan hadir kembali pukul 2 dini hari, sehingga banyak spare waktu bagi kami untuk beristirahat dan bercakap-cakap terutama bersama pak Tris dan pak Seger (yang hingga pagi kami sampai di Taipei tetap suegggerrrr…). Pak ustadz mulai cek email dan aku ditugaskan mentransfer video dari handycam sony milik bu Yani ke komputer miliknya (nasib anak computer science terkadang hal-hal yang tidak science dari hardware hingga barang-barang elektronik yang ada, kami harus menjadi ahlinya, begitu kira-kira pandangan khalayak ramai)…hehe. Tapi untunglah transfer data tidak terlalu sulit.

Lalu sembari menunggu kereta pukul 2 dini hari itu kami bercakap dan berdiskusi akan masalah-masalah yang ada terutama yang dihadapi oleh TKI dan semangat pak Tris dan pak Seger, dkk untuk senantiasa menjaga kelangsungan jama’ah di Hualien, hingga mereka sangat senang kalau nantinya ada yang rutin mengisi program-program pengajian hingga pelatihan komputer dari mahasiswa.

[simage=90,200,n,center,]

Kami hanya berusaha tetap menjaga iman kami dan dalam bentuk pengajian ini semoga paling tidak kami terus ingat kepada ALLAH (begitu ujar pak Seger akan semangat konsistensi menjaga iman di negeri minoritas islam ini).

Pukul 2 dini hari kami beserta rombongan Hualien menuju Taipei, karena pada paginya Tabligh akbar di Chungli akan dilaksanakan. Di stasiun kereta Taipei kami berpisah tepat pukul 5.30an ketika subuh memanggil, mereka beristirahat sejenak di Masjid besar Taipei dan saya bersama ustadz kembali ke apartemen (lo se fu lu san duan, Roosevelt road Sec.3).

Perjalanan part 3 usai dengan semangat tinggi mempertahankan akidah walaupun dalam suasana minoritas yang semoga suatu saat nanti menjadi mayoritas..amin.

Pesan yang harus senantiasa kuingat sebelum beliau pulang,

Tinggal pilih ingin menjadi penonton atau pemain? (dalam dinamika hidup ini?)

Semoga ALLAH menjaga iltizam ini agar senantiasa kuat…

Tamat (perjalanan-perjalanan berikutnya sepertinya akan tergores dalam momen lainnya)

Wallahua’lam

K

17. February 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Tags: , , | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *