Safari guo nian 2011 (part 2)

Menyambung tulisan pertama, keesokan harinya tepatnya Jum’at yang mulia kami harus menuju 2 tempat lagi. Idealnya ustadz akan menjadi khatib jum’at di daerah sanhua, disana terdapat banyak TKI yang bekerja di pabrik dan juga PRT. Pada kesempatan ini sebuah space di pabrik garmen sejatinya akan disulap menjadi tempat shalat jum’at. Kami pagi itu cukup santai, tak ada tanda-tanda keanehan di hari itu, tujuan jelas sanhua, Tainan qian. Pukul 8 pagi kami bergegas ke TMS untuk menaiki HSR (High Speed Railway) sebagai plan A dan patut direalisasikan mengingat akupun belum pernah menaikinya. Ibarat sambil menyelam minum air, sambil safari naik HSR gratis lagi…hehe (begitu pikirku). Namun traffic TMS lebih crowded daripada malam kemarin ketika kami menuju keelung. Hal ini akan jelas adanya ketika perjalanan kami menuju Plan n (sebuah plan yang tak pernah diduga sebelumnya). Pak Zul mulai melakukan query pada mesin tiket, namun alangkah terpananya beliau melihat jadwal keberangkatan yang tersedia adalah pukul 12 siang, pastinya ini tidak mungkin tercapai bila estimasi perjalanan 1,5 jam serta harus menuju san hua, karena pemberhentian HSR berada di Tainan City. Opsi B menuju train tze-chiang yang cukup cepat, jikalau kami menaiki ini kami bisa turun di stasiun sanhua dan akan dijemput oleh pihak tuan rumah. Ibarat pesan pempek kapal selam mendapat pempek kulit, lagi-lagi estimasi berujung duka, kereta penuh, every seat was booked. Tanpa ambil tempo menuju terminal bus kuokuang, karena kita berada di wilayah TMS (Taipei Main Station), seluruh node transportasi berdekatan dari Bus antar kota, HSR, MRT serta bus dalam kota, semua terintegrasi dalam satu wilayah, cukup menuju jalur/tunnel bawah tanah kita bisa menuju node transportasi tersebut dengan mudah dan dalam hitungan menit. Namun ini adalah olahraga kaki yang kesekian kali, tiket bus sudah ditangan, bus akan berangkat pada pukul 9 am, telepon berdering, mas beru dari Sanhua menyarankan tetap dengan HSR, dengan catatan tetap membeli tiket yang siang namun menjadi hidden passenger di kereta pagi, no seat it’s ok. Serta merta tiket bus yang sudah ditangan dan sebenarnya secara estimasi perjalanan yang secara default adalah 4 jam itu, memang tidak mungkin terjangkau itu dibatalkan, lalu kami bergegas lagi ke stasiun HSR. Tiket HSR siang sudah ditangan, mesin ticketing sudah berada pada posisi one to one marking, namun mesin itu menang kali ini, ia decline semua tiket kami sembari petugas tersenyum sedikit menggerutu dengan bahasa dewanya, yang intinya “ini tiket kereta siang, anda tidak boleh masuk sekarang”. Eng..ing…eng, negosiasi dimulai “women bu yong zuo” (kami gak perlu duduk). Namun semua tak mulus adanya, intinya kami secara tidak langsung terusir oleh mesin tiket itu, kalau ia memiliki raut wajah, ku yakin ia sekarang tersenyum ibarat detektif conan yang mulai mampu memecahkan “assassination case” pada sebuah episode lanjutan. Pak Zul mulai menjadi ikkyu san dalam ketidakpastian dan ustadz tetap tenang sembari menyampaikan pesan, kita hanya berusaha yang menentukan ALLAH, sedang aku santai saja mengingat tak ada peran yang perlu kumasuki pada momen kali ini(cukup melihat lalu lalang para pemudik di hari guo nian yang sepertinya sedikit tergesa bersama anak-anaknya yang seperti boneka berjalan itu 😀 ). Pak Zul berinisiaitif rent mobil, sebelum itu kami sedikit dicengangkan dengan saran pak presiden komunitas muslim di Taiwan,

Gini aja pak Zul, sekarang ke bandara aja, naik pesawat ke Tainan.

Eng..ing..eng, naik pesawat???, ke Tainan??. Saran yang sedikit aneh bagi kami dan itu adalah saran penghibur yang tak mungkin di eksekusi mengingat traffic pemudik yang diluar estimasi awal. Akhir kisah kami berangkat dengan mobil carteran dari Chungli menuju Tainan, dan disinilah klimaks sinetron guo nian terjadi, ketika jalanan macet bukan kepalang yang ternyata berdasarkan info dari pak sopir, hari ini adalah hari dimana banyak keluarga menuju rumah mertua(orang tua istri) untuk makan bersama, jadi tidak heran hari ini banyak keluarga keluar rumah dan memadati jalanan. Semua estimasi kacau dan kami tiba di lokasi pengajian pukul 14pm 2pm, atau dengan kata lain lebih lama dari menggunakan bus dan kereta. Ya salaam…memang manusia hanya bisa berencana, namun ALLAH yang maha tahu. Pasca itu semua, pengajian tetap terlaksana dengan nyaman di space kosong dekat pabrik garmen itu. Mas-mas dan Mbak-mbak serta beberapa mahasiswa/i yang berdomisili di sekitar selatan Taiwan ini mengikuti pengajian dengan takzim dan seperti kunjungan sebelumnya, silaturahim berjalan dengan manis. Semua seperti saudara yang sudah lama berkenalan, diskusi dan percakapan-percakapan ringan terinisialisasi plus soto ayam yang melengkapi episode kali ini.

[simage=84,200,n,center,]

[simage=85,200,n,center,]

Pak Ami mulai sedikit tidak nyaman, karena pasca sanhua kami harus bergegas ke wilayahnya MTYCIT, untuk melanjutkan safari dakwah ini. Sekitar pukul 18.40an kami tiba di Chiayi, para jama’ah sudah menunggu walaupun tidak sebanyak Sanhua dan Keelung, kami disuguhi mushola yang nyaman tepatnya di lantai 2 ruko mbak wiwik yang menetap di Taiwan bersuamikan mualaf yang notabene adalah penduduk lokal. Ini kedua kalinya aku berkunjung ke mushola yang cukup strategis ini. Terlihat sinergitas mahasiswa dan tenaga kerja yang cukup baik dalam melaksanakan pengajian dan pelatihan rutin disini. Selepas kunjungan di MTYCIT, jelas ada raut lelah dan kami harus bergegas menuju Taipei untuk beristirahat. Perjalanan hari kedua pun berjalan dengan baik walau ada time estimation error yang masih bisa ditolerir. Sebuah keinginan berubah memang terkadang harus diawali dan setelah diawali ia harus senantiasa terjaga, dan rutininas dalam basahnya ruh dalam menyimak ceramah islam dan derivasinya merupakan salah satu tonggak zikir yang harus tetap dipertahankan. Oleh karenanya ustadz pernah berujar apa bedanya di Mesir dan di tempat lain, ia menjawab singkat, dekat dengan ulama. Sehingga interaksi kita dalam kebaikan dan implementasi setelahnya haruslah terus sejalan dan seirama.

[simage=86,200,n,center,]

[simage=87,200,n,center,]

Ustadz Suharsono, Lc mulai memainkan provided feature pada bus Aloha 😀

Menuju terminal bus, ho-hsin menjadi target utama, bus pada level atas ini menyediakan televisi per seat-nya dan fitur massage seat-nya juga. Cukup tekan tombol dan auto-massage dimulai. Namun ho-hsin tidak tersedia, aloha pun oke (selain ho-shin, aloha pun termasuk bus yang menyediakan pelayanan terbaik bagi penumpangnya). Kapan lagi naik aloha???, biasanya juga kuokuang..hehe. Akhirnya kami bergegas pulang dilepas oleh pihak tuan rumah yang mengantar hingga bus station.

Keesokan harinya masih ada agenda lain yang tak kalah menarik…keliling Taiwan hampir menjadi keniscayaan kala itu dengan bahasa mandarin yang pas-pasan namun cukup memadai karena aku bisa memojokkan penduduk lokal agar mereka terdiam sejenak, Ni hue yingwen ma? (Itulah senjata terakhir kalau sudah terjadi kebingungan interpretasi percakapan tingkat tinggi, lalu pada sesi selanjutnya biarlah ia bingung menyusun kata-kata berbahasa inggris itu).hehe100X…

Bersambung…

K

15. February 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Tags: , , , | 2 comments

Comments (2)

  1. Pingback: Another Journey… » Blog Archive » Safari guo nian 2011 (part 3-Tamat)

  2. Pingback: Another Journey… » Blog Archive » Rahasia kita-kita aja

Leave a Reply

Required fields are marked *