Safari guo nian 2011 (part 1)

Selasa itu aku masih linglung dalam ketidakpastian stok makanan, apalagi interval liburan guo nian (liburan menyambut tahun baru cina) sudah dimulai. Mulai muncul bayangan-bayangan imajiner terhadap keberlangsunganku di masa liburan, yang pasti warung makan tutup dan aktifitas di jalanan mati dan pastinya kampus pun ditutup hingga batas waktu yang telah ditentukan walau beberapa kotak mie vege dan wafer halal sudah nongkrong di meja belajarku. Wufong, daerah dimana kampusku bersemayam ini, seakan kota mati yang tak berpenghuni, semuanya hilang dan hanya satu yang tetap eksis, 7-11 yang sentiasa mengusung slogannya, “always open” itu. Seorang rekan menginformasikan bahwa safari guo nian seorang ustadz dari lembaga kemanusiaan di Negara asalku akan hadir hari ini (PKPU – Pos Keadilan Peduli Umat, ini adalah rangkaian safari dakwah kedua dari PKPU yang tidak hanya sebagai lembaga kemanusiaan namun concern pula pada kondisi umat islam di tanah rantau, Taiwan khususnya). Terang aku tak mempersiapkan apa-apa, hanya penjemputan dengan “blur subsequent steps”, akhirnya ku bergegas ke Taipei tuk menjemput ustadz dan menginap barang sehari. Planning terpampang rapih, kubaca dan jelas namaku disana, sepertinya satu atau 2 pekan kedepan ku harus melupakan tempatku yang nyaman, asri lagi teduh ini, lab-ku tercinta, padahal tugas dari prof. masih sedikit kusentuh. Namun janji harus ditepati, kapan lagi keliling Taiwan, research akan bergerak perlahan namun semoga pasti, toh mereka juga sedang liburan..hehe. Memperkuat argumentasi pribadi memang mudah teman, tak ada yang bisa menginterupsi diri kita sendiri, ini hanya masalah self-management, namun sayang banyak orang lupa bahwa mereka harus sentiasa (*dari tadi pake sentiasa, agar sedikit melayu :D) menjaga konsistensi alur hidupnya, tapi itulah kelemahan kita sebagai manusia, ada kecenderungan iltizam yang melemah, konsistensi yang dipertanyakan. Rabu pagi tak ambil tempo, aku harus pulang untuk mempersiapkan segala pakaian dan tetek bengek musim dingin yang menghadang, walau terkadang salah kostum, maklum di Taiwan terkadang suhu bisa drop dan bisa pula naik semena-mena. Namun seluruh perlengkapan perang sudah disiapkan, tujuanku pasti, keelung paling utara dan Tainan paling selatan kan kusinggahi, tuk mengisi liburan dan setelahnya ada derivasi yang mengikuti dari ilmu baru dari ustadz dan melihat tingkah polah kota serta indahnya keteduhan silaturahim kami.

IMDAT (Ikatan Muslim Darma Ayu di Taiwan) menjadi persinggahanku yang pertama, terang ada keinginan keras dari para TKI untuk sentiasa membasahi ruh agar tidak kering, terang ada kesungguhan dalam skala intensitas yang tinggi untuk bersama mengingatNya di daratan minoritas. Mushola IMDAT awalnya adalah diskotik dan tempat kehidupan malam bermula, tempat yang sangat strategis di basement melengkapi kriteria wadah maksiat didalamnya, namun semua berubah ketika beberapa waktu yang masih seumur jagung tempat suram disulap menjadi sebuah wadah zikir kepada Rabb pemilik sekalian alam. Dari sejarah pembangunan mushola dan ini ketiga kalinya aku berkunjung ke mushola ini, pak Aman dan beberapa jama’ah walaupun terbentur dengan acara-acara liburan guo nian, menyempatkan hadir. Ustadz menyampaikan 4 syarat bahagia dunia akhirat, silaturahim inisialisasi ini tak terlalu panjang, sekira 1 jam 15 menitan kami bersilaturahim dan diakhiri dengan hidangan makan  siang. Kekhawatiran awal anak rantau serta merta hilang ketika itu, makan siang gratis pula serta diikuti dengan silaturahim yang teduh. Keelung menunggu malam harinya, masih ada beberapa waktu jeda, kami singgah sebentar di pasar dekat stasiun kereta Taichung tuk membeli syal dan kupluk, di pasar ini cukup murah, oleh karenanya kusarankan ustadz dan pak Zul berkunjung sejenak.

[simage=83,200,n,center,]

Kuokuang ba’da dhuhur bersiap menuju Taipei, karena trio cilik pun sedang menikmati masa liburnya, Deedat, Ihsan dan Aisyah siap meramaikan agenda lanjutan ke Keelung. Taipei sedang tidak bersahabat kala itu, padahal Taichung menghangatkan dengan sinar matahari yang tak menyengat namun Taipei berkolaborasi aktif bersama keelung tuk mendinginkan lagi sendi-sendi dan tulang serta angin dingin yang memainkan irama tersendiri. Kereta menjadi pilihan, walaupun nyasar di kampung jet li (stasiun hou tun), kenapa kampung jet li???, karena memang stasiunnya kecil dan cukup horror serta pikiran pak ustadz mulai mengawang, jangan-jangan ini kampong jet li :D, begitu ujarnya. Kami harus berhenti disana karena “badu” sebagai stasiun transit malah terlewat. Setelah kesalahan teknis tersebut, melewati badu dan beberapa stasiun lainnya tibalah kami di Stasiun Keelung, disambut oleh pak (lupa namanya) menaiki taksi menuju pelabuhan dan disana kami dikagetkan oleh ratusan jama’ah yang sudah menunggu sedari tadi, dan angin dingin serasa tetap dingin namun ada kehangatan spesial dalam silaturahim keelung, kami disambut dengan spanduk besar bertuliskan “Tasya’kuran dalam rangka menyambut maulid nabi SAW Paguyuban pelabuhan Patoje”, keren nian namanya. Walau MC sering terpelintir ketika membawa acara, dari perwakilan PKPU Taiwan berubah nama menjadi Pak Zulkarnaen (harusnya Zulhendri), hingga Ibu Yessi yang notabene istri Pak Zul yang berubah status menjadi Ibu Sri (KDEI), aku tak sanggup menahan tawa, tapi sudahlah..lanjutkan… 😀

[simage=80,200,n,center,]

[simage=82,200,n,center,]

[simage=81,200,n,center,]

Di keelung ini, notabene TKI ada ABK (Anak Buah Kapal) dan beberapa TKW adalah PRT (Pembantu Rumah Tangga), dengan memanfaatkan libur guo nian ini, mas Dani sebagai ketua paguyuban dapat mengumpulkan jama’ah hingga 150-200an dan safari ke keelung ini menurutku adalah salah satu yang paling semarak, dari shalawatan, zikir dan acara utama tausyiah dari ustadz plus tumpeng di akhir cerita, lagi-lagi, kekhawatiran anak rantau berlabel BK sirna sudah, makan gratis lagi dengan kolaborasi indah silaturahim hangat dari mas dan mbak-mbak paguyuban patoje. Malam memang sudah datang, angin dingin tak takut mengganggu malam yang teduh, kepulangan kami pukul 23.30an menyisakan kelelahan awal yang indah, kelelahan yang tidak terlihat jelas karena kelelahan itu pada akhirnya ditutup dengan nikmatnya sebuah persaudaraan dan saling tenggang rasa serta rasa hormat menghormati. Hari pertama perjalanan yang begitu indah, lelah memang namun ini adalah inisialisasi perjalanan kami yang setelahnya akan ada kelelahan-kelelahan lain yang lebih menyenangkan (Bersambung).

*oh ya teman, asal kau tau, jabatanku dalam perjalanan ini adalah Asisten Ustadz, sebuah jabatan temporal yang meyakinkan kan?

Update:

Berita resmi dari PKPU : http://www.pkpu.or.id/news/safari-dakwah-kuo-nien-di-taiwan

K

13. February 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Tags: , , , , | 3 comments

Comments (3)

  1. Pingback: Another Journey… » Blog Archive » Safari guo nian 2011 (part 2)

  2. Beuuu…tahu begini, saya minta tolong dirimu untuk mengetik artikel tentang Safari Guo Nian untuk web KMIT. Minta foto-fotonya dong, De’. Semua foto yang “umum”. Tolong kirim via e-mail ya. Makasih 😀

  3. Ok cek emailnya mbak.

Leave a Reply

Required fields are marked *