Rihlah itu, sesuatu…

Ada rasa tak biasa, menghirup udara yang dulu sering kurasa.

Ada rasa yang spesial, membawa keduanya ke tanah inspirasi, mengadu nasib memburu prestis.

Sampai pada kesadaran sempurna, bahwa rihlah kali ini, sesuatu…

Pagi buta 27 November kami bersiap ke stasiun kereta cepat, dari Taiwan selatan menuju tengah. Perbekalan makanan kami abaikan, waktu menjadi constraint dan alhamdulillah pangeran kecil kami memahami urgensi perjalanan kali ini, ia bangun on time, mandi pagi dengan hening sesekali ia lempar senyum dengan gigi berjumlah delapan. Aku bisikkan sesekali padanya, nak hari ini kita ke Taichung ya, tempat dulu abi sekolah ^^ (lagi ia lempar senyum dengan gigi berjumlah delapan, cling…cling). Pukul 7 pagi lewat beberapa menit kami tiba  dan segera memesan tiket kereta cepat untuk pukul 7.30. Setengah jam berikutnya kami tiba, di stasiun kali pertama aku merasakan kecanggihan kereta ini, kenyamanan, presisi dan elegan. Segera menuju terminal bus di lantai bawah tempat kami menaiki shuttle bus, langsung ke daerah itu, distrik Wufong. Perjalanan dengan shuttle bus bernomor 151 memakan waktu hanya 20 menit, berhenti di sekitaran SD Wufong sambung bus no.100 menuju kampus nan penuh memori Asia University. Ada yang berbeda kali ini, aku tak lagi sendiri, ummi dan Akif menemaniku di momen ini, sungguh senang. Pukul 9.30 janji harus segera ditepati, Professor suka bad mood kalau aku telat, teringat 3 tahun lalu ketika distrik Wufong diguyur hujan, pasca shalat ashar berjamaah aku tiba di ruang regular meeting,

Why are you late???

Krik…krik, ia sedikit tak nyaman karena itu adalah hari pertama ia melakukan kerjasama dengan seorang professor dalam grup riset kami. Dua tahun kemudian, mengikuti konferensi bergengsi tahunan Multimedia di Jakarta. Aku berjanji mengajak prof. dan Prof. lainnya yang cukup ter-recognized di bidang multimedia, lagi-lagi aku telat kini aku harus mencari kambing hitam, “kemacetan Jakarta” menjadi alasan yang sangat pas. Ia berujar,

If you’re late, please let us know, don’t make us waiting like this…

Krik…krik kuadrat. Dan berbekal pengalaman itu aku menitipkan ummi dan Akif di taman sekaligus tempat Abi-nya bermain sepak bola 3 tahun lalu bersama rekan sejawat di masa muda :D. Diskusi berjalan ringan, lebih kepada skema kerjasama pasca lulus, mendiskusikan riset kami yang hampir menemukan titik temu. Prof. mendapatkan mega proyek 3 tahun yang menjanjikan, namun aku tak bisa berkolaborasi di stage ini karena kesibukanku yang sungguh njelimet. Kami berharap di satu waktu di masa depan, insyaALLAH bisa berkolaborasi kembali. Segera setelah meeting-curhat-canda, aku jemput ummi dan Akif yang tengah menunggu di mushola kampus. Ya.. kami diundang makan siang sambil aku terus mengamati jam karena waktu Jum’atan tak lagi lama. Dengan menu elegan seharga NT$158 dan Manggo Ice NT$70 kusedikit menguras dompet Prof., begitupula ummi dengan bubble teanya. Akif???, dia asik mengamati seseorang di depannya, yang tak lain adalah Prof. ku :D. Alhamdulillah ia terlihat menikmati makan siang saat itu, sambil menyimak ummi bercakap-cakap tentang kehidupannya di negeri formosa. Sampai di satu pertanyaan yang dalam, yang sepertinya ummi tak bisa lupakan:

Prof. : Is because of you, he decided to finish the degree as soon as possible?

Ummi: Hmm.. we decided to set new life in home country..

dan aku sedikit menyalip,

and I’m getting older 😀

Percakapan kembali ringan, mengalir hingga kami harus menyelesaikan sambutan itu. Segera menuju mushola menunaikan shalat Jum’at.

Dikarenakan musim dingin yang mulai perlahan hadir, tak terasa sore hari kami habiskan untuk istirahat. Dan malam hari aku lanjutkan nostalgila dengan misi yang jelas, aku ingin membawa Ummi dan Akif ke resto Vege andalanku saat S2 :D. Pertanyaan pertama pada sang koki:

Hai ji de wo ma??? (masih ingat saya??)

20151127_194505Foto bersama sang Koki dan apeh ^^

Ternyata ia tak bisa melupakanku, pelanggan rutin dan petugas menghabiskan menu sisa saat dinner ^^. Ia terkejut dengan kemampuan bahasa mandarinku yang meningkat pesat. Dulu kami tak bisa bercakap mandarin, hanya English. Kini aku peragakan skill-ku, ia tertawa sambil menakar berat fussili yang sudah ia pisahkan dalam plastik-plastik kecil. Akif menikmati malam itu, dan ummi berujar,

Abii, sesuatu…

Mungkin ia tak habis pikir, bagaimana aku bisa memiliki kenalan di sebuah warung vege. Ini tak lain tuk menjaga eksistensi, karena makanan halal sangat sulit dicari di distrik Wufong, sebuah distrik penuh memori ^^.

Esok pagi, sebelum kami melanjutkan perjalanan yang tak kalah penting (menghadiri seminar dokter mata seluruh Taiwan yang ke 56), kami meminjam 2 sepeda hotel untuk menikmati udara segar di rumput belakang perpustakaan Asia University yang sungguh megah. Ya siangnya ummi harus bersiap memaparkan thesisnya di depan dokter bedah plastik mata. Konon, di tahun pertama seminar ini hanya dihadiri 100 dokter mata, sekarang di usia ke 56 tahun, seminar ini menghadirkan 2000an peserta dari seluruh Taiwan dan joint-simposium bersama Jepang. Pagi di Asia University sungguh khas, 3 tahun lalu sering kala pagi aku baru pulang dari lab karena malam hingga subuh mendekam di sana. Melihat lagi tempat dan rute-rute yang dulu sering kulewati seolah mengisi bagian tubuhku yang hilang, sebuah momen relaksasi menabung inspirasi. Akif terlihat sayu (ngantuk -_-) sambil ummi melempar umpan-umpan ikan koi, sejam kemudian kami kembali dan bersiap.

6187Backyard, AU’s library

6188Kolam Ikan Koi…

Kereta cepat pukul 11 pagi mengantarkan kami ke Taipei, misi yang membuat ummi sedikit khawatir tapi tetap tenang :D. Sejenak menitipkan tas di venue (Taipei International Convention Center), kami mengisi energi menuju Restoran mie daging halal. Sore harinya, kala angin Taipei makin tak bersahabat kami berangkat pulang, kembali ke tempat Akif dilahirkan, Kaoshiung City ^^.

6184Ummi… go go go!

Perjalanan kali ini, memang sesuatu :). Alhamdulillah…

[K]

30. November 2015 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *