Resistensi yang menghancurkan

Setelah dua tulisan yang lalu kutuliskan bagaimana menggunakan pola defensif akhir dalam bercakap-cakap, kini ia luluh lantak oleh resistensi dan melihat kemungkinan yang ada dari lawan bicara. Kalau beberapa hari lalu pola defensif akan menang di beberapa tempat yang sarat edukatif namun ia tidak cocok dalam pertarungan di ranah yang lebih umum. Kalau beberapa hari lalu dalam kebuntuan percakapan dengan citizens (masyarakat lokal) cukup dengan,

Ni hue yingwen ma? (Anda bisa english gak?)

Praktis dengan senjata itu ia akan mencoba berbahasa inggris, ini cukup cocok dalam percakapan edukatif di library, lab, 7-11. Namun ini tidak akan bergunaaaa di ranah yang lebih luas, setidaknya di warung vege atau di toko handphone :D. Kau akan malu bertanya dengan mereka pola defensif diatas, terlalu memalukan karena mereka pasti kesulitan dalam bercakap denganmu dan pola defensif diatas akan merusak percakapan yang terjalin baik. Nah untuk mensiasati ini cukup dengan percakapan semirisnya dan secukupnya dan memainkan struktur dan senjata baru “translating by context” alias mencoba memahami dari konteks pembicaraan. Nah ini cukup efisien kalau ada kata-kata yang kita pahami, namun kalau sudah berada di persimpangan jalan yang gelap lagi terjal (alias kagak ngarti sama sekali), sampaikan dengan nada teratur dan anggukan konstan, hao…hao…hao :D. Itu sudah cukup adanya kalau kau sudah oleng dibuatnya…hehehe…

Nah kalau di warung vegetarian atau supermarket cukup dengan memainkan jari telunjuk saja, misal :

zheke duo shao qian? (neng ini harganya berape?)

Atau untuk menambah kosakata mainkan kalimat ini,

xiaojie zheke zhongwen shuo shenme? (Ini bahasa mandarinnya apa?)

Kuyakin dengan jurus terakhir ini kau terapkan 3 kali kau sudah ingat adanya, cukup dengan praktek di warung makan dan tempat pembelian yang bersifat memperpanjang kelangsungan hidup anda alias mengutip kalimat (makan untuk hidup), kenapa?, karena pastinya interaksi kita dalam berinteraksi dengan tempat jual makanan dan supermarket akan lebih frekuentif adanya.

Jadi sudahlah jangan mempertahankan bahasa inggrismu di tempat umum, biarkan kau linglung atau pusing sejenak lalu tanya apa artinya benda-benda ajaib yang ingin kau makan itu, nanti kau akan paham setahap demi setahap (man man xue – pelan-pelan belajarnya).

[K]

20. February 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | 6 comments

Comments (6)

  1. diwarung vege, ternyata tidak cukup dgn duo shao qian. Namun harus waspada dan hati-hati juga dan tanya-tanya bahan yg dipakai.

    karena kejadian di warung vege NCU, ternyata warungnya make minyak babi. katanya cuma sekali-kali siy.. untuk menggoreng daging2an yg seperti babi-babi-an… so.. waspadalah..waspadalah…

    kita di NCU juga baru tahu, pas belanja di warung tersebut dan kepergok teman India yg juga muslim dan kebetulan sudah hen lihai shuo zhong wen

  2. wadoh??????????????
    Xie xie(lagi), insyaALLAH akan dkonfirmasi esok hari.

    Terima kasih banyak atas infonya mbak…

    [update] all well confirmed, di restoran vege yang baru ini pak chef-nya bilang tidak menggunakan seluruh hal yang berbau “animal”, bahkan dijelaskan oleh beliau bahwa restoran vege mandarin pasti tidak menggunakan unsur2 hewan. Mudah2an halal dan berkah…

    K

  3. Pinyinmu parah, De’ :)).
    Kalau ada yang mau belajar Mandarin dan kesasar ke blog-mu ini, informasi darimu bisa dikategorikan “cukup-menyesatkan” =p.

  4. hehehe, itulah salah satu keunggulan tulisan ini, dia tidak bisa dijadikan rujukan yang ingin serius belajar mbak 😀

    xie xie sudah berkunjung.

  5. response to the update : alhamdulillah…syukur lah kalau begitu ^__^

    wah warung vege yang di NCU abal-abal-an donk ya? (yang make minyak babi :() hm…

  6. Nah itu kurang tau mbak, di tempat saya itu biksu pun makan disitu (have no correlation mode : ON).

    Coba klarifikasi dengan pertanyaan ini mbak:
    ni de dian abal-abal ma? 😀

    K

Leave a Reply

Required fields are marked *