Perekat ingatan yang layu

Peluh keringat yang beralasan ketika kusapu lagi batuan yang berdebu itu, sontak ku terkejut ada tulisan yang terukir masih kokoh disana. Apa itu?, sebuah janji akan kekuatan yang memiliki visi dan bukan main-main.

Dalam tahap-tahap yang melelahkan di ibukota dulu, yang sampai pada titik klimaks sebuah loyalitas yang harus dipenuhi. Semakin hari semakin berat dan ada beban yang berat dipundak namun ia harus terus berjalan. Terkadang dalam bus mayasari bakti itu kubuka lagi lembaran tabloid Tarbawi yang menenangkan itu. Hikmah mengalir dalam tiap rubriknya lalu mengambil poin penggerak langkah-langkah selanjutnya. Uban tak terasa bertambah, voucher-voucher taksi kubuang semena-mena, bagaimana tidak taksi blue bird dan Gamya bergantian kugunakan karena malam tak pernah memberikan rambu henti, karena hari terus berjalan. Malam ini recovery test , malam itu konfigurasi server, malam itu ada enhancement, malam sana ada projek baru…akkk, ruhku kelelahan, fisik masih mampu bertahan. Rutinitas membaca boleh jadi terasupi namun ubudiyah sekenanya, semampunya. 1.30 pm di komplek itu sendirian melihat diri yang kelelahan, esok harus berangkat lagi terus seperti itu…akkk…

Secercah cahaya muncul, ayah tak pernah lelah mengingatkan, ini ada beasiswa ini, itu ada beasiswa itu. Ia tak pernah lelah mengingatkan walau ia tau load anaknya ketika itu, sebuah loyalitas dan trust yang tak bisa dipindahkan semudah melempar tepung ke penggorengan dan menjadi bakwan panas bersama cabe rawit. Cahaya itu perlahan memberikan kabar, ia datang di awalannya, aku pulang sebentar, asa berubah menjadi harapan yang tangguh, maju lagi selangkah lagi terus seperti itu. Hingga pada saat yang menentukan ketika hari itu tiba, tak mungkin kubisa melawan, ku harus pergi demi cita-cita ayah dan juga aku. Melangkah dalam buaian kepastian dan kesedihan di saat yang bersamaan. Di tempat ketika aku mengenal mereka yang memahami trust, loyalitas dan kerjasama, membuat company ini nyaman tuk dihuni. Pengalaman yang indah, insight yang mengalir, feedback yang berbuah implementasi. Kami seolah berada dalam keinginan yang sama menjaga trust, walau kadang manajemen punya kisahnya sendiri, kami tak mundur.

[simage=120,288,n,center,]Tapi tapak ini harus kuangkat, bersamaan dengan keinginan dan pembuktian, biarkan celoteh miring biarkan underestimasi berjalan selayaknya, karena dari sanalah semua jalan ini bermula. Dulu bisa saja kupilih menjadi dokter yang punya masa depan cerah, koas, dapat usmu dan sebagainya. Tapi jalan hari ini terlalu “tidak mungkin” untuk disesalkan, mungkin kalau tidak seperti ini aku adalah mereka yang lalai aku adalah yang tak tau kemana arah gerak setahap demi setahap. Dalam fase-fase indah bersama teman, bersama mereka yang menciptakan sirkulasi persahabatan. Mungkin tak bisa dilihat keunggulan dan spesialisasi dari mereka, namun mereka adalah temanku dalam buaian masa muda, bermain futsal bersama, saling adu “ceng-cengan”, ikut liga ini dan itu…ya semua sebuah perjalanan yang tak kusesalkan, karena dari merekalah ku belajar satu tahap dalam sabar yang sederhana, sabar pada sebuah hal yang tak perlu diperdebatkan.

Jalan ini masih terus saja begini, aku menemukan atmosfer kekeluargaan yang indah walau Ayah sudah bertanya terus perihal kepulanganku, ku berbisik dalam diri sejenak…

Sebentar lagi, sedikit lagi ayah..

Dia semakin paham saja, akan anaknya yang mungkin sudah ia anggap jauh lebih mapan pandangannya daripada dulu.

“Bagi mereka yang belum pernah merantau, tak akan tau nikmatnya sebuah mindset baru yaitu jalan-jalan hidup para legenda”

Hari yang bersejarah ketika Abu bakr melepas perlindungan dari sahabatnya dulu semasa jahiliyah, Ibnu Dughunnah. Ia secara resmi mencabut perlindungan dari Ibn al-Dughunnah. “Aku berada dalam perlindungan ALLAH,” tuturnya. Pada hari yang sama, Nabi memberi tahu Abu Bakr dan para sahabat lain, “Aku telah ditunjukkan tempat hijrah kalian. Aku melihat sebuah lahan yang subur, kaya pohon kurma, berada di antara dua jalur batu-batu hitam.”

Dari hari itu, petualangan yastrib dimulai, karena hijrah bermakna spesial dalam nubuwah. Apakah merantau suatu yang sia-sia bagi mereka yang menuntut ilmu?, kupikir tidak.

Wallahua’lam

[K]

10. June 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story, Kontemplasi | Tags: , , | 1 comment

One Comment

  1. Entah kenapa, saya suka tulisan ini.. :)

Leave a Reply

Required fields are marked *