Musibah itu Apa?

3 hari perjalanan di sebuah pulau eksotik sekaligus modern yang dulunya masih terngiang-ngiang akan kisah para gengster yang membuat perkumpulan, kepentingan dan pertikaiannya sendiri. Aksen para gengster di televisi sekitar 10 tahun lalu itu sangat lekat di benakku, bagaimana aktor utamanya kehilangan teman dekat dan menyulut pembalasan dendam yang melibatkan semua anggota gengnya, terkesan heroik dan cool namun pada akhirnya ia juga menjadi salah satu sebab maraknya tawuran di ibukota di awal tahun 2000 dulu. Ya kadang heroik itu salah tempat, yang sepatutnya menjadi bandit bisa diarahkan menjadi pahlawan di layar lebar, yang seharusnya menjadi “hero” harus menanggung sedih karena kesalahan manuskrip sebuah film ^^.

Perjalanan kali ini sangat dadakan, tidak diharapkan dan penuh uji kesabaran. Aku merasa tertantang untuk mewujudkan apa yang pernah kutulis dan aku juga seolah diajak berkontemplasi akan hikmah apa dibalik “musibah visa” ini.

Aku mendapati beberapa hal yang sangat esensial:
1. Turuti regulasi tanpa banyak dalih. Karena ketika kita masuk ke negara orang walaupun kita sudah eksis dan established di sana, syarat sekecil apapun harus diikuti dan semuanya harus direncanakan dengan matang.
2. Akibat ketidaktelitian syarat aku hampir membuat keputusan fatal dengan mengabaikan entry type.
3. Kesabaran itu bukan kata, kesabaran itu hadir dalam gerak dan pesan kesabaran dan butir-butir hikmah kesabaran dari orang bijak nan shalih bukan rangkaian kata kosong namun hikmah yang mereka derita dikemas dalam keanggunan qabasat (quote).
4. Musibah satu tidak boleh menutup semangat juang, karena jika musibah dianggap sebagai akhir dari perjalanan, kita tidak bisa melihat hikmah cerah setelahnya.
5. Sendiri di negeri orang yang baru dikunjungi lalu mendapat musibah adalah ujian mental, namun jika menemukan rumah ibadah (prayer room) untuk berinteraksi dengan-Nya dalam shalat dan basahnya lidah dan hati melalui tilawah, maka seringlah bermunajat pada-Nya.

Kini aku mencoba menyimpulkan, musibah itu apa?
Musibah dalam kacamata perang Uhud adalah ketaatan pada pemimpin di ghazwah (perang) setelahnya.

Musibah dalam perang Hunain adalah ujian kuantitas pengikut yang melenakan dan mabuk harta. Lalu Allah menenangkan Rasul-Nya dan para Anshar dan Muhajirin yang kokoh imannya hingga Hawazin dan Thaqif berbalik kalah.

Musibah dalam perang Tabuk adalah keberanian menghadapi tirani Romawi dibawah sang kharismatik bernama Heraklius yang kala itu menguasai dunia. Setelahnya ada pertaubatan Ka’ab bin malik akan mangkirnya terhadap tugas jihad, lalu Rabb sekali lagi menunjukkan kasih sayang dan ampunan-Nya.

Kini aku berujar lirih dan haru,
Musibah itu apa?, bagiku dalam kondisi hari ini, musibah layaknya secercah sinar terang yang masih tertutupi, sedikit lagi menggalinya akan tampak butiran hikmah, yaitu terus rendah hati, teliti dan bermuraqabah pada-Nya.

Rabb, izinkan aku selalu berprasangka baik pada-Mu karena Kau senantiasa menurut prasangka hamba-Mu.

Wallahua’lam
@Admiralty station – Hong kong

03. October 2012 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *