Menampar

Masa-masa ini semacam menampar…

Aku tarik kembali beberapa kisah tentang kelelahanku, karena pagi itu aku tertampar bahwa mereka jauh lebih sakit dan teraniaya di jalan ini…

Masa-masa ini semacam menampar…

Bukan fisik saudaraku, namun menampar relung jiwa yang kadang penat dengan sebuah limitasi yang tertutup seolah tanpa cahaya…

Masa-masa ini semacam menampar…

Ketika kudongakkan kepala, bahwa aku telah melakukan banyak hal, namun pagi itu aku tertegun dan tak lagi mau berkeluh kesah, karena mereka lebih sakit, penat lagi lelah di jalan ini…

Masa-masa ini semacam menampar…

Benar kiranya, jangan menganggap kita telah berada pada titik klimaks, karena di sebagian orang di sana, itu mungkin masih lower bound, ya sebuah batas rendah di jalan ini…

Masa-masa ini semacam menampar…

Benar kiranya, jaulah tokoh adalah penyegar dalam cinta yang tak sebentar…

Masa-masa ini semacam menampar…

Setelahnya aku mengencangkan ikat pinggang, mengikat sepatu sendal yang baru itu, seraya membisik, aku tak lagi perlu mengeluh…

Masa-masa ini semacam menampar…

Dalam kelengahan itu, aku teringat guruku lagi yang kurus itu, namun salamnya sungguh erat…

Masa-masa ini semacam menampar…

Kata guruku itu, tidur itu paling nikmat ketika tertidur bukan terjadwal, lalu aku berpikir apakah selama di jalan ini ia tidak pernah merencanakan tidurnya, karena aktivitasnya yang penuh?

Masa-masa ini semacam menampar…

Aku sedang dalam tamparan jiwa, bahwa jalan ini membutuhkan ketenangan, setenang samudera yang damai, namun saudaraku damai itu harus muntij dan berdaya guna…

 

Wallahua’lam

[K]

01. November 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, Kontemplasi | Tags: | 2 comments

Comments (2)

  1. Aku merinding bacanya..
    Sekilar terasa banyaaaak sekali alpa..

    Allahu..

  2. refleksi yg bagus,
    ngena..seperti komen diatas sy bilang, alpa-alpa yg ada kian terasa.

Leave a Reply to faraziyya Cancel reply

Required fields are marked *