Ikhtiar itu Berkala (Kompilasi Bulan Maret 2013)

Sudah sekitar 6 bulan aku dan dia berada pada perjalanan kolektif di negeri Formosa. Entah darimana sejarah langkah ini terukir, agaknya sudah menjadi takdir yang Allah tegaskan dengan setegas-tegasnya kalimat,

… Dan Kami maha mengetahui segala sesuatu (Al-Anbiya: 81)

Ya semua datang dari Allah dan kepadanya pula kita kembali. Langkah-langkah sekitar 6 bulan ini adalah langkah ikhtiar atau kalau boleh lebih di-detailkan ia adalah ikhtiar perdana kami untuk menempuh satu arah yang Allah takdirkan. Selepas pernikahan tahun lalu dan Ramadhan selepasnya kami bergegas untuk mempersiapkan banyak hal untuk berangkat ke Formosa. Aku mendapat taklimat (instruksi ^^) dari professor untuk kembali secepat mungkin ke Formosa guna menyelesaikan jurnal internasional yang pending pada step major revision. Setelah mendapat kabar itu aku bergegas secepat mungkin dan membawanya pun secepat mungkin, agar kami tidak berpisah di masa-masa awal pernikahan dan menempuh hidup bersama :). Proses persiapan visa bukanlah hal yang mudah, kami berniat berkunjung ke rumah Nafis (keponakan kami yang lucu ^^) di Bogor Coret sana (alias daerah Ciangsana). Dari sana kami beberapa kali bolak-balik ke kantor perwakilan Formosa di tanah air untuk melengkapi dokumen terkait surat nikah yang harus ditranslasikan, visa yang harus mendapat izin 2 bulan tinggal (agar bisa diperpanjang) dan beberapa dokumen lainnya.

Proses ini terkesan sangat mudah namun pada kenyataannya, SUSAH 😀 dikarenakan kita harus melegalisisir seluruh dokumen dan sempat deg-degan dengan gertakan awal petugas yang mengatakan istriqu tidak memungkinkan untuk mendapatkan visa 2 bulan. Hmmm, apa hendak di kata aku terus berupaya mencari celah, ibarat penyerang tengah di permainan sepak bola kucari lubang-lubang kelemahan dan memperkuat reason bahwa ia layak tuk terbang tinggi ke pulau kecil berjumlah sekitar 26 juta jiwa itu ^^. Pada akhirnya aku diizinkan untuk membuat sebuah surat yang akan ditujukan oleh petugas visa itu ke atasannya, untuk menjelaskan maksud dari keberangkatan istriqu ke Formosa. Dengan susunan kata yang apik dan sedikit bernada “optimistik” ia dibuat dan akhirnya cukup kuat menjadi salah satu dokumen pendukung yang pada akhirnya, si “dia” mendapat visa 2 bulan. Awalnya aku sudah pasrah bin pasrah karena inilah ikhtiar maksimal yang mampu kuupayakan dan pada akhirnya pada hari pengambilan paspor tersebut dan melihat durasi tinggal-nya adalah 2 bulan, permulaan kisah kami pun berjalan mulus, permulaan kisah tuk terbang bersama ke bumi Formosa ^^.

Tak ambil tempo dikarenakan kursus bahasa yang hampir menuju batas akhir, membuat kami harus segera pulang ke tanah rencong tuk berpamitan ke rumah mertua dan rumah sendiri. Dikarenakan sosialisasi rencana sudah tersampaikan sebelum semuanya pasti (belum tahu cara kembali ke Formosa seperti apa, durasi visa, dll) maka mereka melepas kami dengan doa penuh harap agar kami baik-baik di sana dan mendapatkan apa yang kami rencanakan. September akhir perjalanan itupun dimulai kala kami harus transit sehari di Malaysia dan langsung terbang lagi ke Formosa dengan tujuan akhir kota di bagian Selatan nan teduh bernama Kaohsiung. Di sana kami akan disambut oleh Mbak Tisa yang ramah serta telah membantu kami mempersiapkan beberapa hal termasuk guest house untuk menginap sehari dan kandidat apartemen yang akan kami huni selama enam bulan. Hari terus berjalan, adaptasi makin menemukan titik klimaks dan nyaman lalu hari kami lewati dengan penuh dinamisasi, rencana dan bergelimang karakter Mandarin..hahaha, karena kami sudah harus mengikuti kursus bahasa yang di awal sudah kuceritakan sebagai alibi tuk kembali ke Formosa..hehe, detektif Conan :ON. Aku senang sekali dengan lompatan adaptasi istriqu, kala ia bersama temannya yang juga orang Indonesia, mbak Gina namanya, salah satu pemilik toko Indo yang terpampang namanya di depan toko “Fun-House Gina Sari” ^^. Bersama mbak Gina ini, istriqu di awal mula mengikuti kursus bahasa mandarin di salah satu sekolah dasar dekat gerbang kampus yang keren itu (lagi deh promosi terus!!..hehe).

Di sana, ia diajarkan bagaimana menulis dan juga mendengar, aku yang mendengar kisahnya dan kondisi kelasnya saja merasakan bagaimana sulitnya belajar di sana karena buku paketnya hanya tersedia karakter mandarin (No transali, No Pinyin dan kawan-kawan). Namun aku sangat terkesan dengan semangatnya, tiap Selasa dan Rabu pukul 7 malam ia bersiap, dengan semangat membara mengikuti kelas itu bersama para foreigner, foreigner yang telah menjadi resident hingga lansia yang juga memiliki semangat juang belajar. Aku terkejut tapi dalam keterkejutan itu aku senang dan tulisan inipun terbetik ketika kulihat ia mulai hari ini kembali mengikuti les itu di term kedua, hari ini tanggal 12 Maret yang sudah hampir 6 bulan lamanya kami di sini, memadu kasih :)

Bersambung….

[K @ Kompilasi karena belum berencana nulis rutin lagi ^^]

12. March 2013 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Tags: | 2 comments

Comments (2)

  1. Menunggu lanjutannya..
    Berencana ga pake FB dan fokus ke Blog.. 😀

    • Hehehe..Thanks bro, good luck jg untuk plan2 ke depan serta target journal SCI-nya ^^, semoga bisa mampir ke rumah “baru” antum suatu saat nanti ^^.

Leave a Reply

Required fields are marked *