KF#20-Persinggahan dan Gerak

Kalau hidup di dunia ini ibarat singgah sekejap saja…

Langkah demi langkah hidup pun penuh dengan persinggahan…

Persinggahan selalu tidak permanen, di dalamnya ada senang tak terkira atau duka yang dalam…

Parameter persinggahan harus usai adalah kala kita sudah mendapatkan semuanya, lalu cepatlah pergi…

Karena persinggahan yang menyamankan akan membuat kita mati gerak, visi yang buntu dan tak tau kemana lagi membuat hidup ini hidup…

Sudah lama kiranya menghabiskan usia di ibukota, sedari kuliah jenjang S1 hingga kerja, agaknya 7 tahun sudah cukup memahami karakter dan insight yang larut di dalamnya. 7 tahun itu kini berbentuk “nostalgila”, ya sahabat nostalgila namanya, karena aku singgah lagi tuk melaksanakan satu urusan singkat dan sisanya adalah kuliner yang sarat nostalgia di beberapa sudut kota. Kami, ada yang batuk ya?, kok subjeknya “kami” sih?. Ya eyalah secara penulis ditemani si dia kala berburu kuliner nostalgila :), kami singgah di sate Sabang, mie ayam Kebon Sirih tempat penulis memadu kisah di jenjang kerja dulu. Lalu diam-diam kuajak dia menuju kedai si jali-jali bilangan terminal blok-m tuk menjelaskan bagaimana kala imut-imut dulu (ketika kuliah) di akhir pekan sambil beli buku baru menuju kedai jali-jali untuk makan mie Aceh, martabaknya yang ditemani kari kambing ^^. Begitulah perantauan kan, kalau tidak ada rindu kampung lebih baik menetap saja (Red. Bukan singgah lagi namanya). Tak berhenti di situ, siomay di bawah halte Polda kami sambangi bersama teh dingin, sedap penuh sukacita kenangan dulu, 7  tahun lalu.

Kini kami hampir menuju usai akan babak persinggahan ibukota, ada waktu yang tak cukup untuk sekadar reuni bersama rekan asisten dulu, ada waktu yang tidak klop lagi untuk sekedar melihat geng Ar-Royyan yang kini sibuk di pekerjaannya. Serta, ada waktu yang kurang sufficient untuk berkunjung ke rumah ibu kos. Kini agaknya persinggahan harus diusaikan. Kemarin aku melihat Nafis Rahman riang bukan kepalang dibelikan sepeda oleh kakeknya, ya keponakanku yang energik itu. Mungkin selepasnya, waktu akan terus bergerak, persinggahan itu kian menuju usai. Persinggahan itu ada saja kesenangan, memori indah, sedih, tantangan serta perpisahan. Sudah saatnya menutup lembaran nostalgila kali ini, terang meninggalkan kelucuan Nafis berusia 2,5 tahun berat adanya. Sungguh rehat ini akan berat tuk ditinggalkan, namun persinggahan selalu harus diusaikan. Esok, lusa atau mungkin tahun depan, terus bergerak meraup mimpi agar persinggahan memang selalu terasa sebagai ajang penyegar bukan suasana permanen.

Wallahua’lam

KF#20 from West Java.

18. September 2012 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Tags: | 2 comments

Comments (2)

  1. Subhanallah, mau dong,, “pacaran” kayak penulis… ^^

Leave a Reply

Required fields are marked *