KF#19-Prakata Cinta

Belum cinta namanya kalau belum memahami cara membuatnya terus ada. Kecintaan itu hadir terkadang dalam kuatnya badai atau bahkan sepoinya angin. Namun kita sering lupa bahwa kita memiliki cinta dalam kenikmatan yang Allah berikan di dunia lalu seolah mengaisnya lagi kala Allah memberikan uji, ujian yang beruntun. Tak heran banyak manusia yang ditenggelamkan dalam kemaksiatan, dicelupkan dalam hubungan tanpa ikatan, diguncang jiwanya dengan gelimang harta yang menuntutnya untuk konsumtif lalu benarlah apa yang dikatakan orang bijak bahwa,

Kekayaan bukan karena banyak harta, karena boleh jadi pengeluarannya hampir menyamai pendapatannya.

Sudikah kini pembaca duduk sebentar, apa itu prakata cinta?

Dalam hening Subuh, dalam terik Dhuhur, dalam teduhnya shalat Wustha, dalam ketenangan Maghrib dan Isya disana ada prakata cinta. Kala kita membasahi lidah dengan dzikir sederhana, namun apakah dzikir sederhana itu juga akan berdampak sederhana pada jiwa?. Kalau ya, untuk apa membasahi lidah tanpa renung di-dalamnya. Sering kita dapati anjuran dzikir yang di-merge menjadi satu paket,

Subhanallah walhamdulillah wallahuakbar…

3 pujian sederhana dan singkat dari struktur linguistiknya namun memiliki tenaga luar biasa dalam makna. Pembaca cobalah sesekali kala mengucapkan SUBHANALLAH merenungi artinya yaitu MAHA SUCI ALLAH. Lalu selepasnya dalam dzikir “Subhanallah” yang berulang itu bayangkan bagaimana Allah diumpat dan dihina oleh mereka yang mengatakan Ia memiliki anak dan istri. Coba renungkan lagi, bukankah Allah maha suci dari duga dan umpatan itu?. Lalu masih dalam dzikir “Subhanallah” renungkan surah Al-Ikhlas kala Allah dengan sejelas-jelasnya menjelaskan bahwa Ia adalah satu, Ia tidak beranak dan diperanakkan. Lalu melangkahlah dalam analogi yang Allah sampaikan dalam Qalamullah bagaimana jika ada Tuhan yang lebih dari satu, boleh jadi dunia diguncang oleh perbedaan keputusan dan pengelolaan alam tidak absolut. Terus kita bayangkan dalam dzikir itu bahwa Allah memang suci, Ia senantiasa suci dari dugaan dan umpatan mereka yang suka mengumpat.

Selepas SUBHANALLAH yang memiliki banyak makna turunan, begitupula ALHAMDULILLAH karena dengannya kita mengakui bahwa segala PUJI ialah milik-Nya. Boleh jadi manusia dipuji dengan kecerdasannya, kasih sayangnya terhadap sesama atau ada pula yang dipuji karena keadilannya. Namun adakah dari semua manusia yang memiliki segala PUJI layaknya Allah, ia yang maha kasih, adil, perkasa, keras siksaannya, pengampun, bijaksana dan banyak lagi. Dengan kita merenguni pujian yang maha untuk-Nya, kita mampu meresapi dzikir ALHAMDULILLAH.

Last but certainly not least, kala kita sampai di dzikir ALLAHU AKBAR. Coba renungi kemaha besaran Allah. Kala kita adalah seonggok manusia yang jika Ia berkehendak Ia mampu menghilangkan jejak kita di muka bumi dan dengan kemaha besaran-Nya, kita hanyalah insan yang sangat kecil jika dibandingkan dengan alam semesta ciptaan-Nya, sedari angkasa, bumi, galaksi, bintang-bintang, matahari, bulan dan lain sebagainya. Dari dzikir ini kita mendapati kekerdilan kita. Lalu apakah patut ada sisipan sombong dan angkuh dalam diri si kerdil seperti kita?

Mari terus mengingatnya, meresapinya lalu renungkan sedalam-dalamnya agar dzikir itu menjadi kenikmatan dan kebutuhan jiwa.

Wallahua’lam

Salam dari si dhaif lagi kerdil ini.

 

03. September 2012 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, Kontemplasi | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *