Kenapa?, sebuah kontemplasi

Kenapa ada hati yang terikat kenapa ada hati-hati yang peka akan kesulitan saudaranya?

Jawaban dari pertanyaan di atas terkesan mudah, namun dalam sudut pandang masyarakat, negara dan sebuah komunitas di satu tempat, ini haruslah berbentuk sistemik, menyeluruh dan peka secara komunitas. Kami disini berupaya membentuk satu sistem baru, sistem komunitas perantauan yang berada pada daerah yang sama, terjadi interaksi repetitif tiap harinya, sehingga kami berpikir diperlukan sebuah sistem dan tata administrasi dan kevalidan komunikasi sehingga semua ter-cover. Dalam perjalanan komunitas yang terikat dalam lingkup yang sama ini, kami meramaikan apa yang perlu diramaikan kami coba inisialisasi iftor jama’i, kami coba inisialisasi shalat berjamaah di 5 waktunya, kami coba inisialisasi pengajian di 2 skup-nya dan kami pun tak tinggal diam untuk menginisialisasi perpisahan bagi mereka yang akan pulang. Ya, kami sedang membuat sistem. Dalam sistem ini kami menemukan ghirah-ghirah yang tak biasa, kami menemukan sebuah keluarga yang senang beramal tanpa diduga, kami pun menemukan keluarga lainnya yang sangat kuat koordinasi internal keluarganya sehingga ada amal-amal jama’i yang mereka sebagai buffer dan destinasi akhir bagi kami. Mereka secara keluarga telah memahami mindset sosial kami, bahwa silaturahim saling peka adalah kebutuhan kami.

[simage=122,200,n,right,]Dalam kesempatan lain, kami memiliki individu-individu berhati baik tak sulit tuk diberi taklimat tak sulit dimintai pertolongan serta tak rumit pengerjaannya. Di beberapa kesempatan, penanggung jawab disana perlu keluar kota, tak sulit semua terus bergerak disana, karena ada delegasi yang cukup memadai dalam short time-nya, sehingga inilah yang kami kadang sebut sebagai tsaqofah delegasi. Semua bergerak secara jama’ah semua menopang satu dan lainnya, dalam gerak jurusan yang berbeda dalam load tugas kuliah yang juga berbeda. Beberapa dari kami melakukan akselerasi di tahun pertama, pun beberapa dari kami ada yang bergerak secara lamban namun pasti dan beberapa dari kami mengisi hari-hari disini dengan tawazun yang tak biasa. Kami menemukan ada keunggulan, seperti instruksi dan buku ideal yang nantinya harus kami baca bersama, bahwa kami harus bisa memanfaatkan keunggulan saudara, karena ini komunitas.

Tulisan singkat ini tertulis juga atas inspirasi yang baru didapat, mendapati bahwa beberapa dari kami yang terbatas dana selama perantauan kali ini padahal iftor, makan bersama tuk silaturahim tak mungkin menyurutkan langkah kami tuk bersosial, bermuamalah. Sehingga kami perlu mencari solusi agar sunduk yang terbatas tidak boleh menghambat laju kami demi sistem yang baru dimulai ini.

Masih terlalu dini, namun sistem harus terus dilakukan percepatan agar kami suatu saat di destinasi akhir memiliki tsaqofah yang sama, berjalan bersama di satu marhalah yang lebih rumit dan sangat menantang. Biar sistem sederhana ini berjalan dulu dan menyentil marhalah yang terkadang lesu terlalu lama, “futur” katanya!, benarkah?, futur kok dibilang (ingatku pada seorang guru).

Pernah tersebut dalam do’a kami bersama,

Semoga sebelum pulang ke Indonesia tidak hanya tamat kuliah namun tamat/khatam juga Al-Quran plus artinya!, amin…

Terus bergerak membuat sistem, dari sederhana dulu namun penuh estimasi kedepannya, insyaALLAH…

Wallahua’lam

[K]

16. June 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, Kontemplasi | Tags: , , | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *