Kalbu yang tertutup

8 tahun lalu aku masih ingat sekali ketika bu guru agamaku di kelas 2-5 itu menyampaikan berita duka itu dengan khasnya,

“sepandai-pandai tupai meloncat pasti kan jatuh juga”

Begitu responnya menanggapi berita tewasnya panglima GAM kharismatik, Tgk.Abdullah Syafei. Ketika itu samar adanya siapa yang mendukung gerakan separatis atau sebaliknya, semuanya buram namun kehidupan keseharian terus berjalan sekenanya, seadanya dan Aceh masih bereuforia dengan serambi mekahnya. Tgk. Abdullah adalah panglima tegas, tidak ambil tempo dalam negosiasi dan yang kutau selama pertarungannya raut mukanya senantiasa tangguh di ketidakpastian usaha separasi (pemisahan), keren nian kulihat ia di sampul harian kontras itu, berseragam lengkap dengan topi merah, sangat khas teman. Dalam gerilyanya pasukan ia dikabari tewas di beberapa tempat tapi sudah berapa kali itu adalah kekeliruan dan termasuk yang terakhir ini akupun yang notabene tidak terlalu mengikuti dalam perkembangan gejolak ini tidak terlalu ambil pusing sebelum ibu guru bergumam pesan singkat itu. Tak ada yang tak bisa tertangkap, walaupun terkadang yang benar terkadang samar dan yang salah tak pernah sadar menyitir syair indah zero nasyid.

Keteringatanku pada pesan ibu guru membuatku merenung sejenak, walaupun Tgk. Abdullah pastinya diinterpretasi dengan 2 opini kontras, dimata negara ia mungkin buronan kelas kakap yang mampu menggerakkan sekerumunan orang dengan tujuan yang sama, pisah dari ibu negara, namun dalam waktu yang sama ia bisa didefinisikan sebagai pahlawan bagi ureung(orang) Aceh terutama yang tidak melihat kemanfaatan kebersatuan dengan NKRI, apalagi pasca DOM (Daerah Operasi Militer) yang ibarat runtutan kisah turun temurun, api dendam yang tak pernah padam. Hanya ALLAH yang mampu menilai namun sekali lagi aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa banyak manusia tak bisa belajar dari masa lalu kenapa banyak manusia seakan-akan tidak mengenal abu lahab yang diabadikan di Qalamullah yang tak pernah raib dan lenyap, kenapa manusia seakan tak pernah tau siapa si ubay bin salul yang mengharapkan tahta dunia namun ketika itu lepas dari genggaman menjadi seorang pengadu domba dan pelemah iman paling tangguh di jazirah arab kala itu, kenapa manusia seakan buta akan kemana berpulangnya para tirani semacam  haman, fir’aun, jalut dan qarun padahal murka ALLAH tertulis abadi tentangnya, pun kenapa lagi manusia tak mampu melihat kisah berpulangnya sang nabi yang tak pernah lepas pikirnya dari umat sekali lagi umat dan sekali lagi umat lalu ketika seakan tak pernah mendengar ketangkasan Dawud, kemuliaan Sulaiman walau dalam tahta, ketundukan Isa dalam mukjizat serta kesabaran diatas kesabaran ala bapak para anbiya sekelas Ibrahim. Kalbu seakan tertutup, seakan pekat tak bisa melihat sinar terang setelahnya seperti ada barrier gelap yang tak pernah berujung semua sinar masuk lalu terpental dan tak bisa menghapus noda hitam walau setitik pun. Kenapa?

Al-baqarah mengisahkan bani Israil yang banyak tingkah, banyak tanya tapi untuk mengelak, banyak minta karena tak sabar, minta selain manna dan salwa pun tak ada syukur pasca pembagian mata air per kabilah. Lalu kau ingat teman sapi emas itu, mereka sembah hanya sepeninggal 40 hari sang Nabi berjumpa tuhannya mempelajari kalam yang itu untuk mereka pula. Samiri memainkan peran, patung sapi emas berbunyi layaknya hidup lalu mereka yang lemah kembali ke layunya kalbu kecuali sebagian kecil yang tangguh, memang pikirku selama ini yang tangguh selalu sedikit. Lagi-lagi aku tanya kenapa?, jalan terjal kebenaran pasti dibersamai dengan orang-orang yang sedikit, Nuh yang berdakwah ratusan tahun hanya mendapat segelintir orang, pasukan talut hanya menyisakan segelintir pasukan. Fiuhh, benar adanya pikirku sedikit jumlah adalah sunnatullah jalan kebenaran.

Ali-Imran hari ini berakhir, banyak pesan yang tak ada berubah selama 14 abad ini namun lagi-lagi manusia seakan kehilangan resapan cahayaNya, hangat dalam genggamanNya, keteduhan dalam pelukan hikmahNya, kesabaran dan peningkatan kesabaran setelahnya, lalu ketakutan akan hisabNya yang sungguh cepat. Lagi-lagi aku bingung pada manusia, termasuk aku si lemah ini kenapa kalbu seakan gelap tanpa cahaya yang terserap yang menghangatkan kalbu pasca ini semua. Hah aku tertunduk lesu namun sontak terbangun teringat pesan Amirul mukminin, ksatria tangguh yang tergores ceritanya, Umar bin Khattab :

Kita ini sebenarnya kaum paling hina, kemudian ALLAH memuliakan kita dengan Islam. Maka, kapanpun kita meminta kemuliaan selain dari ALLAH, dia akan menghinakan kita.

Benakku mulai berkabut aku hilang kendali pasca pesan Umar Al-Faruq, aku geram bukan kepalang karena kekinian tengah karam sekaramnya, karena ternyata manusia sekarang ini tak meminta kemuliaan pada sang pemberi kemuliaan. Namun materialistik adalah tempat mereka meminta. Aku tertunduk lagi, biarkan kalamullah menyindirmu lagi aku dan manusia semuanya, yang tengah diterpa angin sepoi yang menusuk yang membuat para monyet terjatuh dari pohonnya meski angin badai tak mampu menjatuhinya kala itu.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran ALLAH bagi orang yang berakal (Ali imran : 190).

Siapa yang berakal teman?

Yaitu orang-orang yang mengingat ALLAH sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka” (91)

Ali-imran serta merta menyampaikan keteduhan sepanjang zaman, aku beranjak ke surah An-Nisa yang surah demi surah setelahnya, berlimpah keabadian kalamullah…

Wallahua’lam

K

26. January 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *