Ini cerita tentang indikasi

Masih dalam suasana syahdu dan hegemoni STP, whuat?? (anak gaol mode: ON), apaan tuh STP?

STP itu Serial Tulisan Pendek, muncul suara-suara, kenapa gak nge-twit aje or update status or even (baca: epen) pake Google +, ogah…belum ada iPad ini 😀 [Malih tong tong mode: ON]. Ups keluar dari korelasi dan tujuan tulisan ini dibuat.

Eh bentar-bentar, Jakarta lagi sahurr…teringat kong aji gang puskesmas tiap jam 3 dini hari dengan Mikrofon di tangan mulai teriak…saoorrr…saooorr…

Waduh kong aji kayak kagak tau kita aja, anak kos ya dibangunin ibu kos (langsung tarik bantal tutup kuping).

[okeeeee cukuppp ngaconya].

Kali ini kita berbicara satu hal yang mungkin luput dari konsentrasi manusia, masih teringat dalam benak dalam keseharian kita. Sekarang aku hanya ingin bertanya, ketika kita pergi ke mushola siapa yang akan datang duluan?, terlebih dalam suasana malam ramadhan yang begitu meriah. Kalau di kampung kami yang paling awal datang adalah yang rumahnya jauh dari mushola dan pak Ustadz yang kebagian ceramah yang rumahnya mungkin di luar kampung kami. Sekarang pertanyaan yang menggelitik adalah, kemana para masyarakat yang rumahnya bersebelahan dengan mushola?. Pikirku mereka mungkin berpikir ahhh dekat ini, ngapain cepat-cepat, belum juga azan…

Tidak ada yang salah dari pikiran diatas kan teman, sekarang aku hanya ingin mengajak aku dan pembaca merenung, apakah kematian itu tanpa tanda?, mungkin uban kita, mungkin segudang maksiat kita yang membuat ALLAH mempercepat eksistensi kita di dunia atau bahkan di kalangan para ulama mereka ada yang dicabut nyawanya dalam usia-usia yang muda karena ALLAH mencintai mereka dan menjemput lebih cepat. Kalau kita berbicara pada skup normal 63 tahun sebagai usia default ajal kita, seberapa sering kita memikirkan indikasi, seberapa sering kita mengulur waktu ibarat jamaah yang dekat namun tak bersegera. Apakah kita jarang mempercepat amal, apakah kita sering mengabaikan sesuatu yang perlu disegerakan namun melalaikannya dengan gumaman yang identik “ah masih ada besok ini, ngapain kerjain hari ini

Sebuah renungan akan indikasi, indikasi kematian.

Wallahua’lam

[K-Begadang setelah lama tidur panjang]

06. August 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *