Ia harus utuh adanya

Islam bukanlah sebuah kata yang bermakna abstrak, ia memiliki keindahan dan jika kita gali dan gali terus kita hanya akan melihat keindahan yang lain terus saja gali lagi, kita akan mendapatkan sesuatu lagi bahkan lebih indah dari sebelumnya. Pasca wafatnya Rasulullah SAW dan turunnya Al-Maidah ayat 3:

“pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku ucapkan nikmat Ku kepadamu, dan Aku ridha islam menjadi agamamu”

Serta merta secara formal kalamullah berhenti diturunkan dan mencapai puncak kesempurnaannya. Namun ini adalah permulaan dan ia tidak akan pernah berakhir, Al-quran akan dijaga kesempurnaannya, sunnah akan menjadi pelengkap bagi yang hidup di zaman-zaman setelahnya, tak ada yang kurang semuanya cukup dan bahkan intact untuk menjelaskan cara hidup dan bagaimana kita harus bersikap. Islam secara harfiah adalah kedamaian, ia mengajarkan satu dependensi kuat akan struktur ilahiah, seluruh jiwa harus bergantung padaNya, bukan pada selainnya bernama Latta, uzza, manat atau bahkan hubal yang dulu dipuja-puji itu. Kita pun bukan tergantung pada diri sendiri dengan kecongkakan dan keujuban ala firaun atau bahkan Raja Namruz yang melongo akan pertanya Ibrahim AS. Pun Islam bukan mengajarkan ketertundukan secara penuh kepada raja, rasulnya atau bahkan roh-roh halus bernama iblis atau jin.

Kita hanya diinstruksikan bergantung pada satu dzat, ALLAH SWT sang pemilik sekalian alam, yang ada sebelum bumi ada yang maha dari segalanya. Islam mengedepankan aqidah diawalnya, pernah kau pikir kenapa Rasulullah tidak mengambil peran sebagai pemimpin kabilah seperti Hasyim, Abdul Muthalib dan Naufal?, kenapa seorang pria yang sebelum kenabiannya dijuluki Al-amin ini tidak menggunakan kekharismatikannya untuk memegang kendali kabilah di Jazirah arab lalu baru mengenalkan islam dengan tangan besi?, kenapa ia harus mendeklarasikan keislamannya ketika para kabilah masih menyanjung berhala sebagai sembahan dan media penyampaian doa kepada ALLAH?. Jelas ini karena Aqidah adalah kunci utama keislaman, karena kalaulah Rasulullah memimpin semua kabilah lalu baru mengajak atau bahkan memaksa semua penduduk jazirah arabiya berislam kala itu, ada banyak indikasi yang muncul setelahnya, mungkin saja itu taklid buta atau bahkan mungkin saja keislamannya karena ketakutan yang sangat. Namun islam di awal memang sekali lagi mengedepankan aqidah, walaupun Rasulullah dan para assabiqunal awwalun harus menahan siksa dan berdakwah secara sembunyi di rumah arqam bin abul arqam, begitulah adanya konsekuensi aqidah yang harus dikedepankan.

Aqidah adalah bertuhan dan mengabdi, bukan hanya bertuhan namun tidak mengabdi kepadanya, bukan hanya bertuhan tapi menyembah selainnya, bukan bertuhan tapi menyekutukannya dengan roh-roh dan gandum berbentuk boneka atau berhala atau bahkan sapi emas yang berlubang ala samiri itu. Aqidah adalah jelas bertuhan yang satu dan mengabdi hanya kepadaNya.

Aqidah tak boleh disepelekan, kalaulah ia dikesampingkan begitulah muncul penyakit-penyakit turunan yang akut, ketika manusia tak lagi peka akan kehadiran Tuhannya…

Dan barangsiapa yg menyerahkan dirinya kepada Allah sedang dia orang yg berbuat kebaikan maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yg kokoh. Dan hanya kepada Allahlah kesudahan segala urusan

Wallahua’lam

[goresan penutup malam]

23. February 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching | Tags: , , | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *