Di jalan ini, ada saja keragamannya

Seorang rekan bergumam, sebenarnya aku bisa melakukan lebih baik dari keburukan yang terbungkus rapih itu. Sebenarnya jika aku yang mengambil alih tugas ini akan ada mata-mata yang terbelalak setelahnya dengan visi yang lebih brilian dan tersusun rapih.

Wuihhh berat nian pesan sang teman itu, namun hari ini kita tidak sedang membicarakan satu orang. Namun sebuah jalan, jalan ini dibersamai oleh mereka yang memiliki karakteristiknya sendiri, dan bahkan itu tidak bisa diubah dan hanya perlu untuk dipahami, sekali lagi dipahami dan memanfaatkan kelebihannya. Di jalan ini ada saja bentuk kecerobohan, kekurangan visi dan mentalitas yang belum terasah, namun di jalan ini pula kita bisa memberdayakannya dalam skup teknis, skup lapangan yang mungkin ia lebih mahir dari kebanyakan orang.

Di jalan ini ada saja yang memiliki ketangguhan, kepolosan bercampur tegas, tidak mampu menahan geram kalau geram itu dibutuhkan serta memiliki ketangguhan dalam suasana kritis ketika yang lain mulai putus asa dan berinisiatif mundur.

Di jalan ini ada saja yang mengedepankan kuantitas pun terlena akan kualitas namun di jalan ini pula ada saja yang mengedepankan kualitas namun lemah akan mobilisasi masa dan kuantitas, bayangkan kalau keduanya bergabung untuk  menempuh tujuan yang sama. Sehingga jalan ini menyisakan kisah klasik nan heroik yang tidak akan berbeda dengan jalan ini setelah zaman mereka, jalan ini akan senantiasa sama sifatnya hanya zaman yang sudah mulai mapan dan modern, namun derivasi masalah hanya akan berkutat disitu2 saja, karena sumber masalah ada pada diri yang bergulat nafsu, konspirasi setan dan nafsu atau bahkan hati yang berujung keras dan sulit menerima hikmah kehidupan. Hidup akan senantiasa berjalan disitu2 saja, terserah semodern apapun zaman hari ini.

Sehingga hari ini kita tidak akan kehilangan refleksi kejujuran ala Abu bakr ash shiddiq dan ketaatannya di jalan ini. Sehingga hari ini kita tidak akan kehilangan refleksi tangguh, keras pada kemaksiatan dan lembut dalam zikir ala Umar bin Khattab, juga hari ini kita tidak akan kehilangan Ustman yang pemalu dan kaya, pun kita tidak akan kehilangan manusia sejenius Ali di jalan ini.

Setelahnya akan ada Sa’ad bin muadz yang menjadi representasi umat yang  tangguh akan penumpasan makar yang bertaburan di depan mata, lalu akan ada Sa’ad bin ubadah yang peka akan kesulitan kaumnya dan menyampaikan itu dengan gamblang tak ada yang tertutup, hanya untuk umatnya yang ia rasa dizalimi.

Sehingga hari ini kita tidak juga akan kehilangan refleksi as’ad bin zurarah dalam pendampingan dakwah di masa krisis madinah, pun kita tidak akan kehilangan pemuda berparas kurang baik dalam lahiriahnya namun menjadi pendamping Rasulullah SAW ketika memasuki ka’bah tuk menghancurkan berhala pada sesi fathu makkah, siapa mereka, mereka si hitam legam bekas budak, Bilal bin Rabbah dan di sisi kanan ada Usamah bin zaid, pendek jasadnya namun dalam umur yang belasan, di satu perang memimpin 2 sahabat mulia sekelas Abu bakar dan Umar. Sehingga jalan ini tidak akan kekurangan refleksi, pastinya refeksi ini tidak sesempurna generasi emas itu, namun jalan ini menyisakan adaptasi kekurangan saudara dan ia harus mampu melihat seluk beluk keunggulan saudara.

Jalan ini tidak akan hilang ditelan modernitas dunia namun kekeringan ruh di waktu yang sama, jalan ini memang diciptakan dalam barisan yang sedikit, berduri lagi panjang. Sehingga jikalau jalan ini senantiasa ditapaki, hasilnya ada mereka yang wajahnya di yaumul hisab membuat iri, putih bersih, bersinar seakan ingin menjemput sesuatu hal yang hakiki, Syurga darussalam namanya.

[simage=93,200,n,center,]

 

Wallahua’lam

Goresan dan renungan akan jalan ini yang semakin terjal saja, siapa aku? jangan-jangan aku tidak termasuk dijalan sepi ini, jalan sepi yang banyak pikulannya.

[K]

22. March 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching | Tags: , , | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *