Dalam perjalanan tadi…

[simage=96,200,n,left,]Dalam perjalanan tadi, di sepanjang freeway di taksi kuning menuju lapangan indoor futsal yang berbuah trophi kedua dalam turnamen sepakbola di tanah formosa, aku hening sejenak untuk sekadar menginterpretasikan kekuatan dan iltizam para syaikh-syaikh kehidupan. Sedari muda dulu (masa muda mulai lagi yakkk…. 😀 ), menaiki angkutan umum menjadi “contemplation zone” tersendiri bagiku, disitu aku bisa mengeluarkan beberapa pikiran aneh, terbang ke langit dan yang paling antagonis adalah terbang terbuai mimpi karena tertidur, untung abang kondektur bersuara keras, jadi aku terbangun di tempat yang tepat.

Oke, langsung ke titik renung hari ini, daripada pembaca mutar-mutar tak karuan membaca preface diatas.

Sebuah komunitas atau masyarakat yang memiliki tujuan yang sama, walau itu memiliki kuantitas yang kecil namun memiliki kualitas yang besar dalam menghadang atau membenarkan suatu zaman yang ramai akan ketidakbenaran atau sebut saja maksiat, masyarakat, kumpulan atau komunitas ini akan menghentak, mengusik dan mengganggu suatu yang sudah mendarah daging. Awalnya masyarakat ini mengusik skup daerah yang kecil, namun seiring perkembangannya ia akan mengusik skup yang jauh lebih besar, namanya imperium, besar nian kata itu, imperium. Begitulah Islam di awal, ia hanya secuil masyarakat atau perkumpulan yang memiliki keyakinan yang sama, yaitu Tuhan itu satu, Tauhid. Mereka hanya secuil masyarakat yang diam-diam mendengar kalamullah di rumah Arqam bin abul arqam dan mereka juga secuil masyarakat yang dimata-matai oleh kaum jazirah yang berkuasa ketika itu. Mereka senantiasa dibuntuti untuk meraih informasi valid, proven dan feasible, untuk melanjutkan spionase menjadi suatu yang implementatif bernama penyiksaan(torturing). Jadi komunitas kecil yang memiliki tujuan yang sama, namun mereka di jalan yang benar memiliki kecenderungan mengganggu dan mengusik kaum di sekelilingnya yang masih tidak benar. Jadi mereka para masyarakat yang benar ini, haruslah kuat dan gagah dibalik siksa yang menghadang. Semakin besar ia, semakin beratlah ujiannya. Setahap demi setahap ia makin besar, ia makin mengganggu karena ia membawa para pemuda gagah, pemudi pemberani dan disegani oleh masyarakat menuju jalan ini. Sehingga ini menjadi refleksi penyiksaan bagi mereka, yang di jalan ini tidak memiliki tameng, tidak memiliki kekuatan dan tidak memiliki penjamin, jadi di jalan ini pula kita pernah membaca bagaimana Bilal, Ammar, Sumayyah dan Yasir, semua adalah imbas dari jalan ini yang makin membesar. Apakah mereka menyerah setelahnya???, Tidak teman, mereka malah makin kukuh, yang ternyata ini berawal dari kesamaan keinginan untuk merubah umat dan memperbaiki umat dan ada keyakinanku yang sangat, mereka sangat memahami pesan Rabb berikut ini:

Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan. (Ali-Imran : 186)

Jadi jalan ini memang memiliki tipikal sulit dan terjal. Setelah mereka semakin lama semakin membesar dan jazirah arab mulai dikuasai dengan Tauhid di dada serta bersifat inheren, ia akan mulai mengusik skup yang lebih luas. Ia bernama imperium, waw luar biasa imperium teman. Masyarakat ini mengusik imperium Romawi dan Persi yang keduanya memiliki wilayah jajahan masing-masing kala itu. Namun karena ia sudah sangat mengusik, perjanjian tidak menemukan titik temu, maka pembukaan wilayah melalui perang tak bisa dihindari. Dalam hal ini lagi-lagi tak ada rasa gentar dalam masyarakat yang berada dalam jalan ini, aku ingin sekali lagi menukil sejarah ketika Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan bercakap dengan komandan pasukan musuh dari imperium Roma bernama Mahan,

Kami tahu bahwa yang menyebabkan kalian keluar dari negeri kalian adalah kelaparan dan kesulitan hidup. Jika kalian setuju, saya beri setiap orang dari kalian 10 dinar, pakaian, makanan, asalkan kalian pulang ke negeri kalian. Tahun depan saya juga kirimkan pemberian yang sama.

Sungguh perniagaan yang menguntungkan bukan, namun masyarakat ini bukanlah masyarakat yang ingin melakukan kong kali kong dunia, namun mereka hanya ingin dunia tahu bahwa Islam adalah rahmat bagi sekalian alam. Mereka dalam jalan, komunitas atau masyarakat ini tidak bisa dihentak dengan negosiasi dunia yang menggiurkan, karena jalan ini seiring interval kebesarannya, sudah ditempuh dengan ujian yang lebih berat lagi. Jadi pidato Khalid sebelum peperangan menjadi pesan indah bagi pasukannya,

Hari ini adalah hari-hari ALLAH. Tak pantas kita menyombongkan diri dan bertindak melampaui batas. Niat kalian harus ikhlas karena ALLAH. Semua yang dilakukan haruslah untuk ALLAH. Mari kita bergantian menjadi pemimpin pasukan. Hari ini satu orang jadi pemimpin, besok diganti orang lain, lusa yang lain lagi, sehingga seluruhnya mendapat kesempatan memimpin.

Indah nian pidato menyambut musuh, hari ini adalah hari-hari ALLAH, sebuah ketundukan macam apa ini, mereka menyerahkan segalanya hanya kepada Dzat maha segalanya. Sehingga semakin besar mereka, memang semakin besar komunitas, rezim bahkan imperium yang mereka usik.

Sehingga teman, inilah mereka, inilah jalan-jalan mereka. Aku juga tak tau pasti kenapa mereka tegar di jalan ini, jalan yang berat ini, tapi sepertinya aku mulai paham, sepertinya mereka sangat takzim dan memahami pesan Rabbnya ini,

… Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan ALLAH kepadanya, dan bergirang hati terhadap yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (Ali Imran : 170)

Sungguh syahdu kata “bergirang hati”, ketika hati kita girang karena suatu kehidupan setelah kehidupan. Sehingga bagi mereka yang berada di komunitas, masyarakat ini, ujian adalah niscaya dan marilah menyikapinya dengan merujuk jalan cinta para generasi awal yang luar biasa.

Wallahua’alam

[Ditulis pasca kepulangan dan meraih trophi liga futsal, menjadi trophi kedua di bumi formosa bersama AUFC, dengan ini aku bingung kenapa trophi main bola yang bertambah, namun studi master masih tetap berjalan dengan irama yang cukup baik, jadi tak apa 😀 ]

K

26. March 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, Kontemplasi | Tags: , , | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *