Assalamualaikum Shanghai…

PudongMasjidSerambi_15August

Original version published on “Harian Serambi Aceh 15 Agustus 2015” : http://aceh.tribunnews.com/2015/08/15/shanghai-yang-bikin-kangen

Hari ini Senin bertepatan dengan tanggal 4 Syawwal 1436H, saya berkesempatan menuju Shanghai untuk kedua kalinya. Tujuan perjalanan kali ini adalah menghadiri rapat projek (tengah tahun) yang diadakan oleh sebuah perusahaan teknologi. Perusahaan yang berbasis di U.S.A ini memiliki beberapa kantor dan pusat penelitian di Asia. Salah satu yang paling besar adalah di Shanghai. Saya bersama professor mendapatkan projek dengan tema rekonstruksi objek 3D (3 dimensi), yang diharapkan akan rampung akhir tahun ini. Masih dalam nuansa hari raya idul fitri, saya mulai mencari masjid untuk dikunjungi. Tahun lalu saya sudah mengunjungi dua masjid yaitu Masjid bersejarah di taman yuyuan dan masjid Huxi.

Kali ini saya menginap di sekitar “Shanghai Pudong Software Park” dan berencana menuju masjid megah di tengah kota Shanghai bernama “masjid Pudong”. Untuk menuju tempat-tempat menarik di Shanghai tidaklah sulit, karena akses Metro Shanghai yang nyaman dan mencakup hampir seluruh wilayah di Shanghai. Dari lokasi hotel saya menaiki metro jalur 2 stasiun “Jinke Road”, lalu ganti ke jalur 6 di stasiun “Century avenue”. Dari sana ambil arah ke stasiun “Yuanshen Stadium” dan keluar melalui pintu 4. Persis di pintu 4 saya temui seorang muslimah berhijab penjual makanan halal, karena baru pertama kali melewati wilayah ini saya pun memastikan alamat dengan bertanya kepadanya “Assalamualaikum, qing wen Qīngzhēnsì zai nali?” (Saya mau tanya, masjid dimana?). Ternyata jarak masjid tidaklah jauh, belok kanan dari pintu 4 dan berjalan sekitar 200 meter. Tahun 1935, dipimpin oleh seorang imam bernama Hong Changjin, masyarakat muslim di sekitar jalan Dongchang menyewa sebuah rumah sebagai mushola. Tahun 1939, pembangunan masjid Pudong dimulai dan akhirnya selesai tahun 1947. Tidak selesai di situ, tercatat beberapa renovasi dilaksanakan dari tahun 1984 hingga dibuka kembali 1985. Akhirnya masjid ini direlokasi ke area seluas 1,650 m2 tepatnya di jalan Yuanshen (hingga hari ini). Setiap tahunnya masjid ini ramai dikunjungi wisatawan muslim dari berbagai negara, puncak kemeriahannya adalah di bulan Ramadhan, dimana setiap harinya dilaksanakan buka puasa bersama (iftor jama’i).

Cina daratan mengakui Islam sebagai agama resmi dengan jumlah populasi muslim sekitar 20 juta penduduk. Bahkan, di uang kertas mereka dapat kita temui tulisan bahasa Arab yang secara tidak langsung mengakui eksistensi Islam. Perjalanan tiga hari ke Shanghai tahun ini sangat berkesan. Selain menghadiri rapat, saya bisa kembali merasakan atmosfir Islam dan mempelajari bagaimana cara kota modern ini menarik wisatawan dengan ketersediaan transportasi yang canggih dan terjangkau.

Mengutip ucapan seorang penduduk asli di atas Boeing 737-800 beberapa detik sebelum mendarat, “Shanghai, wo xiang ni” (Shanghai, aku rindu kamu). Saya berharap semoga kunjungan ketiga ke Shanghai bisa membawa serta keluarga kecil yang sudah tiga hari ini saya tinggalkan di kota Kaohsiung, Taiwan.

13. August 2015 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story | 2 comments

Comments (2)

  1. Pengen deh ke China. Sy berjodoh sama Asia Timur melulu. hehehe..

Leave a Reply

Required fields are marked *