2 kontradiksi

[simage=105,200,n,left,]Ada 2 pikiran yang mengaduk-ngaduk benak ketika mengayuh becak (eh salah, sepeda maksudnya), menuju lab tercinta. Di malam yang tak lagi dingin, cukup satu lapis baju, sudah cukup untuk menembus malam yang tak lagi menusuk seperti winter beberapa waktu lalu. 2 hal yang tidak ada korelasinya, 2 hal yang ingin kutuliskan disini, satu sebagai pembuka yang tak ada korelasi dengan hal berikutnya. Kenapa ini terjadi?, dendrit, sinapsis, otak reptilia atau apa istilahnya, sepertinya korelasi antara satu vessel ke destinasinya mengalami gangguan, atau ini imbas dari kelebihan makan?. Oke kita mulai.

Pikiran 1:

Kalaulah aku memiliki wewenang memberikan kata baru dalam kamus Oxford kecil yang elegan dan menjadi bawaan para overseas student itu, kusarankan dengan sangat, tambah satu kata kerja, sebut saja namanya Papering.

Oke pikiran 1 selesai, singkat dan tidak jelas. Go ahead please!

Kalau menyebut satu radio yang menjadi idola dan dambaan kehadirannya, ia adalah channel 98.5 FM, atau slogannya dalam bahasa Aceh, sikureung ploh lapan koma limong ef em (sembilan puluh delapan koma lima FM). Ya ini adalah channel radio yang paling tidak, memiliki acara khusus yang Ibu dan Nenek saya senangi. Channel ini memiliki tempat khusus di hati pendengar, kalau nenek saya tidak akan pernah mendengar channel lain, satu radio box, semahal apapun harganya, Ia hanya butuh satu channel, 98, 5 FM. Hmm, bagaimana dengan Ibu, jawabannya adalah SAMA. Apa keunikan 98.5 FM, kenapa ia terlalu spesial?, temans namanya saja sudah enak didengar, Radio Baiturrahman, ya Baiturrahman. Kalau saja frekuensi radio bergeser hingga ke channel lain, Nenek, kalau aku sedang dirumah pasti memanggil, dan aku langsung tau, frekuensi bergeser, akhirnya aku memiliki kerja sampingan, tukang reparasi frekuensi, pekerjaannya mudah dan menyenangkan, sripp putar tuas radio, arahkan kembali ke 98.5 FM! 😀

Radio Baiturrahman di tiap paginya sebelum azan subuh sudah stay dengan lantunan ayat suci al-qur’an, hingga menjelang subuh, dan yang paling menarik bagi para pendengar setia, karena pembacaan al-quran yang merdu dan berirama, saya dan sudah barang tentu nenek dan ibu lebih paham bahwa tanda akan masuknya waktu Subuh adalah irama Qari yang bernada irama penutup, hmmm ini sulit aku jelaskan teman, tapi jika ayat tersebut adalah ayat terakhir sebelum azan, pasti ia dibacakan dengan irama khusus, begitu kira-kira. Hmm aku bisa sedikit mempraktekkannya, namun blog ini tidak bisa bersuara kan?

Setelah subuh, shalat berjamaah di masjid raya kebanggaan Aceh, Masjid Raya Baiturrahman akan disiarkan secara langsung, sehingga kita juga bisa mendengarkan ketika imam masjid memimpin shalat, namun bagi yang pria, ini seharusnya tidak didengar, toh “seyogyanya” para pria sudah di meunasah (mushola) untuk shalat berjamaah, bukan mendengar imam masjid baiturrahman memimpin shalat 😀 . Selepas itu ada kajian subuh rutin, disini para ulama-ulama Aceh bergiliran mengisi topik-topik khusus, ada tentang sejarah, akidah dan lain-lain. Ini adalah agenda rutin di pagi hari, biasanya selepas itu acara akan dilanjutkan dengan qasidahan atau nasyid. Ini adalah salah satu kenapa 98.5 FM memiliki pendengar setia, dan Ia sebagian besar didengungkan di seluruh meunasah (mushola) di Aceh, karena ia menjadi patokan kapan azan di 5 waktunya, jadi sebelum azan pasti radio Baiturrahman di putar dan microphone diarahkan ke speaker radio serta dilanjutkan ke speaker outdoor mushola. Ini menjadi kelumrahan di Aceh.

Subuh pergi, siang datang, countdown shalat dhuhur pun sama, namun bedanya hanya tidak ada kajian siang, karena rata-rata masih sibuk dengan aktivitasnya, begitu pula Ashar. Selepas itu, menunggu maghrib akan ada kajian ustadz, yang terakhir kudengar dulu, adalah rekaman ceramah da’i-da’i kondang. Lalu maghrib pun tiba, selepas maghrib ada yang menjadi agenda utama yang ditunggu-tunggu oleh Ibu dan Nenek, kajian maghrib yang lagi-lagi diisi oleh ulama-ulama Aceh yang menggunakan cara penyampaiannya yang khas. Selepas kajian biasanya akan langsung berlanjut dengan shalat berjama’ah Isya. Sehingga bisa ditarik garis, kemana arah Radio ini, ini adalah radio pengingat bagi si lalai, penyejuk hati bagi yang beriman, ia walaupun tidaklah mencakup segala aspek keislaman, namun memiliki spesialisasi sendiri, sebagai penjaga waktu hamba beriman. Ya itulah Baiturrahman, paling tidak dari pandanganku. Sisanya aku biasa mendengar pula lagu-lagu Aceh yang sedang populer, walaupun banyak juga yang jadul, sekelas “Payung hitam”, “Marcelina”, “Hasan Husein”, “Meukondroe” dan lain-lain.

Inilah 98.5 FM, yang memiliki tempat khusus bagi pendengarnya, awal ku mengenalnya adalah masa-masa SMU, hmm sudah berapa tahun ya???, sekarang Baiturrahman tak bisa kudengar lagi, karena semakin jauh dari tanah kelahiran. Namun semoga bisa kembali mendengarkannya, di waktu yang tak lama lagi, jikalau Rabb mengizinkan. Lalu jika Nenek sedang di rumah, Aku akan menduduki posisi masyhurku ketika masa-masa keren dulu, “Tukang Reparasi Frekuensi”.

Salam rindu bagi mereka.

* ada linknya sekarang 😀 -> http://www.gemabaiturrahman.com/

[K]

12. May 2011 by Mr.K
Categories: Brain Stretching, commons story, Kontemplasi | Tags: , | 2 comments

Comments (2)

  1. Nice story. Ikut terkenang dengan masa-masa itu. Saleum kamoe dari Bonn.

  2. Danke-xie xie-thanks udah berkunjung syedara lon dari Bonn.
    Saleum silaturahim dari Taichung 😀

Leave a Reply

Required fields are marked *