#AiHe_4 Sosok kakak di perantauan

Ketika usiaku masuk 18 tahun, hatiku tak karuan dan sangat ingin merantau. Setelah kuingat-ingat kenapa, jawabannya selalu sederhana yaitu ingin “merawat” diri sendiri. Aku belum tau tentang kehidupan di luar tanah kelahiranku, aku tak tau bedanya, apalagi dinamikanya. Keputusanku rasanya benar, aku memutuskan merantau ke kota penuh hiruk pikuk dan dinamis, ibukota Jakarta. Tahun 2003 adalah tahun fenomenal lembaran hidupku ketika memutuskan landing di bandara Cengkareng dan tak kembali (kecuali sebentar) selama 7 tahun lamanya. Hari pertama, tepatnya malam pertama aku nge-kos tak banyak yang tau, bahwa malam itu aku menangis. Menangis tanpa sebab walau hanya sebentar, aku kehilangan sosok yang penyabar tanpa batas, ibuku. Aku kehilangan sosok gigih nan disiplin ayahku. Malam itu aku sendiri, di sebuah kamar kecil, benar-benar sendiri.

Hari terus berjalan dan sangat dinamis. Sebagai mahasiswa baru, aku mengikuti matrikulasi di kampus lalu setiap Sabtu mengikuti agenda wajib yang dilatih oleh seorang tentara, LBB (Latihan Baris Berbaris). Aku menyukai LBB, apalagi ketika menari saljojo di tengah terik panas, walau temanku Joko terheran-heran melihatku selalu bersemangat tanpa batas. Ya, sederhananya aku suka olahraga ^^. Walau matrikulasi dan LBB mengambil waktu dan aku mulai beradaptasi dengan kehidupan ibukota, rasa-rasanya masih ada yang kurang, yaitu asupan aktivitas religi. Di sinilah awal mula aku bertemu seorang sosok kakak mentor, aku beruntung saat itu unit kegiatan mahasiswa (UKM) menugaskan kakak ini membina kelompokku sebagai mentor mahasiswa baru.

Namanya sangat simpel, Fujiono, asli Cirebon. Aku dan teman-teman memanggilnya “Kak Fuji”. Setelah beberapa kali berinteraksi, saya baru menyadari bahwa kak Fuji ini dikenal oleh penduduk basement hingga lantai 12 gedung kampus kami ^^. Di kantin ia dikenal oleh para penjual dengan panggilan “Ji..Ji”, di lantai 4 tempat para staf kampus dan BKM (Badan Kemakmuran Masjid), ia akrab disapa Fuji. Di jurusan lantai 5 ia pun tak kalah populer dan sangat dikenal. Pembawaannya yang santun dan bersahabat membuat lawan bicara nyaman dan betah berlama-lama bercakap. Hingga hari ini aku dan teman-teman masih sering bercanda, “eh lo dicari kak Fuji tuh!”. Itu adalah candaan ringan kami tentang bagaimana seorang kak Fuji selalu memperhatikan adik-adiknya, jika tak tampak ia tak segan menanyakan kabar kami dan selalu menyapa. Aku ingat di masa-masa awal kuliah, teman-teman satu mentorku yang sungguh bervariasi, ada yang memakai gelang, ada yang gondrong tak karuan, ada perokok berat dan lain-lain. Namun kak Fuji tidak pernah membedakan kami dan selalu membersamai.

Aku masih teringat masa-masa ketika kami juga melakukan wisata islami ke Cipanas, Bogor. Di sana para grup mentor dikumpulkan dan melakukan agenda indoor dan outdoor. Di sanalah masa-masa tak terlupakan bersama teman-teman saling bercanda, bermuhasabah, merenungi alam dan tolong-menolong. Di sana pulalah aku melihat seluruh mentor-mentor yang baik, santun dan selalu membersamai kami para mahasiswa baru. Bagiku sosok kak Fuji adalah kakak, ia juga teman dan sebagai pemberi nasihat. Dari kak Fuji pula aku belajar tentang konsistensi dalam berinteraksi dan beramal. Dalam hidup terkadang kita perlu motivasi-motivasi, dan motivasi itu bagiku datang dari orang-orang yang pernah berinteraksi dan melewati masa-masa tertentu dalam tahapan hidup.

Waktu terus berlalu, kami tak hilang kontak. Kak Fuji melewati beberapa tahun di tanah Ternate, aku mengambil jalan ke Taiwan. Kini ia kembali ke Ibukota sebagai abdi negara, dan akupun begitu kembali ke tanah kelahiran bercita-cita membagi sedikit inspirasi dan berkontribusi, walau hanya secuil. Alhamdulillah tahun 2018 kami bertemu dan bersilaturahim. Semoga Allah swt senantiasa memberikan petunjuk dalam hidupku, agar aku terus sadar bahwa hidup tanpa petunjuk-Nya, pastilah sia-sia.

22. April 2020 by Mr.K
Categories: AiHe | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *